Blitar – Gong Kyai Pradah bukan hanya pusaka sakti, tapi juga pintu masuk untuk memahami jejak-jejak toponim (nama tempat) di wilayah Lodoyo, Blitar Selatan. Sejumlah nama desa dan gunung seperti Pakel, Gunung Peranti, Gagawurung, hingga Bukit Gelung diyakini muncul dari kisah pengembaraan Pangeran Prabu—tokoh yang membawa Gong Kyai Pradah dalam pelarian politik dari Keraton Kartasura.
Cerita rakyat ini tak tercatat dalam babad resmi, namun diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi oleh masyarakat Lodoyo. Benda pusaka seperti Gong Kyai Pradah menjadi simbol kuat pengikat antara mitos dan ruang geografis, membentuk identitas lokal yang hidup hingga hari ini. Ritual jamasan gong yang dilakukan tiap 1 Syawal dan 12 Rabiul Awal menjadi momentum pengingat akan sejarah lisan tersebut.
Kisah perjalanan Pangeran Prabu dan Gong Kyai Pradah menjadi sumber asal muasal banyak nama tempat di wilayah Lodoyo. Setiap lokasi yang disinggahi dalam pelariannya menorehkan jejak memori kolektif dan lahir sebagai nama desa, gunung, maupun hutan yang kini menjadi bagian penting dari peta budaya Blitar.
Baca Juga: Jangan Senang Dulu! Kalau Cair PIP Tahun Lalu Bulan Ini, Tahun Ini Bisa Gagal Dapat
Pakel: Tempat Peristirahatan Sang Pangeran
Nama "Pakel" dipercaya berasal dari kisah ketika Pangeran Prabu dan abdinya beristirahat di bawah pohon pakel yang rindang di tengah hutan. Tempat itu menjadi titik pelarian pertama dari kejaran utusan keraton yang mengincarnya. Masyarakat setempat menamai daerah itu “Pakel” sebagai penghormatan sekaligus penanda sejarah lokal.
Di lokasi ini, dipercaya Pangeran Prabu mulai menetap sementara dan memulai kehidupannya sebagai pertapa. Gong Kyai Pradah tetap dijaga ketat oleh abdi dalem setia yang membawanya dengan penuh kehormatan, bahkan saat harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.
Gunung Peranti: Jejak Peralatan Kehidupan Bertapa
Setelah dari Pakel, perjalanan dilanjutkan ke sebuah bukit yang kini dikenal sebagai Gunung Peranti. Konon, di tempat ini abdi Pangeran Prabu menyembunyikan peralatan dapur, seperti kuali dan tungku, untuk menghindari jejak. Dari situlah muncul nama "Peranti", yang berasal dari kata "piranti" atau peralatan.
Legenda ini menjadi bagian penting dalam cerita rakyat yang hidup di sekitar desa Kalipalang dan Gondanglegi. Gong Kyai Pradah sendiri diyakini sering dibunyikan diam-diam oleh abdi kerajaan untuk memanggil sang pangeran jika berpencar di hutan lebat.
Gagawurung: Pertemuan Ajaib dengan Burung Misterius
Gagawurung, yang kini menjadi salah satu nama dusun di Blitar Selatan, berasal dari kisah ketika Pangeran Prabu dan rombongannya menemukan sekumpulan burung yang terus terbang rendah dan mengitari mereka. Burung-burung ini disebut sebagai penanda arah jalan menuju tempat aman.
Nama “Gagawurung” berasal dari frasa “gaga wurung”, yang berarti “gagal bubar” — merujuk pada kawanan burung yang tidak pernah pergi hingga sang pangeran memutuskan menetap sementara di lokasi tersebut. Masyarakat mempercayainya sebagai bentuk perlindungan gaib selama pelarian.
Bukit Gelung: Tempat Penyembunyian Gong Kyai Pradah
Salah satu titik paling sakral dalam jejak pelarian ini adalah Bukit Gelung. Di sinilah Gong Kyai Pradah dikabarkan sempat disembunyikan di dalam goa selama masa pengejaran. Kata “Gelung” mengacu pada bentuk melingkar atau terlipat, menggambarkan gua tempat persembunyian pusaka tersebut.
Hingga kini, warga sekitar masih menjadikan Bukit Gelung sebagai tempat bertapa atau meditasi spiritual. Tidak sedikit yang meyakini bahwa aura mistis Bukit Gelung berasal dari masa ketika Gong Kyai Pradah disimpan di sana.
Kearifan Lokal dan Potensi Wisata Sejarah
Kisah-kisah ini mungkin tidak terdokumentasi secara resmi dalam catatan sejarah nasional. Namun, kekuatannya justru terletak pada keberlanjutan narasi dari mulut ke mulut yang menjadikan legenda ini sebagai pondasi identitas lokal. Gong Kyai Pradah bukan hanya benda pusaka, tapi simbol dari sejarah lisan yang mengikat komunitas Lodoyo dengan tanah leluhur mereka.
Potensi wisata berbasis budaya dan sejarah sangat besar. Jika digarap secara serius, jalur pelarian Pangeran Prabu ini bisa dikembangkan menjadi rute wisata sejarah dan spiritual. Dengan pemandu lokal dan narasi yang kuat, destinasi seperti Pakel, Peranti, Gagawurung hingga Bukit Gelung dapat menjadi tujuan edukatif dan inspiratif.
“Cerita-cerita ini tidak kalah menarik dibanding legenda besar lainnya. Kita punya kekayaan lokal yang autentik dan belum tergarap optimal,” ujar Rina Kartikasari, pegiat budaya Blitar Selatan.
Baca Juga: Pemkab Blitar Target Pajak MBLB Capai Rp 1 Miliar, Pos Pemantauan Diperluas
Pelestarian Sejarah Lisan: PR Bersama
Pelestarian toponim dan sejarah lisan ini tidak bisa hanya diserahkan pada juru kunci atau sesepuh desa. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lokal untuk mendokumentasikan serta menghidupkan kembali narasi-narasi yang membentuk identitas Blitar.
Digitalisasi cerita rakyat, festival tematik, hingga revitalisasi situs-situs legendaris perlu dilakukan agar generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya. Gong Kyai Pradah dan kisah Pangeran Prabu menjadi titik awal yang kuat untuk merajut ulang warisan kultural masyarakat Blitar.
Dengan semangat tersebut, Lodoyo tak hanya dikenal sebagai wilayah pinggiran, tapi sebagai pusat peradaban kecil yang menyimpan kearifan besar—tersembunyi di balik nama-nama tempat yang sarat makna.
Editor : Anggi Septian A.P.