BLITAR - Di tengah modernisasi, kesenian jaranan justru masih tetap digandrungi oleh generasi muda. Bukan sekadar tontonan, melainkan juga menjadi bagian dari kehidupan yang tidak terpisahkan.
Itulah yang ingin dimunculkan oleh Paguyuban Jaranan New Devil. Paguyuban ini jadi simbol perlawanan pudarnya tradisi.
Di utara parkiran Makam Bung Karno, tepatnya di Kelurahan Sentul, Kecamatan Kepanjenkidul, masih tersisa semangat budaya tradisional yang terus menyala.
Bahkan, para pegiat dan pemain jaranan adalah anak-anak sekolah, meskipun motornya tetap ada sesepuh yang mendampingi.
Tak pelak, antusiasme anak-anak muda membuat budaya nenek moyang ini tetap ramai dan terus ada.
“Di sini, jaranan itu sudah jadi bagian dari kehidupan. Sudah dari dulu, dan sampai sekarang masih terus hidup,” ujar salah satu sesepuh sekaligus pembina Paguyuban Jaranan New Devil, Heru Capar.
Semangat yang bergelora itulah yang menjadi inspirasi lahirnya Paguyuban Jaranan New Devil yang dibentuk dan digerakkan oleh para pelajar. Mulai dari anak-anak SD, SMP, bahkan hingga siswa SMA.
“Sanggar ini menjadi ruang ekspresi sekaligus penjaga tradisi di tengah era digital. Saat ini ada 9 anak SD yang aktif, 18 anak SMP, hingga siswa remaja lulusan SMA yang jumlahnya cukup banyak,” ujarnya.
Paguyuban jaranan ini menggelar latihan rutin setiap Jumat malam.
Selain latihan rutin, ini juga untuk mempersiapkan berbagai undangan pentas yang datang. Undangan bermain di kegiatan-kegiatan budaya, seperti acara bersih desa atau pihak pelestari kesenian jaranan.
Namun, perjalanan mereka tak selalu mulus. Saat pandemi Covid-19 melanda lalu, gairah pentas jaranan sempat menurun drastis.
Pembatasan sosial membuat pementasan yang biasanya berlangsung hingga subuh harus dibatasi maksimal pukul 12 malam. Alhasil, jumlah penonton dan minat masyarakat juga ikut menurun.
“Tapi beda cerita kalau bicara New Devil, setelah pandemi, ya sama aja, munggah ya ndak, medun ya ndak. Stabil, anak-anak tetap semangat latihan, baik akan tampil maupun tidak,” akunya.
Selain karena para pemainnya mayoritas adalah pelajar, sanggar ini juga dikenal karena pendekatan mereka yang lebih menonjolkan unsur seni tari, bukan mistis.
Hal ini menjadi pembeda mencolok dibanding dengan paguyuban jaranan lain yang kerap dikaitkan dengan unsur spiritual dan kesurupan.
“Kadang memang orang menilai jaranan itu negatif karena ada yang kesurupan. Tapi di New Devil, kami fokuskan ke tariannya, bukan hal-hal mistisnya,” tegas salah satu alumnus sanggar, Ridho Ramadhan.
Pendekatan itu, tutur Ridho, ternyata lebih efektif dan lebih menarik minat Gen Z.
Anak-anak muda lebih tertarik melihat koreografi, kostum, dan irama musik yang atraktif, dibandingkan adegan kesurupan yang menakutkan.
Jaranan New Devil telah menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap pudarnya tradisi.
Di tangan generasi muda, seni ini bukan hanya dipertahankan, melainkan juga dikembangkan agar selaras dengan zaman.
“Di balik derap kaki kuda lumping dan lantunan gamelan, ada tekad kuat untuk membuktikan bahwa budaya bukan hanya milik masa lalu, tapi juga masa depan,” tandasnya. (*/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah