Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Jejak Asal-Usul Nama Lodoyo: Dari Lo Doyong hingga Kota Legendaris Blitar Selatan

Ichaa Melinda Putri • Rabu, 30 Juli 2025 | 22:00 WIB

Jejak Asal-Usul Nama Lodoyo: Dari Lo Doyong hingga Kota Legendaris Blitar Selatan
Jejak Asal-Usul Nama Lodoyo: Dari Lo Doyong hingga Kota Legendaris Blitar Selatan

BLITAR – Tak banyak yang tahu bahwa nama Lodoyo, salah satu kawasan legendaris di Kabupaten Blitar bagian selatan, memiliki akar sejarah dan budaya yang panjang. Nama Lodoyo konon berasal dari kata Lo Doyong, sebuah istilah kuno yang merujuk pada pohon besar yang tumbuh miring di tepi sungai. Dari situlah, jejak peradaban Lodoyo bermula.

Berdasarkan penelusuran tim Blitar Apik melalui para sesepuh dan tokoh budaya setempat, Lo Doyong dulunya adalah nama sebuah wilayah yang berada di dekat aliran sungai di Sutojayan. Pohon besar yang doyong (miring) itu menjadi penanda alam sekaligus titik awal pembentukan perkampungan yang kini dikenal sebagai Lodoyo. Dari sejarah Lodoyo inilah berkembang cerita-cerita rakyat yang masih hidup hingga kini.

Perubahan nama dari Lo Doyong menjadi Lodoyo tidak terjadi secara instan. Proses asimilasi bahasa dan perkembangan wilayah menjadikan nama itu melekat dan diterima sebagai identitas resmi. Kini, Lodoyo dikenal sebagai pusat budaya Blitar Selatan, yang tidak hanya menyimpan sejarah tetapi juga ritual adat, pusaka spiritual, hingga tradisi mistis yang mengakar kuat di masyarakat.

Baca Juga: Mengupas Mitos Sejarah Ikan Dewa di Pelataran Telaga Rambut Monte Kabupaten Blitar

Dari Sungai ke Cerita Rakyat

Menurut penuturan Mbah Jan dan Mbah Bakri, dua tokoh sepuh yang dijumpai tim Blitar Apik, dulunya wilayah Lodoyo adalah hutan belantara yang dialiri sungai besar. Di pinggir sungai itulah tumbuh sebuah pohon "lo" yang doyong atau miring ke arah barat. Pohon inilah yang dijadikan titik temu warga sekitar untuk berbagai kegiatan, termasuk musyawarah dan ritual kepercayaan.

“Lo Doyong iku jeneng panggonan awal. Lo kuwi wit lo, doyong kuwi merga miring. Sing dadi lambang panggonan,” jelas Mbah Jan dalam bahasa Jawa halus.

Seiring waktu, kawasan ini mulai berkembang menjadi permukiman, lalu dikenal masyarakat luar sebagai Lo Doyong. Karena penyebutan yang berulang dan adaptasi bahasa, nama ini kemudian disingkat dan difonemkan menjadi Lodoyo. Nama ini resmi digunakan hingga sekarang dalam administrasi pemerintahan maupun narasi sejarah.

Baca Juga: Destinasi Wisata Sejarah Goa Selomangleng Kediri

Lodoyo dan Peran Budayanya

Bukan sekadar nama tempat, Lodoyo berkembang menjadi kawasan yang sarat akan kegiatan budaya. Di sinilah tempat berbagai tradisi sakral digelar, seperti siraman Gong Kyai Pradah, ziarah ke situs leluhur, hingga upacara adat lainnya. Lodoyo juga menjadi rumah bagi tokoh-tokoh spiritual dan penjaga tradisi yang dipercaya masyarakat sebagai penghubung antara masa lalu dan masa kini.

Keberadaan Ibukota Lodaya di pusat Lodoyo menjadi penanda betapa pentingnya kawasan ini dalam lanskap sejarah dan budaya Blitar Selatan. Bahkan banyak warga menyebut Lodoyo sebagai titik energi spiritual yang memiliki kaitan erat dengan Kerajaan Mataram kuno.

“Lodoyo niku ora mung panggonan, nanging roh budaya. Ono jejak leluhur ing saben pojoké,” ujar Pak Nurman, pemerhati sejarah lokal.

Baca Juga: Sejarah Blitar: Asal Usul Nama Blitar Ternyata dari Kata Bali Tartar, Ini Kisah Epiknya!

Legenda dan Pusaka

Sebagai kawasan tua, Lodoyo tidak lepas dari legenda dan cerita mistis. Salah satu yang paling dikenal adalah keberadaan Gong Kyai Pradah, pusaka gaib yang disebut sebagai tumbal penjaga Lodoyo. Gong tersebut disimpan di area khusus dan hanya dimandikan setahun sekali saat bulan Maulud, dengan harapan menjaga keseimbangan dan keberkahan wilayah.

Konon, dentuman gong ini bisa terdengar hingga Solo — tempat di mana pasangan spiritual Kyai Pradah, yakni Kyai Pradu, dipercaya berada. Cerita-cerita seperti inilah yang memperkuat citra Lodoyo sebagai wilayah spiritual dan budaya yang hidup, bukan hanya sebagai nama di peta.

Dari Jejak ke Warisan

Kini, upaya pelestarian sejarah Lodoyo terus digencarkan oleh komunitas lokal dan kanal budaya seperti blitarapik.id. Dengan menggali kembali jejak nama, asal-usul, hingga simbol-simbol budaya yang menyertainya, Lodoyo diharapkan tetap menjadi pusat peradaban Blitar Selatan yang tidak hanya dikenang, tapi juga dipahami generasi baru.

Program Mubeng Blitar yang diinisiasi Blitar Apik adalah salah satu upaya memperkenalkan Lodoyo kepada khalayak yang lebih luas. Melalui format video dokumenter yang ringan namun informatif, kisah-kisah lokal dikemas agar bisa diakses dengan mudah di era digital.

“Sejarah Lodoyo penting dikenal, karena dari sinilah kita tahu siapa kita dan bagaimana leluhur kita hidup,” tambah Pak Rohman, tokoh budaya lainnya.

Baca Juga: Legenda di Balik Nama Tempat: Pakel, Peranti, Gagawurung dan Bukti Sejarah Lisan Lodoyo

Potensi Wisata Budaya

Dengan kekayaan cerita, lokasi yang strategis, serta adanya situs-situs budaya yang masih terawat, Lodoyo memiliki potensi besar dikembangkan sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Pemerintah daerah pun mulai melirik kawasan ini untuk dijadikan pusat kegiatan budaya tahunan yang dapat menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.

Selain Gong Kyai Pradah, Lodoyo juga memiliki berbagai sanggar seni, punden bersejarah, dan komunitas pengrajin lokal yang bisa diberdayakan lebih lanjut.

Dari sebuah pohon doyong di pinggir sungai, nama Lodoyo menjelma menjadi ikon budaya Blitar Selatan yang sarat makna. Bukan sekadar cerita rakyat, tapi juga bagian dari identitas kolektif masyarakat yang hidup berdampingan dengan sejarah, alam, dan spiritualitas. Mengingat asal usul nama Lodoyo adalah cara kita menjaga warisan, agar tidak hilang ditelan zaman.

Editor : Anggi Septian A.P.
#lodoyo #sejarah blitar #gong kyai pradah