BLITAR – Sebuah destinasi wisata alam di Kabupaten Blitar yang menyimpan jejak sejarah sejak era Kerajaan Majapahit, yakni Telaga Rambut Monte.
Terletak di Desa Krisik, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Blitar, telaga ini menyimpan penuh misteri dan mitos dibalik keindahannya.
Telaga Rambut Monte, keindahan airnya yang jernih berwarna hijau toska berpadu dengan suasana sunyi di tengah pepohonan rindang, menjadikannya destinasi wisata yang menarik.
Bukan sekadar pemandangan alam, telaga ini juga lekat dengan cerita mistis yang diwariskan secara turun-temurun.
Masyarakat percaya bahwa Rambut Monte bukanlah telaga biasa. Konon, telaga ini terbentuk karena campur tangan sosok raksasa gaib yang menjaga kawasan tersebut.
Seiring berjalannya waktu, telaga ini menjadi sumber air utama bagi warga sekitar dan mengalami pelebaran besar-besaran pada tahun 1950-an melalui kerja bakti warga desa.
Di sekitar kawasan telaga, berdiri sebuah candi kuno yang dikenal sebagai Candi Rambut Monte. Candi yang terbuat dari batu andesit ini hanya tersisa bagian kaki dan tubuhnya, berdenah segi empat dengan panjang dan lebar sekitar 3 meter serta tinggi 85 cm.
Relief pada candi menggambarkan kepala kala dengan rambut gimbal dan taring tajam, yang diyakini memiliki makna simbolis dalam ajaran Hindu.
Banyak sejarawan menduga candi ini adalah peninggalan era Majapahit. Namun, ada pula pendapat bahwa usianya lebih tua, berasal dari masa Kediri. Sayangnya, belum ada penelitian arkeologi mendalam untuk memastikan sejarahnya.
Nama Rambut Monte sendiri dipercaya berasal dari relief kepala kala pada candi yang berambut gimbal menyerupai kata "Monte" dalam bahasa Jawa.
Keberadaan ikan-ikan yang disebut ikan dewa di telaga ini menambah nuansa mistis Rambut Monte.
Masyarakat mempercayai bahwa ikan tersebut tidak boleh diambil atau dimakan, karena dapat mendatangkan kesialan. Kisah-kisah aneh, seperti daging ikan yang berubah menjadi minyak saat dimasak, memperkuat keyakinan tersebut.
Hingga kini, Rambut Monte tidak hanya menjadi tempat wisata alam, tetapi juga lokasi yang sarat nilai sejarah, budaya, dan spiritual.
Dengan panorama indah dan aura mistis, telaga ini terus menarik perhatian wisatawan maupun peneliti sejarah. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah