Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Candi Penataran: Proyek Raksasa Raja Jawa Jinakkan Gunung Kelud Lewat Kekuatan Spiritual

Findika Pratama • Selasa, 29 Juli 2025 | 06:00 WIB

Candi Penataran: Proyek Raksasa Raja Jawa Jinakkan Gunung Kelud Lewat Kekuatan Spiritual
Candi Penataran: Proyek Raksasa Raja Jawa Jinakkan Gunung Kelud Lewat Kekuatan Spiritual

 BLITAR - Candi Penataran bukan hanya saksi bisu kejayaan Majapahit, tetapi juga simbol betapa besar rasa takut manusia terhadap alam. Didirikan di kaki Gunung Kelud, kompleks candi terbesar di Jawa Timur ini dipercaya sebagai upaya spiritual untuk menjinakkan salah satu gunung paling aktif di Pulau Jawa. Kisah ini terungkap lewat penelusuran mendalam kanal sejarah ASISI Channel yang kini ramai diperbincangkan.

Ketakutan Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri terhadap letusan Gunung Kelud menjadi titik tolak pembangunan Candi Penataran. Letusan hebat yang terjadi pada 1334 Masehi—yang juga dicatat sebagai momen lahirnya Raja Hayam Wuruk—menyebabkan kepanikan besar. Namun, menurut naskah-naskah kuno seperti Negara Kertagama dan Tantu Panggelaran, para leluhur Jawa tidak hanya mengandalkan strategi fisik seperti bendungan dan sudetan sungai, tapi juga mengupayakan pendekatan spiritual.

Dalam narasi ASISI Channel, disebutkan bahwa pembangunan Candi Penataran merupakan langkah politis sekaligus religius untuk meredam amarah alam. Pemujaan ditujukan kepada Dewa Siwa, atau Batara Girinata, yang dipercaya bersemayam di puncak Gunung Mahameru—dan turut hadir dalam bentuk energi di gunung-gunung lain, termasuk Gunung Kelud.

Baca Juga: Punya Surat Aktivasi Rekening Simpel? Bersiaplah, Dana PIP Tahap 2 Segera Masuk

Kisah Mistis Kelahiran Gunung Kelud

Masyarakat Jawa Kuno mencoba menjelaskan kehadiran Gunung Kelud lewat kisah kosmologis. Dalam kitab Tantu Panggelaran, diceritakan saat Dewa Gana (Ganesha) sedang bertapa, ia diuji oleh Batara Brahma yang menyamar dan menyembunyikan salah satu dari lima kepalanya. Gana menjawab jumlah kepala yang salah, dan nyaris kehilangan nyawa. Batara Guru pun turun tangan menyelamatkan Gana dengan memotong satu kepala Brahma.

Namun, kepala dewa api itu menjadi persoalan besar. Bila dilempar ke laut, laut bisa kering. Bila dilempar ke langit, langit bisa terbakar. Akhirnya kepala tersebut dikubur di lereng sebuah gunung yang kemudian berubah menjadi gunung api: Gunung Kelud. Maka sejak itu, Kelud dikenal sebagai gunung yang menyimpan energi destruktif luar biasa.

Fenomena alam ini dianggap sebagai manifestasi amarah Dewa Api. Untuk itu, pendekatan spiritual dilakukan oleh Raja Kertajaya dan para pertapa. Salah satu tokoh kunci dalam upaya ini adalah Empu Iswara Mapanji Jakwata, seorang pertapa yang diyakini mampu menenangkan Gunung Kelud lewat doa-doanya.

Baca Juga: ⁠Realisasi PAD Kabupaten Blitar Masih Tercapai 46 Persen, Ini Kata Bupati Rijanto

Dari Doa Pertapa Menjadi Kompleks Candi Negara

Keberhasilan Empu Iswara dalam meredam letusan membuat Raja Kertajaya menetapkan tempat pertapaan tersebut sebagai wilayah sakral, bahkan dibebaskan dari pajak (Shima). Di lokasi inilah pembangunan Candi Penataran dimulai. Raja pun dikisahkan sering beribadah langsung di sana, menjadikannya titik pusat spiritual kerajaan.

Seiring waktu, candi ini berkembang pesat. Dibangun dan diperluas oleh lima raja dari tiga dinasti besar: Kediri, Singasari, dan Majapahit. Dari sinilah muncul anggapan kuat bahwa Candi Penataran adalah “candi negara”—tempat raja menyatu secara spiritual dengan dewa, serta memperlihatkan otoritasnya sebagai jelmaan Batara Girinata.

Tak hanya Raja Kertajaya, Raja Hayam Wuruk pun dikisahkan mencapai pencerahan spiritual di tempat ini. Dalam konsep mikrokosmos-makrokosmos, seorang raja adalah bayangan dari penguasa alam semesta. Maka beribadah di Candi Penataran adalah proses penyatuan raja dengan alam, dengan Siwa sebagai entitas tertinggi.

Baca Juga: Pemkot Blitar Ajukan Proposal Rp 30 M ke Kemenpora Rombak Sirkuit Bung Karno

Arsitektur yang Mengandung Simbol Kosmik

Candi Penataran tidak dibangun sembarangan. Kompleks ini dibagi menjadi tiga mandala: Jaba (profane), Madya (suci), dan Swarloka (paling suci). Setiap zona mencerminkan tahapan spiritual menuju pencerahan.

Relief, arca, dan struktur bangunan menyimpan makna mendalam. Misalnya, relief naga melilit candi—merujuk pada energi Kundalini dan kisah Samudra Mantana versi Jawa.

Bangunan utama terdiri atas tiga teras yang merepresentasikan naiknya jiwa menuju kesempurnaan. Relief pada tiap tingkat menggambarkan kisah Ramayana dan Krisnayana—dua kisah yang erat kaitannya dengan Awatara Wisnu. Hal ini memperkuat anggapan bahwa candi ini bukan sekadar tempat sembahyang, tapi juga pusat pembelajaran dan kontemplasi.

Baca Juga: Petani Blitar Ini Sukses Tanam Bawang Merah dengan Hasil Panen sampai 5 Ton Lewat Metode Sendiri

Candi Penataran: Pusat Spiritualitas, Bukan Sekadar Wisata

Hingga awal abad ke-16, Candi Penataran masih ramai dikunjungi peziarah. Dalam catatan Bujangga Manik, kompleks ini disebut sebagai tempat suci penuh ritual. Kini, meskipun banyak bagian yang telah rusak dan menyisakan teka-teki—seperti hilangnya atap utama dan arca misterius—semangat spiritual candi tetap terasa kuat.

Masyarakat Blitar dan sejarawan sepakat bahwa Candi Penataran bukan sekadar warisan arsitektur, tapi simbol hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Sebuah pengingat bahwa dalam menghadapi murka bumi, nenek moyang kita tidak hanya membangun dinding batu—tetapi juga menjalin hubungan dengan kekuatan yang lebih besar.

Baca Juga: Petani Blitar Ini Sukses Tanam Bawang Merah dengan Hasil Panen sampai 5 Ton Lewat Metode Sendiri

Editor : Anggi Septian A.P.
#candi penataran #sejarah blitar