Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Ikan Dewa dan Gerbang Gaib: Legenda yang Hidup di Telaga Rambut Monte

Axsha Zazhika • Minggu, 13 Juli 2025 | 04:00 WIB
Ikan Dewa dan Gerbang Gaib: Legenda yang Hidup di Telaga Rambut Monte
Ikan Dewa dan Gerbang Gaib: Legenda yang Hidup di Telaga Rambut Monte

BLITAR – Tersembunyi di dataran tinggi Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, terdapat sebuah telaga yang bukan hanya memukau secara visual, tetapi juga menyimpan kisah-kisah mistis yang menegangkan sekaligus memikat. Telaga itu bernama Rambut Monte—sebuah kawasan sakral yang dikenal sebagai rumah dari ikan-ikan dewa dan dipercaya sebagai gerbang menuju alam gaib.

Terletak sekitar 36 kilometer dari pusat Kota Blitar, Telaga Rambut Monte dikelilingi pepohonan rimbun dan airnya begitu jernih berwarna toska.

Namun, keindahan telaga ini hanya satu dari sekian daya tariknya. Yang membuat Rambut Monte istimewa adalah kepercayaan masyarakat akan makhluk-makhluk gaib dan mitos ikan suci yang hidup di dalamnya.

Baca Juga: Ngantuk Setelah Makan? Bukan Diabetes, Mungkin Kamu Begadang Nonton MU

Dalam kepercayaan masyarakat sekitar, ikan-ikan yang mendiami Telaga Rambut Monte adalah “ikan dewa”, makhluk suci yang diyakini sebagai peliharaan para leluhur atau bahkan para dewa. Ikan-ikan ini, yang dikenal sebagai ikan sengkaring, memiliki tubuh besar, bersisik tebal, dan hidup tenang di dalam telaga.

Larangan untuk menangkap atau mengganggu ikan-ikan ini bukan sekadar aturan tak tertulis, tetapi bagian dari sistem kepercayaan yang sudah berlangsung selama ratusan tahun. Siapa pun yang berani melanggar, konon akan mendapat musibah, kesialan, hingga sakit berkepanjangan.

“Saya pernah didatangi orang tua yang anaknya sakit selama sebulan. Setelah ditelusuri, ternyata anaknya pernah bermain di telaga dan melempari ikan dengan batu.

Baca Juga: Liburan Sekolah Seru di Blitar: Ini 6 Rekomendasi Tempat Wisata Edukatif dan Menyenangkan untuk Keluarga

Lalu dia disarankan menebus kesalahan di sini. Setelah melakukan ritual, alhamdulillah sembuh,” ujar juru pelihara Rambut Monte kepada BlitarKawentar.

Salah satu cerita yang paling sering diceritakan turun-temurun adalah kisah daging ikan yang berubah menjadi minyak. Konon, ada seseorang yang menemukan seekor ikan sengkaring hanyut dan memutuskan memasaknya di rumah. Namun, hal aneh pun terjadi.

“Ikan itu setelah dimasak, dagingnya justru hilang. Yang tersisa hanya air dan minyak. Tidak ada daging sama sekali, hanya duri dan kepala ikan. Sejak itu orang-orang makin yakin bahwa ikan ini tidak bisa dimakan,” ungkap warga setempat yang mengaku pernah mendengar cerita itu langsung dari keluarganya.

Baca Juga: Santan Bikin Liver K.O.? Ini Penjelasan Ilmiahnya dari dr Tirta Blitar

Kisah-kisah seperti ini menyebar dari mulut ke mulut dan menjadi bagian tak terpisahkan dari narasi sakral Rambut Monte. Kepercayaan tersebut memperkuat larangan untuk menangkap atau menyentuh ikan sembarangan.

Tidak hanya tentang ikan dewa, Rambut Monte juga diyakini menyimpan gerbang ke dunia gaib, khususnya yang terhubung dengan kerajaan pantai selatan. Di tengah telaga terdapat sebuah pusaran air kecil yang oleh sebagian orang diyakini sebagai jalur gaib ke alam lain.

“Katanya telaga ini punya hubungan khusus dengan kerajaan ghaib di Pantai Selatan. Sumber air di tengah telaga itu dipercaya sebagai gerbangnya,” ujar salah satu warga yang tinggal dekat kawasan wisata.

Baca Juga: Donor Darah Bikin Tekanan Turun? Ini Penjelasan Medis dari dr Tirta Blitar

Meski belum ada bukti fisik, cerita-cerita ini memperkuat aura mistis yang menyelimuti kawasan Rambut Monte. Banyak pengunjung yang mengaku merinding ketika berada terlalu dekat dengan bagian tengah telaga, apalagi saat senja menjelang.

Menurut Nisma, seorang penyuluh perikanan, ikan sengkaring yang disebut masyarakat sebagai ikan dewa sebenarnya adalah spesies asli Nusantara yang hidup di perairan jernih, tenang, dan mengalir. Meski secara biologis ikan ini tidak beracun dan bisa dikonsumsi, keberadaannya yang semakin langka membuatnya dilindungi, baik secara kultural maupun ekologis.

“Ikan sengkaring ini memang bisa dimakan, tapi karena sudah langka, masyarakat dilarang mengonsumsinya. Di Rambut Monte, larangan itu justru diperkuat oleh kepercayaan mistis sehingga ekosistem di dalam telaga terjaga,” jelas Nisma.

Baca Juga: Jejak Freemason di Perkebunan Karanganyar Blitar: Misteri Simbol dan Nama-Nama dari Masa Kolonial

Dengan demikian, mitos dan kepercayaan lokal secara tidak langsung berperan dalam konservasi spesies langka ini. Ini menjadi bukti bahwa budaya dan pelestarian alam bisa berjalan beriringan.

Di tengah arus modernisasi dan informasi, kepercayaan masyarakat terhadap hal-hal gaib di Rambut Monte tetap lestari. Bagi sebagian orang, cerita-cerita itu mungkin terdengar seperti legenda. Tapi bagi warga sekitar, mitos tersebut adalah bagian dari warisan leluhur yang harus dihormati.

Hal inilah yang membuat Telaga Rambut Monte bukan hanya sekadar objek wisata alam, melainkan ruang spiritual dan budaya yang hidup. Setiap cerita yang berkembang menjadi pengingat bahwa manusia tak bisa sembarangan memperlakukan alam, apalagi tempat-tempat yang dianggap sakral.

Baca Juga: Bukit Teletubis Blitar: Wisata Alam, Swafoto, dan Wahana Seru dalam Satu Tempat

Bagi wisatawan yang tertarik berkunjung ke Telaga Rambut Monte, penting untuk datang dengan rasa hormat terhadap alam dan kepercayaan lokal. Jangan mencoba menangkap ikan, berenang, atau bersikap sembrono di sekitar telaga.

Telaga Rambut Monte bukan hanya tempat untuk dilihat, tapi juga untuk dihargai. Sebuah refleksi tentang bagaimana manusia, alam, dan dunia tak kasat mata saling terhubung dalam harmoni yang tak bisa dijelaskan logika semata.

Editor : Anggi Septian A.P.
#kisah #blitar #Suci #ikan #Ikan Dewa #mistis #telaga #rambut monte