BLITAR – Goa Selomangleng melekat pada kisahnya bersama Dewi Kilisuci. Goa ini dulunya berfungsi sebagai pusat ritual pemujaan Dewa Wisnu sejak abad 12 hingga 15 Masehi.
Gua ini menjadi situs penting sebagai tempat pertapaan religi di era Kadiri-Majapahit.
Pada dasar Goa, terdapat batu altar terbelah dengan inskripsi angka tahun 1353 Saka (1431 Masehi).
Menurut analisis paleografis, gaya pahatan angka ini konsisten dengan periode akhir Majapahit. Altar ini digunakan sebagai tempat meletakkan sesaji ketika melakukan ritual pemujaan.
Tahun 1431 M menunjukkan gua masih aktif digunakan 3 abad setelah pembuatannya.
Dikutip dari video youtube Prodi Sejarah Unair, Dr. Aris Soviyani, seorang arkeolog BPCB Jatim menjelaskan:
“Ini membuktikan Selomangleng bukan candi tapi mandapa (ruang ritual) yang dipakai lintas generasi.”
Pada dinding Goa terdapat bekas pahatan relief Garuda membelit Ular – sebagai ikon khas kendaraan Dewa Wisnu.
Temuan ini memperkuat teori yang berkaitan dengan aliran Waisnawa. Paruh Garuda menghadap kiri menandakan penyelamatan dari kejahatan.
Ular yang dicengkeram merepresentasikan kekuatan chaos berhasil ditaklukkan.
Goa ini memiliki 4 ruang multifungsi dengan ciri khas ruang pemujaan, ruang pertapaan, dan pintu kayu.
Pada dinding goa, terdapat aksara Jawa Kuno yang terbaca "Ga-Ja-Ta". Paleografer menduga ini berasal dari abad ke-12, sezaman dengan prasasti Mungut yang menyebut aktivitas keagamaan era Airlangga.
Kuatnya simbol Wisnu di gua ini mengarah pada kemungkinan keterkaitan dengan Raja Airlangga yang kerap diidentikkan sebagai titisan Wisnu.
Namun, para ahli masih memperdebatkan apakah gua ini dibangun atas perintahnya atau masyarakat penyembah Wisnu.
"Garuda di sini mungkin inspirasi untuk arca Airlangga sebagai Wisnu yang ditemukan di Candi Belahan," tambah Dr. Aris. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.