BLITAR - blitarkawentar.jawapos.com – Candi Penataran, yang berdiri anggun di kaki Gunung Kelud, Blitar, bukan sekadar situs arkeologi. Lebih dari itu, ia menjadi saksi bisu berbagai peristiwa penting yang membentuk sejarah spiritual dan politik Nusantara. Dari letusan Gunung Kelud yang dahsyat pada 1334 M, kelahiran Hayam Wuruk sang raja agung, hingga terucapnya Sumpah Palapa oleh Mahapatih Gajah Mada—semuanya berkaitan erat dengan aura sakral Candi Penataran.
Kompleks Candi Penataran dipercaya menjadi pusat upacara spiritual penting dalam masa Majapahit, sekaligus simbol penyatuan antara mikrokosmos manusia dan makrokosmos semesta. Dalam kepercayaan Hindu-Jawa, candi bukan hanya tempat persembahan kepada dewa, tetapi juga ruang transformasi spiritual, tempat seorang raja menguatkan legitimasi kekuasaannya melalui praktik-praktik religius yang mendalam.
Salah satu kisah paling legendaris yang berkaitan dengan Candi Penataran adalah peran Empu Iswara, seorang pertapa sakti yang dipercaya mampu meredam amarah Gunung Kelud melalui tapa dan doa-doanya. Dalam catatan sejarah dan tradisi tutur, pertapaan Empu Iswara ini diyakini mengurangi intensitas letusan Kelud yang meletus pada tahun 1334 M—tahun yang juga dipercaya sebagai masa kelahiran Hayam Wuruk. Banyak yang menafsirkan ini sebagai pertanda sakral: kelahiran raja besar bertepatan dengan terkendalinya alam yang mengamuk.
Baca Juga: Jangan Senang Dulu! Kalau Cair PIP Tahun Lalu Bulan Ini, Tahun Ini Bisa Gagal Dapat
Kelahiran Hayam Wuruk dan Tanda Langit
Letusan Gunung Kelud tahun 1334 M bukan hanya bencana alam, melainkan juga dianggap sebagai isyarat langit atas kelahiran seorang pemimpin besar. Hayam Wuruk, raja yang nantinya membawa Majapahit ke puncak kejayaan, lahir di tahun yang sama.
Kehadiran Candi Penataran di wilayah Blitar menjadikan daerah ini memiliki aura spiritual yang kuat—sebuah pusat keseimbangan antara alam, manusia, dan dewa.
Candi ini tak ubahnya sebagai semacam “tanah suci” bagi Majapahit, pelengkap dari pusat kekuasaan politik di Trowulan. Di sinilah raja dan para pejabat tinggi spiritual melakukan pemujaan kepada Dewa Siwa dalam wujud Batara Girinata, serta memohon berkah, perlindungan, dan legitimasi dari alam semesta. Penyatuan antara raja dan dewa bukan hanya simbolik, tapi juga nyata dalam prosesi dan ritual yang dilakukan secara berkala di Candi Penataran.
Baca Juga: Pemkab Blitar Target Pajak MBLB Capai Rp 1 Miliar, Pos Pemantauan Diperluas
Sumpah Palapa dan Misi Penyatuan Nusantara
Momen sakral lainnya yang dikaitkan dengan Penataran adalah Sumpah Palapa—ikrar Mahapatih Gajah Mada yang menyatakan tidak akan menikmati palapa (kenikmatan duniawi) sebelum menyatukan seluruh Nusantara.
Meskipun Sumpah Palapa diucapkan dalam forum resmi kerajaan, banyak sejarawan spiritualis percaya bahwa penguatan sumpah tersebut dilakukan dalam prosesi spiritual di tempat-tempat suci seperti Penataran.
Candi Penataran dalam hal ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ritual, tetapi juga menjadi “laboratorium spiritual” tempat para elit Majapahit melakukan kontemplasi, pemurnian batin, dan komunikasi dengan kekuatan alam dan ilahiah. Tempat ini diyakini sebagai “jembatan” antara dunia manusia dan dunia dewa, di mana sumpah, doa, dan pengabdian memiliki resonansi yang lebih tinggi.
Baca Juga: Punya Surat Aktivasi Rekening Simpel? Bersiaplah, Dana PIP Tahap 2 Segera Masuk
Raja sebagai Titik Kosmis
Dalam pandangan keagamaan Majapahit, seorang raja bukan sekadar pemimpin duniawi, melainkan juga representasi dari Dewa Siwa di dunia. Oleh karena itu, seluruh perjalanan spiritual raja—mulai dari inisiasi, meditasi, hingga penyatuan batin dengan alam semesta—sering kali dilakukan di tempat-tempat seperti Candi Penataran.
Prasasti dan relief di kawasan candi menunjukkan adanya pemujaan kepada dewa dalam bentuk pemujaan gunung (Girinata), api suci, dan meditasi mendalam.
Hal ini menunjukkan bahwa Penataran bukan hanya ruang peribadatan, tetapi juga tempat transendensi spiritual bagi para raja, tempat di mana mereka “diangkat” secara simbolik untuk menjadi Dewa Raja.
Baca Juga: Pemkot Blitar Ajukan Proposal Rp 30 M ke Kemenpora Rombak Sirkuit Bung Karno
Warisan yang Tak Habis Ditafsir
Hingga hari ini, aura sakral Candi Penataran tetap memikat. Ratusan peziarah dan peneliti terus berdatangan, tidak hanya untuk melihat relief dan bangunan, tetapi juga untuk merasakan energi spiritual yang mengalir di antara batu-batu purba.
Setiap kisah, setiap arca, dan setiap relief mengandung makna mendalam—seolah menjadi saksi abadi terhadap perjuangan spiritual para leluhur dalam menjaga keseimbangan semesta.
Dalam pandangan budaya Jawa, tempat seperti Penataran adalah “pakubuwana”—sumbu dunia—yang menjaga harmoni antara langit dan bumi. Momen-momen sakral yang terjadi di sekitarnya adalah refleksi dari hubungan manusia dengan kekuatan yang lebih besar, kekuatan yang tak hanya memerintah tetapi juga menyatukan dan melindungi.
Baca Juga: Punya Surat Aktivasi Rekening Simpel? Bersiaplah, Dana PIP Tahap 2 Segera Masuk
Editor : Anggi Septian A.P.