Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Tantra, Naga, dan Raja: Makna Tersembunyi di Balik Relief Candi Penataran

Findika Pratama • Selasa, 29 Juli 2025 | 13:00 WIB

Tantra, Naga, dan Raja: Makna Tersembunyi di Balik Relief Candi Penataran
Tantra, Naga, dan Raja: Makna Tersembunyi di Balik Relief Candi Penataran

BLITAR - Candi Penataran, kompleks percandian Hindu terbesar di Jawa Timur, tidak hanya menyimpan sejarah politik dan keagamaan Kerajaan Majapahit, tetapi juga makna spiritual yang sangat dalam. Di balik pahatan dan arca yang menghiasi dinding candi, tersimpan ajaran-ajaran mistik, simbolisme tantra, dan filosofi spiritual kuno yang mempertemukan raja, manusia, dan dewa dalam satu sistem kosmik.

Sebagai warisan budaya yang berusia lebih dari tujuh abad, Candi Penataran menampilkan berbagai relief yang tidak hanya bercerita tentang kisah-kisah epik, tetapi juga memuat simbol-simbol metafisik yang mencerminkan pandangan hidup para leluhur. Salah satu simbol utama yang paling mencolok adalah kehadiran sosok naga yang menghiasi bagian tubuh candi. Dalam ajaran Tantra, naga merupakan representasi energi Kundalini—kekuatan spiritual yang berada di dasar tubuh manusia dan harus dibangkitkan melalui perjalanan batin menuju pencerahan.

Uniknya, simbol naga di Candi Penataran tidak berdiri sendiri. Ia terhubung erat dengan penggambaran dewa dan manusia dalam formasi yang menyiratkan proses transformasi jiwa. Dalam konteks ini, candi tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah atau ritual, tetapi juga sebagai "peta" perjalanan spiritual yang menggambarkan tahapan pencerahan dari manusia biasa menjadi pribadi yang tercerahkan—seperti raja yang diposisikan sebagai titisan dewa.

Baca Juga: ⁠Pemkot Blitar Seleksi Ketat Tenaga Pendamping RT Keren 2025

Simbol Tantra dalam Relief dan Arsitektur

Salah satu pengaruh kuat dalam struktur dan relief Candi Penataran adalah ajaran Tantra. Berbeda dengan pemahaman umum, Tantra bukan sekadar praktik mistik, tetapi sebuah sistem filsafat yang menekankan keseimbangan antara energi maskulin dan feminin, antara alam duniawi dan spiritual.

Relief naga yang menjulur dari tangga ke pelataran utama mencerminkan pergerakan energi Kundalini yang merambat naik menuju cakra mahkota—lambang penyatuan antara manusia dengan kekuatan ilahi.

Dalam Tantra, tubuh manusia dianggap sebagai candi itu sendiri. Maka dari itu, pembangunan candi secara vertikal—dari pelataran bawah hingga ke atap tertinggi—diinterpretasikan sebagai tahapan menuju kesempurnaan spiritual. Relief-relief di sepanjang jalur naik menuju puncak utama menggambarkan perjalanan batin: mulai dari dunia keinginan, dunia pembersihan diri, hingga penyatuan dengan alam semesta.

Baca Juga: ⁠Realisasi PAD Kabupaten Blitar Masih Tercapai 46 Persen, Ini Kata Bupati Rijanto

Kisah Samudra Mantana: Versi Jawa yang Sarat Makna

Candi Penataran juga merekam cerita Samudra Mantana, atau pengadukan lautan susu yang dikenal dalam mitologi Hindu. Dalam kisah ini, para dewa dan raksasa bekerja sama untuk mengaduk lautan menggunakan gunung Mandara sebagai pengaduk dan naga Basuki sebagai tali. Dari pengadukan itu, muncullah berbagai benda sakti dan amerta, air kehidupan.

Namun versi yang tergurat di Candi Penataran tampaknya memiliki modifikasi lokal. Penggambaran raksasa yang tidak sepenuhnya antagonis, serta peran naga yang lebih dominan, mengisyaratkan pemahaman spiritual yang lebih inklusif dalam versi Jawa.

Baca Juga: Ratusan Balita di Kota Blitar Alami Obesitas, Dinkes Minta Orang Tua Waspada Kisah ini menjadi cermin bahwa keseimbangan antara kekuatan baik dan jahat adalah kunci dalam meraih harmoni, baik dalam diri manusia maupun dalam kehidupan bernegara.

Konsep Dewa Raja dan Visualisasi Mahameru

Di masa Majapahit, terdapat keyakinan kuat bahwa seorang raja adalah perwujudan langsung dari dewa. Konsep ini dikenal sebagai Dewa Raja, di mana hubungan antara pemimpin dan kekuatan ilahi tidak dapat dipisahkan.

Candi Penataran, dengan tata letak yang berorientasi pada Gunung Kelud dan bentuk bangunan bertingkat, dianggap sebagai simbol gunung suci Mahameru, tempat bersemayamnya para dewa.

Dalam kepercayaan ini, membangun candi bukan hanya upaya religius, tetapi juga legitimasi kekuasaan. Candi menjadi tempat di mana raja "naik" secara spiritual untuk menyatu dengan dewa. Puncak tertinggi candi melambangkan singgasana kosmik Batara Siwa, sementara struktur yang mengarah ke atas menggambarkan perjalanan jiwa sang raja dari dunia fana ke alam ilahi.

Baca Juga: Petani Blitar Ini Sukses Tanam Bawang Merah dengan Hasil Panen sampai 5 Ton Lewat Metode Sendiri

Pengetahuan Kuno dalam Batu

Candi Penataran adalah ensiklopedia batu yang menyimpan banyak ilmu pengetahuan kuno. Dari ajaran Tantra, konsep energi Kundalini, kisah mitologi, hingga hubungan antara spiritualitas dan politik, semuanya dipahat dengan cermat dalam relief dan arsitekturnya. Tidak mengherankan jika candi ini dianggap sebagai salah satu karya agung yang menyatukan seni, spiritualitas, dan kekuasaan dalam satu bentuk monumental.

Bagi generasi masa kini, menggali makna di balik setiap simbol dan kisah yang tergurat di dinding Candi Penataran bukan hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana leluhur memahami alam semesta dan posisi manusia di dalamnya.

Ini adalah undangan untuk membaca ulang sejarah bukan hanya sebagai deretan tanggal dan peristiwa, tapi sebagai warisan spiritual yang tetap relevan hingga hari ini.

Editor : Anggi Septian A.P.
#candi penataran #sejarah blitar