BLITAR – Di kawasan Istana Gebang dan pelataran Makam Bung Karno, Blitar, tersimpan sebuah simbol bersejarah yang menegaskan peran Bung Karno sebagai tokoh perdamaian dunia.
Simbol itu adalah Gong Perdamaian Dunia, sebuah karya monumental yang melibatkan sumbangan dari berbagai negara di dunia.
Keberadaan gong ini bukan hanya menjadi ikon perdamaian, tetapi juga bukti bahwa gagasan persatuan dan toleransi yang digaungkan Bung Karno diakui secara internasional.
Gong Perdamaian Dunia menampilkan bendera hampir semua negara di dunia, menggambarkan pesan universal tentang persatuan umat manusia.
Dalam transkrip video Serat Nusantara, disebutkan bahwa gong ini adalah bukti pengakuan atas kiprah Bung Karno sebagai Bapak Perdamaian.
“Di situ ada bendera seluruh dunia, mungkin bisa dibilang 90% negara ada di sini,” ujar narasumber dalam video tersebut. Hal ini menandakan bahwa semangat perdamaian yang diajarkan Bung Karno telah menembus batas bangsa dan negara.
Bung Karno bukan hanya dikenal sebagai Bapak proklamator kemerdekaan Indonesia, tetapi juga sebagai pemimpin dunia ketiga yang menggaungkan pentingnya kerja sama internasional.
Dalam berbagai pidatonya di forum internasional, Bung Karno selalu menekankan bahwa perdamaian adalah kunci kemajuan dan kemanusiaan.
Gong Perdamaian Dunia di Istana Gebang menjadi simbol nyata dari gagasan tersebut.
Selain nilai simbolis, Gong Perdamaian Dunia juga memiliki nilai sejarah yang mendalam.
Gong ini menjadi pengingat bahwa perjuangan kemerdekaan Indonesia tidak semata-mata untuk bangsa sendiri, melainkan untuk semua manusia yang menginginkan kebebasan dari penindasan.
Baca Juga: Sirkuit Sentul Blitar Jadi Arena Jogging Masyarakat, Ini Respon Dispora
Blitar sebagai kota bersejarah kini memiliki kebanggaan tersendiri dengan keberadaan gong ini, yang kerap menjadi daya tarik wisata sejarah.
Keberadaan gong ini juga memberikan edukasi kepada generasi muda tentang arti penting persatuan dan kesatuan sesuai dengan sila ke 3 Pancasila.
Pesan dari Bung Karno bahwa Indonesia bukan milik satu golongan, agama, atau suku, tetapi milik seluruh rakyat dari Sabang sampai Merauke.
Editor : M. Subchan Abdullah