BLITAR – Pendopo Ronggo Hadi Negoro (RHN), bangunan bersejarah di sebelah utara Alun-Alun Blitar, kini resmi dibuka untuk umum setiap Minggu pagi.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Blitar dalam menggali dan memperkenalkan potensi wisata berbasis sejarah dan budaya lokal kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda.
Kepala Disbudpar Kabupaten Blitar, Suhendro Winarso mengatakan, pendapa yang sarat nilai historis ini akan menjadi ruang edukasi, wisata budaya, sekaligus tempat silaturahmi masyarakat.
“Pendapa ini bukan sekadar rumah dinas bupati, tapi karena cagar budaya memiliki bobot sejarah yang luar biasa, banyak inspirasi yang bisa digali dari sini,” ujarnya.
Mulai Mei lalu, pendapa telah kembali menghidupkan aktivitas kesenian seperti latihan tari oleh Sanggar Tari Pendopo.
Kegiatan seni ini sebelumnya sempat pindah ke lokasi lain dan kini telah kembali difokuskan di kawasan RHN.
Suhendro menambahkan bahwa ke depan juga membentuk Badan Promosi Pariwisata Daerah (Bapporda) untuk mengembangkan paket-paket wisata, termasuk menjadikan Pendopo RHN sebagai salah satu destinasi unggulan setiap akhir pekan.
“Nanti ada pemandu profesional dan Gus-Jeng (Duta Wisata) yang akan menemani pengunjung. Mereka akan menjelaskan nilai-nilai sejarah dan filosofi pendapa ini,” ujarnya.
Tak hanya itu, Bupati Blitar juga merestui agar kegiatan seni seperti klenengan (gamelan) dan macapat (tembang Jawa) digelar rutin di Pendopo RHN setiap malam Rabu Pahing dan Jumat Legi atau setiap 35 hari sekali.
Tujuannya adalah menciptakan ruang kebersamaan dan membangkitkan kembali tradisi lokal yang mulai tergerus zaman.
“Sekarang ini silaturahmi antarwarga makin jarang karena sibuk dengan gawai. Lewat kegiatan seperti klenengan dan macapat, kami ingin menghadirkan suasana guyub yang hangat,” lanjutnya.
Suhendro berharap dengan dibukanya Pendopo RHN untuk umum dan kembalinya aktivitas seni budaya di dalamnya, generasi muda bisa lebih mengenal akar sejarahnya, menumbuhkan rasa bangga, dan memetik pelajaran dari nilai-nilai leluhur.
“Kami ingin tempat ini menjadi ruang belajar yang hidup, bukan hanya dari buku, tapi lewat pengalaman langsung. Ini bagian dari cara kita mencintai Blitar,” pungkasnya. (jar/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah