BLITAR – Bangunan Candi Penataran bukan sekadar situs sejarah biasa. Candi Penataran dikenal sebagai salah satu candi terbesar di Jawa Timur, menyimpan sejarah peradaban di masa lalu, mulai dari era Kadiri (abad ke-12) hingga puncak keemasan Majapahit (abad ke-14).
Berdasarkan prasasti dan inskripsi yang ditemukan, candi ini menjadi bukti nyata transformasi antara politik, religi, dan seni arsitektur Nusantara.
Salah satu relief tertua pada Candi Penataran adalah Prasasti Palah (1119 Saka/1197 Masehi) dari masa Raja Kertajaya (raja terakhir Kadiri).
Prasasti ini menjelaskan bahwa Empu Iswara Mapanji Jagawata dihormati karena rutin melakukan ritual pemujaan di Batara di Palah—nama kuno Penataran sebelum berganti nama.
Fakta ini mengindikasikan bahwa Penataran awalnya adalah tempat pemujaan Dewa Siwa sebelum berkembang menjadi kompleks percandian megah di era Majapahit.
Saat memasuki kompleks, pengunjung akan disambut dua arca Rapala (Dwarapala) yang menjadi penanda gerbang.
Di alasnya terdapat inskripsi angka tahun 1242 Saka (1320 Masehi)—menandakan masa pemerintahan Raja Jayanegara dari Majapahit.
Selain itu, terdapat pula angka tahun 1291 Saka (1369 Masehi) di Candi Angka Tahun, yang mengarah pada era Hayam Wuruk.
Ini membuktikan bahwa Penataran terus diperluas dan dirawat sebagai pusat spiritual kerajaan.
Menurut naskah Bujangga Manik dan Kakawin Nagarakretagama, Penataran bukan hanya tempat ibadah, tapi juga mandala (pusat pendidikan agama).
Para brahmana dan cendekiawan datang untuk mempelajari kitab suci dan filsafat.
Raja Hayam Wuruk bahkan disebutkan rutin berkunjung setiap tahun untuk melakukan ritual keagamaan, menguatkan posisi Penataran sebagai situs strategis di masa kejayaan Majapahit.
Candi Panataran memiliki gaya arsitektur unik dengan menggabungkan struktur bata khas Kadiri pada bagian bawah, terdapat jenis batu andesit khas Kerajaan Majapahit di bagian atas, serta tersedia relief Ramayana dan Kresnayana yang dibaca dengan arah berbeda (prasawya dan prawira).
Candi Naga, dengan simbol naga Basuki yang melilit, merepresentasikan mitologi Samudra Manthan dalam kosmologi Hindu.
Dari era Kadiri hingga era Majapahit, situs ini tetap menjadi simbol persatuan religi dan budaya. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.