BLITAR – Di sekitar perbukitan tinggi Blitar Selatan, berdiri sebuah monumen sejarah yang menjadi saksi bisu tragedi operasi militer terbesar pasca pemberontakan G30SPKI.
Monumen ini bernama Monumen Trisula, bukan sekadar bangunan biasa. Melainkan setiap detail arsitekturnya dirancang penuh makna, mulai dari jumlah anak tangga, pilar, hingga arah hadapnya.
Monumen Trisula terletak di Desa Bakung, Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar bagian selatan.
Bagi warga Desa Bakung, monumen ini dibangun sebagai simbol perlawanan terhadap ideologi yang pernah mencoba mengelabuhi Indonesia.
Monumen Trisula dibangun pada tahun 1968, tepat setelah Operasi Trisula berhasil menumpas sisa-sisa PKI di Blitar Selatan.
Operasi ini dipimpin oleh Kolonel Witarmin dari Kodam Brawijaya, dengan dukungan pasukan darat, udara, dan laut.
Biaya pembangunannya saat itu mencapai Rp7 juta sebelum terkena inflasi biaya tersebut sangatlah besar.
Arsiteknya, Bambang Susilo, merancang monumen ini dengan penuh perhitungan filosofis agar generasi mendatang tak melupakan sejarah kelam tersebut.
Setiap arsitekturnya memiliki filosofi mendalam, yakni:
- 45 Anak Tangga
Jumlah anak tangga yang 45 melambangkan tahun Proklamasi Kemerdekaan (1945). Setiap langkah naik ke monumen diharapkan mengingatkan pada perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
- 17 Pilar Putih
Pilar berjumlah 17 ini merepresentasikan tanggal kemerdekaan Indonesia (17 Agustus). Pilar-pilar ini juga melambangkan kekuatan dan persatuan.
- Lantai Dasar Berbentuk Pancasila
Monumen ini berdiri di atas dasar berbentuk Pancasila, menegaskan bahwa operasi penumpasan PKI dilakukan untuk mempertahankan ideologi negara.
- Menghadap ke Barat
Arah hadap monumen sengaja dibuat ke barat (kiblat) sebagai simbol agar masyarakat senantiasa mengingat Tuhan dan tidak terjerumus ke paham atheis seperti PKI.
- Nama Trisula
Nama ini diambil dari operasi militer yang menggabungkan tiga kekuatan darat, laut, dan udara mirip dengan senjata trisula dalam mitologi.
Monumen Trisula adalah peringatan agar sejarah kelam PKI tidak terulang. Di era digital ini, ancaman radikalisme dan hoaks bisa sama bahayanya dengan propaganda PKI dulu. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.