Blitar – Tak banyak yang tahu bahwa dalam lembaran Sejarah Blitar, daerah ini pernah berada di ambang bahaya besar: hampir menjadi basis pasukan Mongol atau Tartar di tanah Jawa. Ya, wilayah yang kini dikenal sebagai kota damai dan penuh sejarah itu, dulu nyaris jadi markas lawan terbesar kerajaan-kerajaan Nusantara abad ke-13.
Menurut catatan sejarah yang dikutip dari kanal Top Histori, setelah Kerajaan Singhasari runtuh dan Majapahit berdiri di bawah kepemimpinan Raden Wijaya, sisa-sisa pasukan Mongol yang sebelumnya dikirim oleh Kaisar Kubilai Khan untuk menghukum Jawa, tidak semuanya langsung meninggalkan pulau ini. Beberapa dari mereka memilih mundur ke arah selatan Sungai Brantas—menuju wilayah yang kini dikenal sebagai Blitar.
Andai saja situasi tak segera dikendalikan, Sejarah Blitar bisa berubah drastis. Kota ini mungkin menjadi wilayah jajahan Mongol, atau bahkan markas pemberontakan terhadap Majapahit. Untungnya, ada satu nama yang menjadi kunci penting penyelamatan Blitar dari cengkeraman pasukan asing: Nila Suwarna.
Baca Juga: Punya Surat Aktivasi Rekening Simpel? Bersiaplah, Dana PIP Tahap 2 Segera Masuk
Pasukan Mongol Tersisa dan Celah Strategis
Tahun 1293, pasukan Mongol dari Dinasti Yuan (Tiongkok) mendarat di Jawa untuk menuntut balas atas tindakan Raja Kertanegara dari Singhasari yang sebelumnya menghina utusan Mongol. Namun yang terjadi justru sebaliknya—Raden Wijaya berhasil memanfaatkan keberadaan mereka untuk menggulingkan Jayakatwang, dan setelah itu malah membalik serangan kepada Mongol.
Akibat serangan balik itu, pasukan Mongol terdesak dan sebagian besar ditarik kembali ke kapal mereka. Tapi menurut berbagai sumber tak tertulis dan catatan lokal, beberapa unit pasukan Mongol tak sempat mundur dan malah melarikan diri ke pedalaman Jawa Timur. Wilayah selatan Sungai Brantas dipilih karena geografisnya yang jauh dari pusat kekuasaan Majapahit dan dipenuhi hutan lebat.
Blitar saat itu hanyalah kawasan alas (hutan) yang belum terjamah, liar dan penuh binatang buas. Tapi justru karena itulah, daerah ini dianggap aman untuk persembunyian. Para pasukan Mongol yang tersesat diyakini membangun semacam perkemahan atau benteng alami di balik rimbunnya pepohonan.
Baca Juga: Realisasi PAD Kabupaten Blitar Masih Tercapai 46 Persen, Ini Kata Bupati Rijanto
Langkah Strategis Raden Wijaya dan Nila Suwarna
Raden Wijaya tak tinggal diam. Ia menyadari bahwa membiarkan sisa pasukan Mongol hidup di selatan bisa menjadi ancaman besar bagi Majapahit yang baru berdiri. Maka ia pun menunjuk seorang panglima muda dan sakti, Nila Suwarna, untuk memimpin ekspedisi khusus: menelusuri hutan selatan, menemukan pasukan Mongol, dan memastikan Blitar tetap aman.
Tugas ini bukan hanya militer, tetapi juga geopolitik. Jika pasukan Mongol dibiarkan menetap, mereka bisa menyusun kekuatan kembali, bahkan menarik simpati kelompok anti-Majapahit. Maka, ekspedisi ke selatan ini sangat krusial—dan berisiko tinggi.
Nila Suwarna bersama pasukannya melakukan perjalanan menyusuri Sungai Brantas dan masuk ke belantara. Tak hanya menghadapi medan sulit, mereka juga harus siap berhadapan dengan sisa-sisa pasukan asing yang belum diketahui kekuatannya. Tapi karena ketekunan, keberanian, dan strategi yang tepat, mereka berhasil menekan pergerakan musuh.
Baca Juga: Liburan Usai, Uang Sekolah Membengkak: PIP Tahap 2 Hadir Bantu Biaya Awal Tahun Ajaran
Pertarungan Sunyi di Tengah Hutan
Catatan sejarah tak banyak mengulas pertempuran ini secara rinci. Tapi dari berbagai cerita rakyat dan babad lokal, disebutkan bahwa ada bentrok senyap di tengah hutan antara pasukan Nila Suwarna dan kelompok Mongol. Beberapa lokasi di Blitar bahkan masih menyimpan nama-nama yang diyakini sebagai saksi bisu pertempuran masa lalu, seperti Alas Tua, Watu Tartar, atau Petak Baluwarti.
Bukan hanya mengusir, pasukan Majapahit juga mulai membuka wilayah tersebut sebagai bentuk penguasaan. Mereka membabat hutan, mendirikan pos, dan mengamankan titik-titik strategis agar tak lagi digunakan musuh. Dari sinilah babat alas Blitar dimulai—dan menjadi bagian penting dalam Sejarah Blitar.
Blitar Gagal Dikuasai, Mongol Menyerah Total
Dengan kegagalan ini, impian pasukan Mongol untuk membuat markas permanen di pedalaman Jawa Timur pupus. Mereka yang tertangkap diusir atau dijadikan tawanan perang, sementara sisanya mati atau kabur ke luar pulau. Blitar pun aman dan secara resmi masuk ke dalam wilayah Majapahit.
Baca Juga: Pemkot Blitar Ajukan Proposal Rp 30 M ke Kemenpora Rombak Sirkuit Bung Karno
Raden Wijaya kemudian memberi penghargaan kepada Nila Suwarna dengan mengangkatnya sebagai Adipati Blitar yang pertama. Ini menandai babak baru dalam Sejarah Blitar: dari wilayah nyaris dikuasai asing, menjadi bagian resmi dari pusat kekuatan nusantara kala itu.
Kisah yang Terlupakan, Tapi Penuh Pelajaran
Meski tak banyak diajarkan di sekolah, kisah ini sejatinya menyimpan pelajaran penting. Blitar tak hanya punya sejarah sebagai tempat peristirahatan Bung Karno, tapi juga sebagai medan tempur yang pernah nyaris menjadi markas pasukan asing.
Sejarah Blitar memperlihatkan bahwa wilayah ini punya daya tarik geopolitik bahkan sejak zaman dahulu. Dari situasi hampir dikuasai musuh, menjadi kota yang sarat makna perjuangan dan keberanian. Dan semua itu tak akan terjadi tanpa strategi cerdas Raden Wijaya dan keteguhan Nila Suwarna.
Editor : Anggi Septian A.P.