BLITAR - Di tengah kepenindasan pendudukan Jepang tahun 1945 pada masyarakat Indonesia, sebuah percikan api perlawanan muncul dari Blitar.
Pemberontakan yang dinaungi Sudanco Supriadi dan pasukan PETA pada 14 Februari itu secara militer berhasil dipadamkan, namun dampaknya justru menyebar, membakar semangat perlawanan di seluruh penjuru tanah air.
Pemberontakan ini menjadi bukti nyata bahwa rakyat Indonesia tidak lagi diam atas segala penindasan yang terjadi.
Ketika kabar tentang keberanian pasukan PETA menyebar, gelombang solidaritas pun mengalir deras di kalangan pemuda dan kelompok bawah tanah.
Mereka yang selama ini hanya bisa bergumam dalam hati, kini mulai berani bersuara lantang tentang kemerdekaan.
Di balik tembok penjara tempat penahanan para pemberontak PETA, semangat itu justru kian membara.
Tak sedikit dari mereka yang kemudian menjadi kader-kader penting dalam revolusi kemerdekaan.
Pengalaman pahit menghadapi kekejaman Jepang menjadi pengalaman berharga dalam menyusun strategi perlawanan yang lebih matang.
Pengaruh pemberontakan ini terasa begitu kuat dalam beberapa bulan setelahnya.
Ketika Jepang mulai melemah di pertengahan 1945, mantan anggota PETA menjadi garda terdepan dalam mempersiapkan kemerdekaan.
Puncaknya terjadi pada 17 Agustus 1945. Semangat yang pertama kali dikobarkan oleh Supriadi dan pasukannya di Blitar akhirnya berbuah manis.
Proklamasi kemerdekaan dikumandangkan, dan mantan anggota PETA menjadi tulang punggung dalam pembentukan tentara nasional yang baru.
Baca Juga: Blitar Horregh Sukses Digelar: Jadi Ajang Reuni Band Lintas Genre Blitar Raya
Kini, 79 tahun setelah peristiwa itu, warisan Pemberontakan PETA tetap hidup.
Museum PETA di Blitar bukan sekadar monumen, melainkan pengingat akan perjuangan kemerdekaan.
Setiap dindingnya seakan berbicara tentang keberanian sekelompok pemuda yang berani mempertaruhkan nyawa demi sebuah cita-cita murni.
Sejarah ini mengajarkan bahwa dalam perjuangan, kegagalan tak selalu berarti kekalahan. Terkadang justru dari situlah lahir semangat baru yang lebih kuat.
Pemberontakan PETA mungkin gagal di medan tempur, namun menang dalam membangkitkan kesadaran nasional yang menjadi pondasi kemerdekaan Indonesia.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.