Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Nasi Goreng Pak No di Blitar yang Buka Hampir 24 Jam dan Kisah Perjuangannya Mampu Kuliahkan Anak

Alzena Beuty Metya • Sabtu, 26 Juli 2025 | 22:00 WIB
TAK BIASA: Suasana warung nasi goreng Pak No di Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.
TAK BIASA: Suasana warung nasi goreng Pak No di Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar.

BLITAR - Di tengah ramainya kuliner nasi goreng malam hari, hadir nasi goreng pagi-malam di Kota Blitar.

Bukan sekadar warung nasi goreng biasa, nasi goreng Pak No di Jalan Cimanuk, Kelurahan Tanggung, Kecamatan Kepanjenkidul, Kota Blitar menjadi saksi bisu perjuangan dan semangat pantang menyerah keluarga Sumarno, 64, dan Wahniyatin, 53.

Baru setahun berdiri, warung yang berada tepat di teras rumah sederhana ini menawarkan keunikan dengan jam operasional yang tak biasa. Yakni, buka mulai pukul 08.00 hingga 24.00.

Rasa yang enak, topping sayur yang banyak dan harga Rp 10.000 yang terjangkau menjadi daya tarik pembeli.

Aneka menu tersaji untuk memanjakan pelanggan, mulai dari nasi goreng, mi goreng, mi nyemek, hingga nasi goreng mawut, serta aneka minuman.

Namun, yang best seller dan tak boleh dilewatkan yakni mi nyemek racikan langsung tangan Wahniyatin.

“Sehari itu bisa 10-15 porsi, tetapi pas sepi itu pernah 7 porsi dan ramai itu 30 porsi-an. Ramainya itu habis magrib, tapi pagi juga ada pembeli,” ungkap Wahniyatin.

Sebelum memulai usaha ini, Wahniyatin dan Sumarno sempat memiliki usaha ternak ayam dan ikan, serta toko kelontong.

Namun, saat pandemi menghantam, keadaan memaksa mereka gulung tikar. Tak langsung menyerah pada keadaan, ide membuka usaha nasi goreng dengan jam operasional yang panjang akhirnya tercetuskan.

“Ada tetangga yang heran juga karena buka pagi, tapi usaha cuma ini yang bisa dijalani sambil ngerjain pekerjaan rumah tangga, jadi saya tekuni aja walaupun naik turun,” ujar Sumarno.

Semangatnya tak pernah padam. Selain mengelola warung nasi goreng, Wahniyatin juga aktif menjual nasi bungkus di pemancingan di dekat rumahnya, serta menerima pesanan dari tetangga untuk acara syukuran ataupun lainnya.

Baca Juga: Indonesia vs Thailand: Euforia Suporter Memuncak, Gerald Vanenburg Optimistis Meski Tanpa Dua Pilar

Ia juga mengambil telur ayam dari peternak untuk dijual ecer ke tetangga atau pelanggan nasi gorengnya. Kegigihannya ini didasari oleh ketulusan dan keikhlasan untuk menopang kehidupan keluarga.

“Tantangan paling besar itu rasa kantuk dan jam tidur yang jadi tidak teratur. Kalau anak saya libur itu juga dibantu karena biasanya cuma sama suami." tambah Wahniyatin.

Keluarga kecil ini dikaruniai dua putri yang kini menempuh pendidikan tinggi di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Keberhasilan kedua putrinya meraih beasiswa pendidikan sangat membantu perekonomian keluarga, sekaligus menjadi bukti bahwa kerja keras dan pengorbanan pasutri ini tidak sia-sia. (mg3/ynu)

Editor : M. Subchan Abdullah
#perjuangan #its #warung #mi goreng #kuliner #Nasi Goreng Pak No #24 jam #pandemi #institut teknologi sepuluh nopember #Kota Blitar #buka