Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Fakta Desil dan Prioritas Penerima PIP: Tidak Semua dari Keluarga Miskin Dapat Bantuan

Ichaa Melinda Putri • Senin, 21 Juli 2025 | 20:30 WIB
Fakta Desil dan Prioritas Penerima PIP: Tidak Semua dari Keluarga Miskin Dapat Bantuan
Fakta Desil dan Prioritas Penerima PIP: Tidak Semua dari Keluarga Miskin Dapat Bantuan

BLITAR— Banyak masyarakat mengira bahwa semua siswa dari keluarga tidak mampu otomatis mendapatkan bantuan pendidikan melalui Program Indonesia Pintar (PIP). Namun, nyatanya, sistem desil PIP menentukan siapa yang masuk prioritas penerima bantuan dan siapa yang tidak. Penjelasan ini disampaikan dalam salah satu video edukatif channel Gua Rahman, yang dikenal luas sebagai rujukan pengecekan status PIP siswa.

Rahman menyampaikan bahwa tidak semua prioritas siswa miskin masuk dalam data usulan penerima bantuan. Pemerintah menggunakan sistem desil 1 hingga 10, yang berasal dari Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), untuk menentukan tingkat kemiskinan dan kelayakan siswa dalam program bantuan.

“Misalnya, ada siswa yang masuk desil 6 ke atas, itu biasanya sudah dianggap cukup mampu. Yang diutamakan adalah yang berada di desil 1 sampai 5. Ini yang sering orang tua tidak tahu, padahal anaknya termasuk dalam keluarga menengah,” ujar Rahman dalam video terbarunya.

Baca Juga: Cek Status Nominasi PIP 2025 Sekarang di pip.kemdikbud.go.id, Jangan Sampai Terlewat

Apa Itu Desil dan Kenapa Penting dalam PIP?

Desil adalah pembagian data dalam sepuluh kelompok yang mencerminkan tingkat kesejahteraan suatu rumah tangga. Desil 1 adalah kelompok termiskin, sedangkan desil 10 adalah kelompok paling sejahtera. Pemerintah melalui Kemensos menggunakan data ini untuk menyusun program-program bantuan sosial secara lebih terarah, termasuk dalam program PIP.

Dengan sistem ini, hanya siswa dari keluarga yang masuk dalam desil 1 hingga 5 yang berpeluang besar untuk diusulkan menerima bantuan pendidikan PIP. Sedangkan siswa dari desil 6 ke atas akan dipertimbangkan secara lebih selektif, bahkan bisa jadi tidak masuk prioritas sama sekali.

“Inilah alasan mengapa ada siswa yang merasa miskin tapi tidak dapat bantuan. Ternyata datanya di DTKS mencatat mereka masuk desil 6, 7, atau bahkan lebih,” jelas Rahman.

Baca Juga: PIP Sudah Cair atau Belum? Ini 4 Cara Cek Tanpa Ribet, Bisa Lewat HP!

Channel Gua Rahman Bantu Menjawab Kebingungan Publik

Di tengah minimnya informasi resmi yang mudah dipahami masyarakat, channel Gua Rahman menjadi jembatan pemahaman bagi siswa dan orang tua. Dalam konten videonya, ia tidak hanya melakukan pengecekan nama-nama siswa penerima bantuan, tapi juga memberi penjelasan edukatif seperti mekanisme desil PIP, pentingnya centang “Layak PIP” dari sekolah, hingga alur aktivasi rekening bank penerima.

Banyak penonton channel ini yang mengaku baru tahu bahwa ada sistem klasifikasi kesejahteraan seperti desil, dan bahwa status desil mereka berpengaruh langsung terhadap penerimaan bantuan.

“Dulu saya pikir semua anak dari keluarga tidak mampu bisa langsung dapat PIP. Tapi ternyata tergantung data desil dan verifikasi dari sekolah juga,” komentar seorang netizen di video pengecekan terbaru.

Baca Juga: Dulu Aspal, Kini Sekolah: Bro Ron Kembali Gas Kasus PIP dan Mafia Pendidikan

Peran Sekolah Masih Jadi Penentu Utama

Meskipun data desil jadi acuan utama, pihak sekolah tetap memiliki peran penting dalam mengusulkan siswa sebagai calon penerima. Salah satu indikatornya adalah checkbox “Layak PIP” dalam aplikasi Dapodik yang diisi oleh operator sekolah. Jika siswa tidak dicentang layak, maka meski masuk desil 1–5, tetap saja tidak akan masuk nominasi.

“Jadi jangan cuma andalkan data kemiskinan. Harus aktif juga minta pihak sekolah agar mengusulkan nama kalian,” tegas Rahman.

Rahman menyarankan agar siswa atau orang tua tidak ragu berkomunikasi dengan wali kelas atau operator sekolah terkait status pengusulan. Apalagi jika siswa baru pindah sekolah atau naik jenjang, seperti dari SMP ke SMK. Dalam kondisi tersebut, data harus diperbarui dan usulan harus dibuat ulang.

Baca Juga: Dana PIP Raib di Tangan Oknum? Broron: Ini Hak Anak, Bukan ATM Sekolah!

Penerima Bantuan Masih Bisa Berubah

Dalam salah satu pengecekan, Rahman juga menemukan bahwa status penerimaan bisa berubah antar tahun. Misalnya, siswa seperti Fahri Al Rizki yang semula mendapat bantuan saat di SMP, kini tidak muncul lagi saat sudah SMK. Alasannya, selain belum diusulkan oleh sekolah baru, data desil-nya bisa jadi sudah berubah.

“Banyak yang lupa kalau data desil diperbarui tiap tahun. Bisa jadi dulu desil 3, sekarang sudah naik ke desil 6 karena kondisi ekonomi dianggap membaik,” ungkap Rahman.

Transparansi dan Edukasi Masih Jadi PR Bersama

Dengan jutaan siswa bergantung pada bantuan PIP untuk melanjutkan pendidikan, Rahman berharap pemerintah dan sekolah bisa lebih transparan dan aktif dalam memberikan informasi. Ia juga mengajak media sosial, khususnya YouTube edukatif, menjadi ruang informasi yang sehat dan solutif.

Baca Juga: Kota Blitar Waspada Malaria, Empat Kelurahan Mulai Terindikasi

“Daripada hanya mengeluh, lebih baik cari tahu dan belajar. Setidaknya kalau tidak dapat bantuan, kita tahu alasannya secara logis,” pesannya kepada para penonton.

Kesimpulan: Cek Desil, Komunikasi dengan Sekolah, dan Jangan Asumsi Sendiri

Jika bantuan PIP tidak kunjung diterima, jangan langsung menyalahkan sistem. Bisa jadi siswa masuk dalam desil tinggi yang tidak termasuk prioritas siswa miskin, atau tidak diusulkan sekolah. Cek desil bisa dilakukan melalui aplikasi atau menghubungi pihak kelurahan/desa.

Channel seperti Gua Rahman membuktikan bahwa edukasi publik bisa dilakukan dengan cara yang sederhana, rutin, dan bermanfaat. “Saya cuma bantu menjelaskan dan menyampaikan. Sisanya, kembali ke data masing-masing,” tutupnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#siswa #pip #Desil #prioritas #pengecekan #miskin