KABUPATEN BLITAR – Sekilas tak banyak yang tahu bahwa di balik sejuknya hamparan kebun teh Kulon Mbambang di Kecamatan Doko, tersembunyi sebuah sekolah negeri kecil: SMP Negeri 3 Doko.
Sekolah ini kini ramai diperbincangkan publik setelah video aksi bullying antar siswa viral di media sosial.
Namun di balik insiden tersebut, ada kisah panjang tentang keterpencilan, keterbatasan, dan kondisi sosial yang jarang tersorot dari sekolah-sekolah seperti ini.
Letaknya yang terpencil dan jumlah siswa yang sangat minim menjadi gambaran nyata bagaimana pendidikan di pinggiran Blitar masih menghadapi tantangan serius.
Berada di Ujung Perkebunan Teh
SMPN 3 Doko terletak di Desa Sumber Urip, Kecamatan Doko, Kabupaten Blitar. Lokasi sekolah ini berbatasan langsung dengan kawasan kebun teh Kulon Mbambang, serta area yang tengah dikembangkan menjadi POM Tiga Greenfield, sebuah kawasan industri susu berskala besar.
Dulunya, sekolah ini merupakan SMP Satu Atap (Satap)—yang artinya satu lembaga dengan SD di lokasi yang sama karena keterbatasan akses dan infrastruktur. Baru beberapa tahun terakhir sekolah ini berdiri sendiri, namun tetap menghadapi tantangan berat soal jumlah murid dan sarana pendidikan.
Menurut data yang diterima Blitarkawentar, total siswa kelas 7 di SMPN 3 Doko hanya sekitar 20 orang, dan terbagi dalam dua kelas kecil.
Jumlah ini belum mencukupi standar kelas ideal, sehingga interaksi antar siswa menjadi sangat intens dan bersifat homogen—karena sebagian besar mereka berasal dari satu dusun yang sama.
Satu Dusun, Satu Kelas, Satu Konflik
Video berdurasi 57 detik yang memperlihatkan aksi pemukulan oleh siswa kepada temannya terjadi pada Jumat (18/7) lalu, usai kegiatan kerja bakti sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blitar, Adi Andaka, membenarkan bahwa insiden itu terjadi di lingkungan sekolah dan melibatkan siswa kelas 7.
“Mereka semua masih baru, masih kelas 7, dan berasal dari satu lingkungan. Yang pelaku dan korban satu kelas, bahkan satu dusun,” kata Adi saat dikonfirmasi, Minggu (21/7).
Insiden bermula dari olok-olok ringan antar siswa usai kegiatan bersih-bersih sekolah. Namun karena tidak ada pengawasan saat mereka beristirahat, terjadi aksi kekerasan yang kemudian direkam oleh siswa lain dan menyebar di internet.
Diselesaikan Lewat Musyawarah Dusun
Uniknya, karena semua siswa yang terlibat saling bertetangga dan berasal dari lingkungan sosial yang sama, penyelesaian kasus dilakukan melalui musyawarah di rumah orang tua korban. Forum tersebut dihadiri oleh pihak sekolah, perangkat desa, Babinsa, Bhabinkamtibmas, guru, dan wali murid.
Dari hasil musyawarah, tercapai dua kesepakatan penting:
1. Korban dijamin keamanannya selama di sekolah maupun di luar.
2. Pelaku akan dibina secara langsung oleh Babinsa dan pihak Koramil setempat.
Tidak ada laporan hukum atau rujukan medis karena pihak korban menerima permintaan maaf secara terbuka dan berharap anak-anak tetap bisa bersekolah bersama.
Dilema Sekolah Terpencil
Kasus ini membuka mata banyak pihak soal vulnerabilitas sekolah-sekolah di pelosok Blitar. Jumlah guru terbatas, pengawasan longgar, serta minimnya pendampingan psikologis menjadi tantangan besar yang tidak selalu disorot publik.
Kepala Dispendik Adi Andaka menyebut bahwa pihaknya sudah mengirim tim khusus untuk investigasi lanjutan ke SMPN 3 Doko. Tim terdiri dari Sekretaris Dinas, Kepala Bidang SMP, serta petugas bimbingan konseling.
“Kami tidak bisa anggap enteng. Anak-anak di daerah terpencil tetap harus mendapat rasa aman dan pendidikan karakter yang kuat. Ini tugas kita semua,” tegasnya.
Dispendik juga mencatat bahwa selama 2025 ini sudah terjadi tiga kasus bullying di wilayah Blitar Raya, termasuk lembaga di bawah binaan Kemenag. Namun kasus di SMPN 3 Doko menjadi sorotan karena viral dan melibatkan sekolah negeri yang berada di wilayah tertinggal.
Perlu Pendekatan Sosial Komunitas
Pengamat pendidikan dari Blitar Education Watch, Dimas Prasetyo, menilai bahwa kasus ini mencerminkan pentingnya pendekatan berbasis komunitas dalam menangani persoalan siswa di sekolah-sekolah pelosok.
“Di sekolah terpencil, murid-murid bukan sekadar teman sekolah, tapi juga tetangga dan saudara. Artinya, konflik kecil bisa berdampak besar jika tidak dikelola dengan pendekatan yang memahami konteks sosial mereka,” ujarnya.
Menurutnya, pemerintah perlu memperkuat pendidikan karakter, pelatihan guru, dan kehadiran konselor aktif di sekolah seperti SMPN 3 Doko, agar tidak terjadi “ledakan sosial” di ruang-ruang kelas yang sunyi dari pantauan kota.
Kondisi Kembali Kondusif
Hingga saat ini, proses belajar mengajar di SMPN 3 Doko dilaporkan kembali berjalan normal. Guru dan wali kelas diminta melakukan pendekatan intensif ke siswa kelas 7. Sementara Dispendik masih menunggu hasil asesmen psikologis sebelum mengambil langkah selanjutnya.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.