BLITAR – Gua Selomangleng di Kediri menyimpan teka-teki sejarah yang belum terjawab hingga kini.
Situs purbakala ini tidak hanya menarik karena arsitekturnya yang unik, tetapi juga karena legenda Kilisuci yang begitu melekat.
Gua Selomangleng terdiri dari dua bagian: ruang pemujaan dan ruang pertapaan. Di dindingnya, terdapat pahatan Garuda yang menjadi simbol pemujaan Dewa Wisnu.
Batu altar dengan inskripsi tahun 1431 Masehi menjadi bukti bahwa gua ini masih beroperasi hingga masa Majapahit.
Yang lebih menarik adalah ruangan sempit di bagian dalam. Ruangan ini diduga digunakan untuk bertapa, dan di sinilah legenda Kilisuci bermula.
Masyarakat Kediri percaya bahwa Kilisuci adalah seorang putri bangsawan yang meninggalkan kehidupan istana untuk bertapa.
Beberapa sejarawan menduga ia adalah Sanggramawijaya Tunggadewi, putri Raja Airlangga yang memilih hidup sebagai pertapa.
Namun, bukti arkeologis tentang hal ini masih minim. Tidak ada prasasti atau relief yang secara jelas menyebutkan nama Kilisuci.
Meski belum terbukti secara ilmiah, legenda Kilisuci tetap hidup di masyarakat. Setiap tahun, gua ini ramai dikunjungi wisatawan yang penasaran dengan kisah sang pertapa.
Beberapa bahkan datang untuk bermeditasi, mengikuti jejak Kilisuci yang konon mencapai pencerahan di tempat ini.
Gua Selomangleng kini menghadapi ancaman kerusakan. Beberapa bagian pahatan mulai memudar, dan vandalisme menjadi masalah serius.
Pemerintah setempat berupaya menjaga situs ini sembari mempertahankan daya tarik wisatanya.
Gua Selomangleng tetap menjadi misteri. Apakah Kilisuci benar-benar ada? Atau ia hanya sekadar legenda yang sengaja dipelihara?
Jawabannya mungkin masih tersembunyi di balik dinding batu gua yang telah berusia ratusan tahun ini. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.