BLITAR - blitarkawentar.jawapos.com – Candi Penataran yang berdiri megah di lereng Gunung Kelud, Blitar, Jawa Timur, menyimpan segudang misteri yang belum seluruhnya terungkap hingga hari ini. Meskipun dikenal sebagai salah satu kompleks candi terbesar dan terlengkap di Jawa Timur, ada bagian-bagian penting dari arsitektur dan ikonografinya yang masih menjadi teka-teki. Mulai dari hilangnya atap candi induk hingga kehadiran arca misterius yang belum bisa diidentifikasi dengan pasti.
Salah satu misteri terbesar dari Candi Penataran adalah hilangnya atap pada bangunan utama atau candi induk. Tidak ada catatan yang jelas tentang bentuk asli atap tersebut, dan belum ditemukan bagian struktur yang bisa dijadikan acuan langsung. Para arkeolog dan ahli purbakala selama bertahun-tahun mencoba merekonstruksi bentuk atap ini dengan membandingkannya dengan candi-candi serupa, salah satunya adalah Pura Yeh Gangga di Bali. Namun, interpretasi tersebut masih bersifat hipotesis.
Tak kalah menarik adalah penemuan sebuah arca misterius yang terletak di bagian barat kompleks Candi Penataran. Arca ini menggambarkan sosok laki-laki memegang kapak dan untaian manik (aksamala), namun tidak ada penjelasan eksplisit dalam prasasti atau literatur kuno yang menyebut identitasnya secara pasti. Beberapa peneliti menduga arca tersebut merupakan representasi dari Awatara Wisnu, yaitu Rama Parasu (Parashurama)—salah satu inkarnasi Wisnu yang terkenal dengan senjata kapaknya.
Baca Juga: Polkesma Kampus Blitar Bentuk Kader Keluarga Peduli di Desa Karangrejo Cegah Diabetes
Arsitektur Tanpa Atap: Petunjuk dari Bali?
Ketidakhadiran atap pada candi utama Penataran menimbulkan pertanyaan besar bagi dunia arkeologi. Apakah atap tersebut benar-benar hilang karena kerusakan zaman, atau memang dibangun tanpa struktur penutup? Beberapa spekulasi menyebut bahwa atap tersebut dulunya terbuat dari bahan organik seperti kayu atau ijuk, yang tak bertahan lama terhadap cuaca.
Sementara itu, model atap bertingkat sebagaimana pada Pura Yeh Gangga di Bali sering dijadikan acuan visual karena kemiripannya secara struktural dan simbolik.
Namun, hingga kini belum ada konsensus resmi mengenai bentuk pasti atap tersebut. Hal ini membuat Candi Penataran menjadi objek penting dalam studi perbandingan arsitektur Hindu-Jawa, sekaligus memperkuat dugaan bahwa arsitektur candi di masa lalu tidak seragam, melainkan dipengaruhi oleh perkembangan budaya lokal dan kepercayaan spiritual masyarakat.
Baca Juga: Pemkab Blitar Target Pajak MBLB Capai Rp 1 Miliar, Pos Pemantauan Diperluas
Arca Misterius dan Simbol Kedewaan
Sosok arca berjubah sederhana, berwajah tenang, dan memegang kapak serta aksamala telah lama membingungkan para peneliti. Kapak identik dengan Parashurama, tetapi atribut aksamala (tasbih Hindu) justru lebih umum ditemukan pada arca resi atau pendeta.
Apakah ini berarti arca tersebut merupakan perwujudan resi sakti, atau memang menggabungkan simbolisasi antara manusia suci dan awatara dewa?
Jika benar arca tersebut adalah Rama Parasu, maka ini bisa menjadi petunjuk bahwa Candi Penataran tidak hanya berfungsi sebagai tempat pemujaan Siwa, melainkan juga menghormati inkarnasi Wisnu. Hal ini membuka kemungkinan bahwa Penataran adalah ruang spiritual yang lebih inklusif dan menyerap berbagai tradisi keagamaan yang hidup pada masa Majapahit.
Baca Juga: Cuma Bermodalkan HP, Cek PIP Tahap 2 Bisa dari Rumah: Ini Caranya!
Religi, Politik, dan Sejarah dalam Satu Kompleks
Candi Penataran tidak hanya dibangun sebagai tempat suci semata, melainkan juga sarana komunikasi simbolik antara kekuasaan dan rakyat. Relief dan arca yang ada diduga mengandung pesan ganda: satu sisi sebagai pemujaan kepada dewa, dan sisi lain sebagai bentuk peringatan sejarah atau legitimasi kekuasaan. Dalam konteks Majapahit, pemujaan terhadap awatara seperti Rama Parasu bisa juga dibaca sebagai simbol kekuatan dan legitimasi militer.
Hal-hal yang belum terjawab ini justru memperkaya narasi sejarah Candi Penataran. Kompleksitasnya tidak hanya terletak pada relief atau struktur bangunan, melainkan juga dalam misteri yang menyelimuti tiap bagiannya.
Arsitektur dan simbolisme spiritualnya menunjukkan bahwa para leluhur kita bukan hanya membangun untuk hari itu, tetapi juga meninggalkan teka-teki yang memancing intelektualitas generasi masa kini.
Baca Juga: Dari Hajatan ke Panggung Televisi: Brenda Vanessa, Pelajar Blitar yang Bersinar Lewat Suara
Candi yang Terus Mengundang Tafsir
Misteri yang menyelimuti arca tak dikenal dan bentuk atap yang hilang menjadikan Candi Penataran sebagai situs budaya yang tak pernah kehabisan daya tarik. Alih-alih mengurangi nilai sejarahnya, ketidaklengkapan dan ketidakpastian itu justru membuat candi ini semakin relevan untuk terus diteliti. Dalam era modern ini, Penataran tetap memancarkan pesonanya sebagai simbol dialog abadi antara masa lalu dan masa kini.
Sebagaimana dijelaskan oleh ASISI Channel dalam kajian visualnya, keunikan Penataran ada pada cara ia menyatukan unsur spiritual, historis, dan arsitektural dalam satu ruang suci yang terbuka bagi interpretasi lintas generasi.