Blitar – Tak banyak yang tahu, ternyata Sejarah Blitar menyimpan kisah heroik yang luar biasa. Nama "Blitar" yang kini dikenal sebagai kabupaten dan kota di Jawa Timur ini, konon berasal dari gabungan dua kata: Bali Tartar. Frasa ini bukan sekadar sebutan biasa. Ia lahir dari peristiwa penting yang terjadi pada masa awal berdirinya Kerajaan Majapahit.
Dalam catatan sejarah lisan dan berbagai babad, asal-usul Blitar berkaitan erat dengan pengusiran pasukan Tartar (Mongol) dari tanah Jawa. Tepatnya saat Raden Wijaya, pendiri Majapahit, berhasil mengusir pasukan Kaisar Kubilai Khan dari Dinasti Yuan, yang sempat mendarat di tanah Jawa untuk menghukum Raja Singhasari, Kertanagara.
Inilah yang menjadi titik awal terbentuknya wilayah Blitar seperti yang kita kenal hari ini. Dan inilah mengapa Sejarah Blitar tak bisa dilepaskan dari kisah peperangan, strategi politik, dan pengabdian tanpa pamrih dari tokoh-tokoh setia Majapahit.
Baca Juga: Punya Surat Aktivasi Rekening Simpel? Bersiaplah, Dana PIP Tahap 2 Segera Masuk
Bali Tartar: Bukan Liburan, Tapi Mundurnya Penjajah
Istilah Bali Tartar secara harfiah berarti "kembalinya orang Tartar (Mongol)". Kisahnya bermula saat Raden Wijaya bersekutu sementara dengan pasukan Mongol untuk mengalahkan musuh dalam negeri, Jaya Katwang dari Kediri. Setelah Kediri jatuh, aliansi itu berubah arah: Raden Wijaya balik menyerang Mongol, memukul mundur mereka hingga kembali ke negeri asalnya dengan kerugian besar.
Namun, tidak semua pasukan Mongol berhasil kembali. Sebagian kecil tercerai-berai dan melarikan diri ke berbagai pelosok Jawa, termasuk ke arah selatan – wilayah yang saat itu masih berupa hutan belantara di sekitar Sungai Brantas dan Gunung Kelud.
Di sinilah muncul tokoh kunci dalam Sejarah Blitar, yakni Nila Suwarna, salah satu panglima setia Raden Wijaya yang ditugaskan membuka dan mengamankan wilayah selatan. Misinya: membabat alas (hutan), membuka pemukiman, dan memastikan tidak ada sisa pasukan Mongol bersembunyi di sana.
Baca Juga: Realisasi PAD Kabupaten Blitar Masih Tercapai 46 Persen, Ini Kata Bupati Rijanto
Nila Suwarna: Satria yang Menjadi Adipati Blitar Pertama
Nila Suwarna bukan hanya dikenal sebagai sosok sakti dan pemberani, tetapi juga simbol loyalitas. Ia memimpin pasukannya menembus belantara penuh bahaya: binatang buas, medan berat, hingga ancaman penyakit. Namun lebih dari itu, mereka juga harus terus waspada terhadap kemungkinan adanya perlawanan sisa pasukan Tartar.
Berbagai sumber tutur menyebut bahwa setelah wilayah itu berhasil dibersihkan dan diamankan, muncullah istilah Bali Tartar sebagai penanda bahwa wilayah tersebut telah bebas dari ancaman asing. Istilah ini kemudian menjadi sebutan untuk area yang kini dikenal sebagai Blitar.
Seiring berjalannya waktu, pelafalan Bali Tartar oleh lidah lokal berubah. Dari Bali Tartar, menjadi Balitar, lalu Blitar. Dan begitulah nama itu melekat hingga sekarang. Kisah ini bukan hanya soal perubahan fonetik, tapi tentang bagaimana sejarah, keberanian, dan perjuangan membentuk identitas suatu daerah.
Baca Juga: Liburan Usai, Uang Sekolah Membengkak: PIP Tahap 2 Hadir Bantu Biaya Awal Tahun Ajaran
Dianugerahi Gelar Adipati, Lahirnya Kadipaten Blitar
Sebagai bentuk penghargaan atas keberhasilannya, Raden Wijaya menganugerahi Nila Suwarna gelar Adipati Ario Blitar I. Ia pun menjadi pemimpin resmi wilayah tersebut di bawah panji Majapahit. Kadipaten Blitar pun lahir, sebagai bagian dari sistem administrasi kerajaan. Inilah tonggak awal berdirinya Blitar sebagai entitas politik.
Banyak kalangan percaya, peristiwa pengangkatan ini terjadi sekitar tanggal 5 Agustus 1324 Masehi. Tanggal inilah yang kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Jadi Blitar.
Seiring berjalannya waktu, Blitar terus mengalami perubahan – dari Kadipaten, masuk ke bawah kekuasaan Kesultanan Islam (Demak, Pajang, Mataram), hingga akhirnya menjadi bagian dari sistem kolonial Hindia Belanda. Namun, jejak historis dari perjuangan Nila Suwarna dan akar kata Bali Tartar tetap menjadi bagian penting dalam Sejarah Blitar.
Baca Juga: Pemkot Blitar Ajukan Proposal Rp 30 M ke Kemenpora Rombak Sirkuit Bung Karno
Blitar: Dari Hutan ke Kabupaten yang Dihormati
Kini, Blitar bukan hanya dikenal sebagai tempat kelahiran dan makam Bung Karno, tetapi juga sebagai wilayah yang menyimpan nilai-nilai perjuangan, keberanian, dan keteguhan. Cerita tentang Bali Tartar adalah simbol bahwa Blitar lahir bukan dari kompromi, tapi dari perlawanan dan semangat menolak penjajahan sejak abad ke-13.
Bagi generasi muda Blitar, memahami Sejarah Blitar bukan hanya soal tahu nama jalan atau tanggal peringatan. Tapi juga menghargai proses panjang yang penuh darah dan air mata dalam membentuk identitas daerah ini.
Dan kalau nanti ada yang bertanya, "Kenapa sih namanya Blitar?" – kini kamu bisa jawab dengan bangga: “Karena dulu pasukan Tartar lari terbirit-birit dari sini!”
Editor : Anggi Septian A.P.