Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengapa Tak Boleh Mandi di Telaga Rambut Monte? Ini Penjelasannya

Axsha Zazhika • Minggu, 13 Juli 2025 | 02:30 WIB
Mengapa Tak Boleh Mandi di Telaga Rambut Monte? Ini Penjelasannya
Mengapa Tak Boleh Mandi di Telaga Rambut Monte? Ini Penjelasannya

BLITAR – Airnya bening kehijauan, mengalir tenang di tengah pepohonan yang rimbun. Pesona Telaga Rambut Monte di Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang menginginkan ketenangan dan keindahan alami.

Namun, di balik kejernihan air yang menggoda untuk berenang, tersimpan larangan keras. Dilarang mandi di telaga ini.

Larangan ini bukan sekadar mitos atau kepercayaan turun-temurun belaka, tapi juga menjadi wujud nyata toleransi antarumat beragama, terutama sebagai bentuk penghormatan terhadap umat Hindu yang menggunakan air telaga untuk keperluan sakral.

Baca Juga: Puluhan SMP Negeri di Kabupaten Blitar tak Penuhi Pagu, Dispendik Ungkap Penyebabnya

Telaga Suci, Bukan Kolam Renang

Rambut Monte bukanlah telaga biasa. Bagi masyarakat sekitar dan umat Hindu, telaga ini memiliki nilai kesucian yang tidak bisa diganggu gugat. Dalam beberapa upacara keagamaan, air dari Telaga Rambut Monte digunakan sebagai air penyucian atau tirta, sebuah elemen penting dalam ritual Hindu sebelum melakukan sembahyang atau persembahan.

“Air telaga ini suci, digunakan untuk upacara agama Hindu. Jadi kita tidak boleh sembarangan mandi atau bermain air di dalamnya,” ujar juru pelihara kawasan Rambut Monte, saat ditemui tim BlitarKawentar.

Pelarangan ini tidak hanya datang dari pengelola tempat atau warga sekitar, tapi juga telah menjadi semacam konsensus budaya yang dijaga bersama oleh masyarakat desa. Mandi di telaga dianggap tidak hanya merusak kesakralan tempat, tapi juga bentuk tidak hormat terhadap keyakinan umat lain.

Baca Juga: Jalur Pendakian Karangrejo Akan Ditutup Selama Enam Hari, Ini Alasannya

Antara Keyakinan, Mitos, dan Kearifan Lokal

Larangan mandi juga didukung oleh cerita-cerita mistis yang berkembang di masyarakat. Konon, mereka yang melanggar pantangan ini akan mengalami musibah, baik berupa sakit mendadak, kesialan, hingga gangguan gaib. Salah satu warga bahkan menceritakan pengalamannya:

“Kakak saya pernah mandi di telaga, pulangnya langsung sakit. Enggak sembuh-sembuh sampai akhirnya datang ke sini lagi, bawa ganti baju dan ayam untuk larung. Setelah itu baru sembuh,” kisahnya.

Meskipun cerita ini terdengar magis, namun bagi masyarakat lokal, pantangan tersebut dijadikan penguat budaya untuk menjaga sakralitas tempat. Ini merupakan bentuk nyata dari kearifan lokal—yakni cara masyarakat menjaga harmoni antara manusia, alam, dan spiritualitas.

Baca Juga: Jejak Bung Karno, Theosofi, dan Larangan Freemason: Ketegangan Ideologis Sang Proklamator

Toleransi yang Hidup dalam Budaya

Telaga Rambut Monte menjadi contoh hidup bagaimana nilai-nilai toleransi bisa tumbuh alami dari masyarakat, tanpa perlu aturan tertulis atau pemaksaan. Masyarakat sekitar yang mayoritas beragama Islam tetap menghormati dan menjaga kebersihan telaga karena tahu bahwa saudara-saudara mereka dari umat Hindu menjadikan air telaga sebagai bagian penting dalam ritual suci.

“Kami memang tidak ikut ritualnya, tapi kami jaga tempat ini karena ini tempat ibadah juga. Kita saling menghormati,” ujar salah satu tokoh pemuda di Desa Krisik.

Telaga ini telah menjadi ruang bersama yang sakral, bukan hanya secara spiritual, tapi juga sebagai simbol kerukunan antaragama yang berjalan secara alami. Tidak ada larangan berkunjung atau menikmati keindahan alamnya, selama tetap menjaga sikap dan menghormati nilai-nilai yang ada.

Baca Juga: Makam W. Smith dan Simbol Latin Misterius: Jejak Tersembunyi di Perkebunan Karanganyar Blitar

Kebudayaan Lokal sebagai Pilar Toleransi

Apa yang terjadi di Telaga Rambut Monte sejalan dengan semangat Bhineka Tunggal Ika—berbeda-beda tetapi tetap satu. Kearifan lokal masyarakat Blitar dalam menjaga sakralitas tempat ini menjadi pilar penting toleransi budaya dan agama di tengah zaman yang semakin modern.

Budaya seperti ini juga seharusnya menjadi contoh di tempat-tempat lain, di mana ruang-ruang suci lintas agama masih dijaga bersama, bukan diperebutkan. Dalam konteks pariwisata, ini juga menunjukkan bahwa wisata dan kepercayaan bisa berjalan berdampingan, asalkan semua pihak memahami batas dan nilai yang dijunjung.

Telaga yang Dihormati, Bukan Dipakai Bermain

Dalam konteks wisata, banyak pengunjung yang datang dari luar kota sering kali tidak mengetahui larangan mandi di telaga ini. Beberapa bahkan nekat turun untuk sekadar bermain air, tanpa memahami konteks budaya dan keagamaan di balik tempat tersebut. Karena itu, edukasi bagi wisatawan sangat diperlukan.

Baca Juga: WC Bukan Warkop: Bahaya Duduk Lama Sambil Ngerokok dan Main Game

Beberapa pengelola dan tokoh masyarakat telah meminta agar dibuat papan informasi yang menjelaskan makna larangan mandi, bukan hanya dalam konteks mitos, tetapi juga toleransi dan penghormatan keagamaan. Edukasi ini penting agar wisatawan tidak hanya datang untuk berswafoto, tetapi juga belajar nilai-nilai kearifan lokal yang hidup di masyarakat.

Lebih dari Sekadar Larangan

Larangan mandi di Telaga Rambut Monte bukan tentang membatasi aktivitas wisata, melainkan tentang memahami makna di balik sebuah tempat sakral. Ini adalah pelajaran penting bahwa toleransi bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti tidak mandi di telaga, menjaga kebersihan, dan menghormati ritual umat lain.

“Kalau cuma ingin basah-basahan, lebih baik cari tempat lain. Rambut Monte ini bukan kolam renang, tapi telaga suci yang harus dijaga,” pesan salah satu warga setempat.

Baca Juga: Bau Badan Bukan Kutukan Genetik, Tapi Gaya Hidup Kemproh

Rambut Monte, Simbol Damai dari Lereng Gunung

Terletak di antara Gunung Kelud dan Gunung Kawi, Rambut Monte bukan hanya suguhan alam dan cerita rakyat, tapi juga simbol perdamaian dan hidup berdampingan yang nyata. Keindahan telaga ini makin lengkap dengan nilai luhur yang dijaga oleh masyarakatnya.

Bagi siapa pun yang datang ke sini, bukan hanya membawa pulang foto atau cerita, tapi juga membawa pulang pesan penting tentang bagaimana sebuah masyarakat bisa hidup dalam toleransi dan saling menghargai—di tengah keberagaman kepercayaan.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Mitos #berenang #kepercayaan budaya #larangan #wisata #telaga #rambut monte