Blitar – Tradisi jamasan Gong Kyai Pradah menjadi salah satu warisan budaya tak benda yang terus dijaga masyarakat Blitar, khususnya di wilayah Lodoyo, Kecamatan Sutojayan. Setiap tanggal 1 Syawal dan 12 Rabiul Awal, pusaka sakral tersebut dimandikan dalam sebuah ritual adat yang sarat nilai spiritual, budaya, dan sejarah.
Ritual jamasan Gong Kyai Pradah tak hanya menjadi tradisi turun-temurun, tapi juga menjadi daya tarik wisata budaya yang mampu menyedot perhatian ribuan pengunjung dari berbagai daerah.
Pusaka yang diyakini memiliki kekuatan spiritual itu diyakini sebagai peninggalan Pangeran Prabu dari era Mataram Islam, dan masih disimpan di Gedung Pusaka Kalipalang, Lodoyo.
Baca Juga: Pemkab Blitar Target Pajak MBLB Capai Rp 1 Miliar, Pos Pemantauan Diperluas
Dalam pelaksanaannya, prosesi jamasan gong kyai pradah selalu diiringi doa, gending Jawa, serta siraman air bunga setaman yang sudah disiapkan sejak pagi hari. Air bekas siraman itu kemudian diperebutkan oleh warga karena dipercaya bisa mendatangkan berkah, ketenangan batin, bahkan menyembuhkan berbagai penyakit.
Upacara Adat Sarat Makna Filosofis
Ritual jamasan gong kyai pradah bukan sekadar kegiatan mencuci benda pusaka. Ia merupakan bentuk penghormatan masyarakat terhadap sejarah, leluhur, dan nilai-nilai kearifan lokal yang tertanam sejak berabad silam. Jamasan juga dimaknai sebagai simbol pembersihan lahir dan batin, selaras dengan momen spiritual 1 Syawal (Idul Fitri) dan 12 Rabiul Awal (Maulid Nabi Muhammad SAW).
Para sesepuh adat dan tokoh masyarakat Lodoyo meyakini bahwa pusaka Gong Kyai Pradah memiliki ikatan erat dengan perjalanan Pangeran Prabu yang dahulu diasingkan ke hutan angker Lodoyo.
Gong yang dulunya disebut Kyai Becak ini dipercaya turut menolong Pangeran Prabu dalam pelariannya, bahkan sempat membangkitkan pasukan harimau untuk menunjukkan arah keberadaannya.
Baca Juga: Cuma Bermodalkan HP, Cek PIP Tahap 2 Bisa dari Rumah: Ini Caranya!
“Jamasan ini adalah bagian dari ikhtiar menjaga pusaka warisan leluhur yang sudah menyatu dengan kultur masyarakat Blitar selatan. Airnya membawa berkah, bukan karena benda itu disembah, tapi karena kita menjaga amanah sejarah dan spiritualitasnya,” ujar Ki Warno, juru pelihara pusaka.
Air Jamasan Dipercaya Punya Khasiat Spiritual
Salah satu daya tarik utama dari ritual ini adalah air bekas siraman Gong Kyai Pradah yang disebut-sebut memiliki khasiat luar biasa. Warga rela datang dari pelosok desa, bahkan dari luar kota, untuk mendapatkan air tersebut. Mereka mengantre dengan botol, jeriken, dan ember kecil untuk membawa pulang air yang diyakini mampu menyembuhkan penyakit atau menenangkan hati.
Menurut penuturan masyarakat sekitar, banyak orang yang sudah merasakan manfaat dari air bekas jamasan. Di antaranya, sakit lama yang sembuh secara perlahan, rezeki yang kembali lancar, hingga terbebas dari gangguan batin atau mimpi buruk. Meski tak dapat dibuktikan secara ilmiah, kepercayaan ini terus hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat.
“Setiap tahun saya datang ke sini. Air jamasan saya campur dengan air mandi dan untuk diminum. Rasanya lebih tenang dan damai. Hasil tani juga lancar. Saya percaya karena sudah mengalami sendiri,” kata Karto, petani dari Kecamatan Wlingi yang hadir bersama keluarganya.
Baca Juga: Purna Paskibraka Kota Blitar 2024 Emban Tugas Baru Jadi Duta Pancasila,
Disambut dengan Antusiasme Warga dan Wisatawan
Pelaksanaan jamasan gong kyai pradah selalu menjadi peristiwa yang ditunggu-tunggu oleh warga Blitar dan wisatawan. Tidak jarang, acara ini juga diliput media lokal hingga nasional karena nilai budaya dan keunikannya. Anak-anak sekolah, pegiat budaya, serta wisatawan dari berbagai kota turut hadir menyaksikan prosesi yang hanya berlangsung dua kali dalam setahun ini.
Pemerintah Kabupaten Blitar melalui Dinas Pariwisata pun mendukung penuh pelestarian tradisi jamasan ini. Selain menjaga nilai-nilai luhur budaya, tradisi ini dinilai mampu menggerakkan sektor ekonomi lokal, seperti UMKM, pedagang musiman, hingga pengelola parkir dan jasa transportasi.
“Kami menjadikan ritual jamasan Gong Kyai Pradah sebagai salah satu kalender budaya tahunan Kabupaten Blitar. Ini bukan hanya soal kepercayaan, tetapi juga identitas daerah yang harus kita jaga bersama,” terang Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Blitar.
Pusaka Bersejarah Sejak Era Mataram
Menurut Serat Babat Tanah Jawi dan buku Upacara Tradisional Siraman Gong Kiai Pradah (Dinas Pariwisata Provinsi Jatim, 1995), Gong Kyai Pradah dulunya adalah milik Sutowijoyo alias Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram. Gong ini pernah digunakan dalam pertempuran melawan pasukan Pajang.
Kemudian, gong diwariskan dan sampai ke tangan Pangeran Prabu, saudara dari Susuhunan Pakubuwono I. Dalam masa pembuangannya ke hutan Lodoyo, Gong Kyai Pradah dibawa serta dan akhirnya dititipkan kepada seorang janda tua bernama Nyai Partasuta. Dari sinilah kisah pusaka ini terus terjaga hingga saat ini.
Hingga kini, Gong Kyai Pradah masih disimpan di Gedung Pusaka Kalipalang dan dirawat oleh juru kunci yang ditunjuk secara turun-temurun. Pusaka ini terdiri dari gong kempul laras lima yang dulu dibungkus kain sutera cinde, lengkap dengan beberapa wayang krucil, kecer, dan alat iringannya.
Menjaga Warisan Leluhur untuk Generasi Mendatang
Tradisi jamasan gong kyai pradah membuktikan bahwa kekuatan budaya dan sejarah mampu bertahan melewati zaman. Di tengah arus modernisasi, warga Blitar tetap teguh memegang nilai-nilai warisan leluhur sebagai bentuk penghormatan dan identitas.
Ritual ini bukan hanya tentang pusaka, tetapi juga tentang kesadaran kolektif untuk menjaga akar budaya dan nilai spiritual yang telah ditanam sejak berabad-abad silam.
Editor : Anggi Septian A.P.