Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sejarah Blitar: Blitar Dibabat dari Hutan Angker, Atas Perintah Langsung Raden Wijaya!

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Selasa, 29 Juli 2025 | 04:30 WIB
Banyak orang mengenal Blitar sebagai kota sejarah dan tempat peristirahatan terakhir Proklamator RI. Tapi tak banyak yang tahu bahwa di balik semua itu, Blitar dulunya hanyalah hutan angker nan lebat
Banyak orang mengenal Blitar sebagai kota sejarah dan tempat peristirahatan terakhir Proklamator RI. Tapi tak banyak yang tahu bahwa di balik semua itu, Blitar dulunya hanyalah hutan angker nan lebat

Blitar – Banyak orang mengenal Blitar sebagai kota sejarah dan tempat peristirahatan terakhir Proklamator RI. Tapi tak banyak yang tahu bahwa di balik semua itu, Blitar dulunya hanyalah hutan angker nan lebat—penuh harimau, ular berbisa, dan bahaya tak terlihat lainnya. Dalam catatan Sejarah Blitar, kisah awal mula wilayah ini tak lepas dari perintah langsung Raden Wijaya, pendiri Kerajaan Majapahit.

Saat Majapahit baru berdiri pasca pengusiran pasukan Tartar (Mongol) dari tanah Jawa, wilayah selatan Sungai Brantas dianggap sebagai daerah rawan. Raden Wijaya menyadari bahwa sisa-sisa pasukan Mongol bisa saja bersembunyi di sana. Untuk itulah ia mengirimkan pasukan pembabat alas, membuka hutan dan mengamankan wilayah—yang kelak bernama Blitar.

Dalam babad lokal yang dikutip oleh kanal Top Histori, ekspedisi pembabatan hutan itu dipimpin oleh seorang pengikut setia Raden Wijaya bernama Nila Suwarna. Kisah survival mereka menembus hutan yang gelap, penuh hewan buas dan makhluk gaib, menjadi bagian penting dari Sejarah Blitar yang layak untuk diangkat ke permukaan.

Baca Juga: Punya Surat Aktivasi Rekening Simpel? Bersiaplah, Dana PIP Tahap 2 Segera Masuk

Blitar Dulu Bukan Kota, Tapi Alas Angker Penuh Ancaman

Hutan yang membentang di selatan Gunung Kelud dan Sungai Brantas dulu dikenal sebagai wilayah yang belum terjamah manusia. Menurut berbagai sumber tutur, kawasan ini bukan hanya liar, tetapi juga dianggap wingit—angker. Banyak warga setempat percaya, selain binatang buas, hutan itu juga dijaga oleh makhluk halus dan kekuatan tak kasat mata.

Namun bagi Raden Wijaya, wilayah ini terlalu strategis untuk dibiarkan liar. Ia ingin menjadikan Majapahit sebagai kerajaan yang besar, dan itu artinya perlu penguasaan wilayah secara menyeluruh. Maka, ia pun menunjuk Nila Suwarna untuk memimpin pembabatan hutan—sebuah ekspedisi ekstrem yang menantang nyawa.

Berbekal parang, kapak, dan tekad baja, rombongan Nila Suwarna mulai menebas semak belukar dan menumbangkan pohon-pohon raksasa. Mereka membangun pemukiman sementara, mencari air bersih, dan berburu makanan. Sementara itu, setiap malam mereka harus berjaga-jaga dari kemungkinan serangan binatang buas—atau lebih buruk lagi, kelompok musuh yang bersembunyi.

Baca Juga: ⁠Realisasi PAD Kabupaten Blitar Masih Tercapai 46 Persen, Ini Kata Bupati Rijanto

Babat Alas dan Ancaman Tak Terduga

Babat alas bukan perkara gampang. Ini bukan hanya soal membuka hutan, tapi juga bertahan hidup di alam liar. Setiap hari para prajurit berhadapan dengan nyamuk hutan, ular berbisa, dan ancaman penyakit tropis. Beberapa jatuh sakit, sebagian lainnya hilang dalam rimba. Tapi semangat mereka tak padam.

Dipimpin langsung oleh Nila Suwarna, rombongan terus maju. Ia tak hanya menjadi komandan, tapi juga panutan. Ia turut memegang parang, turut menebang pohon, dan terus membakar semangat para pengikutnya. Keberaniannya menjadi penentu keberhasilan ekspedisi ini.

Salah satu tujuan utama mereka adalah memastikan bahwa tak ada sisa pasukan Tartar yang bersembunyi di wilayah tersebut. Patroli dilakukan setiap hari ke sudut-sudut hutan. Dan benar saja, beberapa kisah menyebutkan terjadinya pengejaran terhadap kelompok-kelompok kecil Tartar yang sempat melarikan diri ke arah selatan.

Baca Juga: Liburan Usai, Uang Sekolah Membengkak: PIP Tahap 2 Hadir Bantu Biaya Awal Tahun Ajaran

Dari Hutan Jadi Tanah Harapan

Bulan demi bulan, hasil mulai terlihat. Tanah mulai terbuka. Beberapa area sudah layak dijadikan lahan pemukiman. Jalan setapak mulai dibentuk, dan masyarakat mulai berdatangan untuk menetap. Wilayah yang semula gelap, basah, dan menakutkan, mulai berubah menjadi cikal bakal peradaban.

Atas keberhasilannya membabat dan mengamankan wilayah ini, Raden Wijaya pun mengangkat Nila Suwarna menjadi Adipati Ario Blitar I. Wilayah tersebut secara resmi diakui sebagai Kadipaten Blitar, bagian integral dari Kerajaan Majapahit. Ini menjadi tonggak penting dalam Sejarah Blitar, bahwa kota ini lahir dari semangat perjuangan di tengah alam liar.

Sebagian kalangan sejarah menyebut, peristiwa pengangkatan ini terjadi pada 5 Agustus 1324 Masehi, yang hingga kini diperingati sebagai Hari Jadi Blitar.

Baca Juga: Ratusan Balita di Kota Blitar Alami Obesitas, Dinkes Minta Orang Tua Waspada

Jejak Mistis dan Legenda Lokal

Tak bisa dipungkiri, jejak mistis dari babat alas ini masih terasa hingga kini dalam budaya masyarakat Blitar. Banyak tempat dianggap keramat, diyakini sebagai lokasi persinggahan para pembabat alas atau titik pertarungan melawan makhluk halus penghuni hutan zaman dulu.

Legenda tentang harimau penunggu, ular raksasa, atau suara gamelan dari tengah hutan masih menjadi bagian dari cerita rakyat. Namun yang paling kuat adalah ingatan kolektif tentang keberanian para pembuka jalan—yang mengubah hutan jadi kota.

Blitar Hari Ini: Dari Alas ke Identitas

Kini, Blitar berdiri sebagai salah satu wilayah penting di Jawa Timur, dengan identitas kuat sebagai kota sejarah, budaya, dan pendidikan. Namun di balik itu semua, ada kisah luar biasa tentang keberanian orang-orang terdahulu menaklukkan alam demi membangun tanah harapan.

Sejarah Blitar bukan hanya soal kerajaan dan prasasti, tapi juga tentang keringat, darah, dan keberanian para pendahulu. Dari hutan angker menjadi kota yang hidup, Blitar telah membuktikan bahwa peradaban bisa tumbuh dari semangat pantang menyerah.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar