Blitar – Dalam jejak panjang Sejarah Blitar, ada satu nama yang sering terlupakan namun sangat berjasa dalam membuka wilayah yang kini kita kenal sebagai Blitar. Ia adalah Nila Suwarna, seorang satria Majapahit yang tak hanya gagah berani, tapi juga setia tanpa pamrih pada rajanya, Raden Wijaya. Kisahnya dimulai dari hutan belantara yang angker dan berbahaya, di selatan Sungai Brantas.
Nama Blitar sendiri lekat dengan perjuangan Nila Suwarna. Dialah tokoh utama dalam babat alas, membabat hutan liar demi mengamankan wilayah baru untuk Majapahit. Ia bukan sekadar pengikut, tapi pemimpin lapangan yang meletakkan fondasi awal berdirinya Kadipaten Blitar. Sejarah Blitar tidak akan lengkap tanpa menyebut peran besar Nila Suwarna dalam fase penting pasca pengusiran pasukan Mongol (Tartar) dari tanah Jawa.
Banyak kisah turun-temurun menyebut, setelah Raden Wijaya berhasil mengusir pasukan Mongol dari Kediri, masih ada sisa-sisa pasukan asing yang tercerai-berai. Mereka melarikan diri ke arah selatan – wilayah yang saat itu masih berupa hutan perawan. Untuk memastikan keamanan Majapahit, Nila Suwarna dipercaya menuntaskan misi penting: membabat alas, membuka pemukiman, dan menghalau ancaman.
Baca Juga: Punya Surat Aktivasi Rekening Simpel? Bersiaplah, Dana PIP Tahap 2 Segera Masuk
Tugas Berat Sang Ksatria
Wilayah selatan Majapahit kala itu belum tersentuh peradaban. Pepohonan raksasa, binatang buas, serta medan yang sulit jadi tantangan harian. Tapi Nila Suwarna tak gentar. Bersama rombongannya, ia menyeberangi Brantas dan masuk ke jantung belantara. Selain menghadapi alam, mereka juga harus waspada terhadap gerombolan sisa pasukan Tartar yang mungkin masih bersembunyi.
Kepemimpinan Nila Suwarna diuji. Namun ia tidak hanya memberi perintah dari belakang. Ia turun langsung, menebas semak, memotong pohon, dan menjaga semangat para pengikutnya. Ia adalah simbol keberanian yang tenang, dan tokoh pelopor dalam transformasi hutan liar menjadi wilayah berpenghuni.
Selama berbulan-bulan mereka bekerja keras membuka wilayah, hingga akhirnya area cukup luas berhasil dibuka untuk didirikan pemukiman. Wilayah ini, yang dulu gelap dan liar, perlahan berubah menjadi tanah harapan bagi Majapahit dan para pengikutnya. Inilah cikal bakal terbentuknya Blitar.
Baca Juga: Realisasi PAD Kabupaten Blitar Masih Tercapai 46 Persen, Ini Kata Bupati Rijanto
Penganugerahan Gelar Adipati Ario Blitar I
Atas keberhasilannya membuka dan mengamankan wilayah tersebut, Raden Wijaya menganugerahkan gelar kehormatan kepada Nila Suwarna: Adipati Ario Blitar I. Ini bukan hanya penghargaan, tapi bentuk kepercayaan tinggi dari pusat kekuasaan Majapahit. Dengan gelar itu, Nila Suwarna resmi menjadi pemimpin pertama wilayah Blitar.
Kadipaten Blitar pun lahir, dan menjadi bagian dari struktur pemerintahan Majapahit di wilayah selatan. Nila Suwarna dipercaya mengatur pemerintahan, menjaga keamanan, serta memajukan wilayahnya. Dalam berbagai versi sejarah lisan, tanggal penetapan ini dipercaya terjadi pada 5 Agustus 1324 Masehi, yang kemudian dikenal sebagai Hari Jadi Blitar.
Sejarah Blitar tak lepas dari peran sang adipati pertama ini. Ia bukan hanya tokoh administratif, tapi juga pelopor, pejuang, dan simbol kesetiaan terhadap tanah dan rajanya.
Baca Juga: Liburan Usai, Uang Sekolah Membengkak: PIP Tahap 2 Hadir Bantu Biaya Awal Tahun Ajaran
Jejak Kepahlawanan yang Terlupakan
Meski perannya sangat besar, nama Nila Suwarna jarang muncul dalam buku sejarah formal. Namun dalam banyak babad dan kisah tutur warga Blitar, ia tetap dikenang sebagai tokoh penting. Bahkan, versi lisan menyebut bahwa keberhasilan mengusir sisa-sisa Tartar dari wilayah selatan menjadi alasan utama mengapa daerah ini diberi nama Bali Tartar, yang kemudian berubah secara fonetik menjadi Blitar.
Kisah ini menunjukkan bahwa Sejarah Blitar bukan hanya soal geografi atau administrasi. Tapi juga soal nilai-nilai kepemimpinan, pengorbanan, dan keberanian dalam menghadapi tantangan besar. Nilai-nilai inilah yang diwariskan oleh Nila Suwarna dan layak terus dikenang, terutama oleh generasi muda Blitar hari ini.
Dari Alas Menjadi Warisan
Di bawah kepemimpinan Adipati Ario Blitar I, wilayah Blitar berkembang perlahan. Pusat pemerintahan dibangun, penduduk mulai berdatangan, dan wilayah ini menjadi titik penting dalam pengaruh Majapahit ke arah selatan. Ketika Majapahit runtuh dan kekuasaan bergeser ke Demak, Pajang, lalu Mataram Islam, Blitar tetap mempertahankan identitasnya.
Baca Juga: Pemkot Blitar Ajukan Proposal Rp 30 M ke Kemenpora Rombak Sirkuit Bung Karno
Hingga masa kolonial Belanda dan akhirnya kemerdekaan Indonesia, wilayah Blitar tetap eksis. Kini, Blitar bukan hanya dikenal karena sejarah Proklamator Bung Karno, tapi juga karena akar sejarah panjang yang dimulai dari seorang tokoh yang setia: Nila Suwarna.
Penutup: Saatnya Mengangkat Kembali Pahlawan Lokal
Masyarakat Blitar masa kini sudah selayaknya mengenal lebih dekat siapa yang pertama kali membuka wilayahnya. Nila Suwarna bukan sekadar tokoh legenda, ia adalah bagian penting dalam narasi sejarah lokal. Sejarah Blitar akan lebih utuh jika cerita tentang Adipati Ario Blitar I ini ikut disuarakan dalam pendidikan, budaya, hingga narasi resmi daerah.
Kini, saatnya kita memberi tempat terhormat bagi nama Nila Suwarna di hati masyarakat Blitar, sama seperti kita menghormati tanah ini yang dulu dibabatnya demi kejayaan nusantara.
Editor : Anggi Septian A.P.