Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

5 Kerajaan, 1 Candi: Jejak Sejarah Panjang Candi Penataran dari Kediri hingga Majapahit

Findika Pratama • Selasa, 29 Juli 2025 | 13:30 WIB

5 Kerajaan, 1 Candi: Jejak Sejarah Panjang Candi Penataran dari Kediri hingga Majapahit
5 Kerajaan, 1 Candi: Jejak Sejarah Panjang Candi Penataran dari Kediri hingga Majapahit

BLITAR - blitarkawentar.jawapos.com – Candi Penataran, permata sejarah yang terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, bukan hanya peninggalan satu kerajaan, tetapi merupakan saksi bisu perjalanan panjang peradaban Jawa Timur. Dalam rentang lebih dari dua abad, candi ini terus dikembangkan oleh lima kekuasaan besar: dari Kediri, Singasari, hingga puncaknya pada era Majapahit. Candi Penataran tidak hanya menjadi pusat ritual keagamaan, tetapi juga simbol kontinuitas kekuasaan spiritual dan budaya Jawa.

Awal mula pembangunan Candi Penataran dapat ditelusuri pada masa Raja Kertajaya dari Kerajaan Kediri sekitar abad ke-12. Pembangunan ini bukanlah proyek yang selesai dalam satu generasi. Bukti nyata keberlanjutan pembangunan dapat ditemukan dalam Prasasti Pala yang menunjukkan bahwa candi ini terus mengalami perluasan dan pemugaran di bawah kekuasaan berikutnya. Dari Kerajaan Singasari hingga ke tangan Majapahit, kompleks candi ini semakin diperkaya secara arsitektural dan fungsional.

Pada masa Majapahit, terutama di bawah pemerintahan Hayam Wuruk, Candi Penataran memainkan peran penting sebagai pusat spiritual nasional. Candi ini menjadi pendamping spiritual dari Trowulan, ibu kota politik Majapahit. Jika Trowulan adalah pusat pemerintahan dan militer, maka Penataran adalah tempat penyucian jiwa dan perayaan keagamaan agung. Dalam kunjungannya ke berbagai situs suci, Hayam Wuruk tercatat dalam Nagarakretagama sebagai pemimpin yang memberi perhatian khusus terhadap pelestarian tempat-tempat pemujaan seperti Penataran.

Baca Juga: Pemkab Blitar Target Pajak MBLB Capai Rp 1 Miliar, Pos Pemantauan Diperluas

Dari Kertajaya ke Hayam Wuruk: Tongkat Estafet Spiritualitas

Keterlibatan lima kekuasaan besar dalam pengembangan Candi Penataran memperlihatkan betapa pentingnya posisi candi ini dalam lanskap spiritual Nusantara. Raja Kertajaya adalah yang pertama kali meletakkan fondasi, memulai pembangunan sebagai bentuk pengabdian kepada Siwa dan upaya untuk menenangkan Gunung Kelud yang kerap meletus. Keberadaan Penataran menjadi simbol keharmonisan antara manusia, alam, dan dewa.

Kerajaan Singasari kemudian melanjutkan pembangunan dan memperkuat posisi candi ini sebagai pusat keagamaan regional. Peningkatan struktur arsitektur pada masa ini mengindikasikan adanya peningkatan dukungan politik dan spiritual terhadap fungsi Penataran. Ciri khas pahatan dan tambahan bangunan mencerminkan gaya artistik khas Singasari yang bercorak lebih luwes dan simbolik.

Puncaknya terjadi saat Majapahit mengambil alih peran sebagai pelindung dan pemelihara Candi Penataran. Hayam Wuruk, bersama para pendeta dan bangsawan, menjadikan Penataran sebagai tempat peribadatan nasional yang dihormati. Perjalanan spiritual sang raja ke berbagai candi, termasuk Penataran, tercatat dalam literatur penting seperti Kakawin Nagarakretagama, menandai pentingnya situs ini dalam kehidupan religius dan kenegaraan kala itu.

Baca Juga: Cuma Bermodalkan HP, Cek PIP Tahap 2 Bisa dari Rumah: Ini Caranya!

Prasasti Pala: Bukti Otentik Panjangnya Perjalanan

Salah satu bukti paling kuat dari kontinuitas pembangunan candi ini adalah Prasasti Pala, yang mencatat berbagai fase pembangunan dan renovasi yang dilakukan dari masa ke masa.

Prasasti ini menyebutkan tanggal dan tokoh-tokoh penting yang terlibat dalam pemeliharaan, membuktikan bahwa Candi Penataran bukanlah monumen mati, tetapi sebuah pusat spiritual yang hidup dan terus dirawat lintas generasi.

Prasasti ini menyebutkan bahwa pembangunan dan pemeliharaan dilakukan oleh banyak pihak, termasuk pejabat kerajaan, pendeta, dan masyarakat sekitar. Kesadaran kolektif ini menunjukkan bahwa Penataran memiliki nilai lebih dari sekadar bangunan—ia adalah jantung spiritual masyarakat Jawa Timur pada masanya.

Baca Juga: Ratusan Balita di Kota Blitar Alami Obesitas, Dinkes Minta Orang Tua Waspada

Warisan Lintas Zaman

Kini, Candi Penataran bukan hanya situs sejarah atau destinasi wisata, tetapi juga representasi bagaimana kekuasaan, spiritualitas, dan budaya berpadu dalam satu tapak suci.

Dari Kediri, Singasari, hingga Majapahit, dan kini di era modern, candi ini tetap berdiri teguh sebagai pengingat akan kejayaan leluhur dan pentingnya pelestarian warisan budaya.

Candi ini juga mengajarkan bahwa kekuasaan sejati tidak hanya diwariskan melalui takhta, tetapi juga melalui jejak spiritual yang ditinggalkan dan dirawat dengan kesadaran lintas generasi. Dari batu ke batu, dari prasasti ke relief, Candi Penataran terus berbicara kepada masa kini—tentang harmoni, keteguhan, dan nilai luhur yang tak lekang oleh waktu.

Editor : Anggi Septian A.P.
#candi penataran #sejarah blitar