Blitar – Gong Kyai Pradah bukan sekadar benda pusaka tua. Di balik bentuknya yang sederhana, gong ini menyimpan kisah panjang dan evolusi luar biasa: dari alat perang Kerajaan Mataram menjadi simbol sakral spiritual masyarakat Lodoyo, Kabupaten Blitar. Kini, Gong Kyai Pradah menjadi pusat perhatian dalam setiap ritual jamasan yang digelar dua kali setahun, yaitu pada 1 Syawal dan 12 Rabiul Awal.
Dalam sejarahnya, gong kyai pradah dikenal sebagai pusaka Kiai Becak yang pernah digunakan oleh Panembahan Senopati, Raja pertama Mataram Islam, dalam perang melawan pasukan Pajang yang dipimpin Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir. Dentuman gong ini dipercaya mampu mengguncang medan perang dan mematahkan semangat musuh.
Kini, fungsi gong kyai pradah telah jauh berubah. Ia tidak lagi menjadi alat intimidasi di medan tempur, melainkan benda keramat yang dihormati dan dijaga secara turun-temurun oleh masyarakat Blitar. Gong ini dipercaya membawa ketentraman, kekuatan spiritual, hingga khasiat bagi mereka yang percaya.
Baca Juga: Jangan Senang Dulu! Kalau Cair PIP Tahun Lalu Bulan Ini, Tahun Ini Bisa Gagal Dapat
Gong Sakti di Medan Perang: Senjata Pamungkas Mataram
Legenda menyebutkan, ketika pasukan Pajang hendak menyerbu Mataram, Panembahan Senopati memerintahkan pasukannya untuk menyiapkan pertahanan di tengah ancaman. Dalam situasi genting tersebut, Kiai Becak — nama awal dari gong kyai pradah — dibunyikan berulang kali di tengah kobaran api dan letusan Gunung Merapi.
Suara gong yang menggema di tengah alam yang bergolak menimbulkan aura mencekam dan membuat pasukan Pajang kehilangan keberanian. Konon, pasukan musuh mengurungkan niatnya dan mundur secara perlahan. Sejak saat itu, gong ini dianggap memiliki kekuatan supranatural yang luar biasa dan menjadi pusaka yang sangat dijaga oleh para bangsawan Mataram.
Setelah peperangan itu, gong diwariskan hingga akhirnya jatuh ke tangan Pangeran Prabu — saudara dari Sri Susuhunan Paku Buwono I — yang kemudian membawanya saat diasingkan ke hutan Lodoyo.
Baca Juga: Pemkab Blitar Target Pajak MBLB Capai Rp 1 Miliar, Pos Pemantauan Diperluas
Peristiwa Ajaib: Harimau Datang Saat Gong Dibunyikan
Perjalanan Gong Kyai Pradah sebagai benda sakral semakin diperkuat oleh kejadian luar biasa yang terjadi di tengah pengasingan Pangeran Prabu. Suatu waktu, abdi setianya, Ki Ahmad Tariman, kehilangan jejak sang pangeran di tengah hutan lebat. Dalam kebingungan dan kecemasan, ia membunyikan Gong Kiai Becak sebanyak tujuh kali, berharap sang pangeran akan mendengar dan kembali.
Namun, yang datang bukan manusia, melainkan segerombolan harimau besar. Ajaibnya, hewan-hewan buas itu tidak menyerang Ki Ahmad. Sebaliknya, mereka menunjukkan arah di mana Pangeran Prabu berada. Sejak peristiwa itu, masyarakat meyakini bahwa gong tersebut memiliki kekuatan untuk memanggil harimau penjaga, dan namanya pun berganti menjadi Gong Kyai Pradah — dari kata “pradah” yang berarti macan atau harimau.
Cerita ini terus berkembang dalam lisan masyarakat Lodoyo, menjadi bagian dari mitologi lokal yang masih dipercaya hingga kini. Gong yang dahulu menggetarkan medan perang, kini dipercaya sebagai penjaga spiritual wilayah.
Baca Juga: Cuma Bermodalkan HP, Cek PIP Tahap 2 Bisa dari Rumah: Ini Caranya!
Dari Pusaka Kerajaan ke Simbol Spiritualitas Lokal
Setelah Pangeran Prabu menitipkan Gong Kyai Pradah kepada Nyai Partasuta di Lodoyo, pusaka ini diwariskan secara turun-temurun ke berbagai tokoh adat dan spiritual lokal. Kini, Gong Kyai Pradah disimpan di Gedung Pusaka Desa Kalipalang, Lodoyo, dan dirawat oleh juru kunci yang ditunjuk secara adat.
Fungsi gong pun berubah drastis. Bukan lagi senjata, melainkan benda pusaka yang membawa berkah dan ketenangan. Setiap tahun, masyarakat setempat menyelenggarakan ritual jamasan sebagai bentuk perawatan spiritual pusaka. Air bekas siraman gong diyakini bisa menyembuhkan penyakit dan memberikan keberkahan bagi yang meminumnya.
“Gong ini bukan benda biasa. Ia saksi sejarah dan bagian dari jiwa masyarakat Lodoyo. Jamasan bukan hanya ritual, tapi juga bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur,” ujar Ki Sumarto, tokoh adat setempat.
Magnet Budaya dan Spiritualitas
Ritual jamasan Gong Kyai Pradah selalu menarik ribuan pengunjung dari dalam dan luar daerah. Warga berdatangan dengan membawa botol atau jeriken untuk membawa pulang air bekas jamasan. Tak jarang, wisatawan budaya dan peneliti sejarah pun ikut menyaksikan prosesi yang penuh khidmat ini.
Pemerintah Kabupaten Blitar telah menetapkan Gong Kyai Pradah sebagai bagian dari warisan budaya tak benda yang wajib dilestarikan. Tradisi ini juga menjadi kalender budaya tahunan yang turut mendongkrak potensi pariwisata di wilayah Blitar selatan.
“Nilai budaya Gong Kyai Pradah sangat tinggi. Dari sejarah perang hingga kepercayaan spiritual masyarakat, semuanya terjalin dalam satu narasi yang hidup,” kata Kepala Dinas Pariwisata Blitar.
Warisan Hidup yang Melewati Zaman
Hingga kini, Gong Kyai Pradah masih memainkan peran penting dalam identitas masyarakat Lodoyo. Ia menjadi simbol transformasi budaya—dari senjata fisik menjadi kekuatan batin. Dari medan perang ke medan spiritual.
Kisahnya menegaskan bahwa sejarah bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga kekuatan yang membentuk keyakinan, kebersamaan, dan identitas suatu komunitas. Di tengah modernisasi yang terus bergerak, Gong Kyai Pradah menjadi pengingat akan pentingnya menjaga akar budaya dan menghormati pusaka leluhur.
Editor : Anggi Septian A.P.