BLITAR – Di tengah gempuran modernitas dan semakin lunturnya tradisi-tradisi lokal, masyarakat Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar, masih teguh menjaga warisan budaya yang sudah berlangsung turun-temurun: tradisi siraman Gong Kyai Pradah. Ritual sakral ini hanya dilakukan pada bulan tertentu, biasanya di bulan Maulud, dan dipercaya sebagai bentuk penghormatan serta penjagaan terhadap tumbal gaib penjaga Lodoyo.
Tradisi ini tidak hanya unik, tapi juga sarat makna spiritual. Gong Kyai Pradah diyakini sebagai pusaka gaib yang memiliki kekuatan melindungi kawasan Lodoyo. Memandikannya secara berkala menjadi semacam persembahan dan bentuk pelestarian energi spiritual yang ada dalam gong tersebut. Prosesi ini berlangsung secara tertutup dan hanya dihadiri oleh tokoh adat dan warga yang telah disucikan secara batin.
Menurut laporan kanal budaya Blitar Apik yang ditayangkan di YouTube dan Instagram @blitarapik.id, tradisi siraman Gong Kyai Pradah telah ada sejak masa Mataram dan masih dilanjutkan hingga kini. Gong ini tidak boleh sembarangan disentuh, apalagi dipindahkan. Hanya orang-orang terpilih yang dianggap mampu secara spiritual yang diperkenankan mendekat dan terlibat langsung dalam ritual tersebut.
Baca Juga: Sejarah Blitar: Blitar Dibabat dari Hutan Angker, Atas Perintah Langsung Raden Wijaya!
Pusaka Mistis Penjaga Lodoyo
Gong Kyai Pradah disimpan dalam sebuah ruang khusus yang berada di kawasan Ibukota Lodaya, tak jauh dari sungai tempat nama Lodoyo berasal. Gong ini dipercaya sebagai "tumbal" yang menjaga keseimbangan alam dan spiritual wilayah Lodoyo. Warga sekitar meyakini, bila gong tidak dimandikan tepat waktu, maka wilayah tersebut akan dilanda bencana atau kekacauan batin masyarakat.
Diapit oleh dua patung macan, gong tersebut menjadi simbol kekuatan gaib pasangan leluhur: Kyai Pradah, yang dianggap sebagai sosok laki-laki, dan Kyai Pradu, pasangannya yang berada di Solo. Dalam cerita masyarakat, gong ini bahkan bisa “berkomunikasi” dengan pasangannya melalui dentuman suara yang terdengar hingga ke Solo setiap kali ditabuh di malam siraman.
“Pas muludan, ditabuh gongé. Suarane iso tekan Solo. Masyarakat percaya niku sinyal batin antara Kyai Pradah lan Kyai Pradu,” terang Mbah Jani, sesepuh adat dalam dokumentasi Blitar Apik.
Baca Juga: Sejarah Persebaran Agama Islam di Pulau Jawa Oleh Syekh Siti Jenar
Siraman Bukan Sekadar Air
Ritual siraman bukan sekadar proses menyiram air ke gong. Prosesi ini diawali dengan doa-doa dan pembacaan mantra oleh pemuka adat. Air yang digunakan pun tidak sembarangan — biasanya berasal dari tujuh sumber mata air dan telah diberi doa khusus. Siraman dilakukan perlahan, diiringi alunan doa dan keheningan yang menciptakan suasana sakral.
Setelah proses siraman selesai, gong biasanya ditabuh satu kali untuk “membangunkan” energi gaib di dalamnya. Ini menjadi momen puncak ritual yang disaksikan dalam diam dan tak jarang membuat bulu kuduk berdiri, meski dilakukan siang hari.
“Wong sing ora kuat batiné, ojo cedhak. Ono sing semaput, ono sing ora kuat ndelok,” cerita warga yang ikut menyaksikan dari kejauhan.
Baca Juga: Sejarah Blitar: Nila Suwarna, Satria Majapahit yang Jadi Adipati Pertama Blitar
Menolak Lupa, Menolak Luntur
Tradisi ini menjadi salah satu yang bertahan dari gempuran zaman. Banyak daerah di Indonesia yang sudah kehilangan identitas adatnya, namun Lodoyo justru terus menjaga budaya Jawa yang kental dengan spiritualitas. Gong Kyai Pradah adalah bagian dari narasi kolektif masyarakat Lodoyo yang menolak dilupakan.
Tokoh-tokoh muda seperti Pak Nurman dan komunitas Blitar Apik kini berperan aktif mengarsipkan tradisi ini ke dalam format digital. Mereka mendokumentasikan prosesnya, mewawancarai para sesepuh, dan menyebarluaskannya di media sosial. Tujuannya: agar generasi muda tidak asing dengan budaya leluhur mereka.
“Kalau tidak didokumentasi, generasi mendatang bisa kehilangan jejak. Padahal ini warisan luar biasa,” ujar Pak Nurman dalam unggahan @blitarapik.id.
Baca Juga: 5 Kerajaan, 1 Candi: Jejak Sejarah Panjang Candi Penataran dari Kediri hingga Majapahit
Antara Mitos dan Keyakinan
Bagi sebagian orang, kisah seputar Gong Kyai Pradah terdengar seperti mitos atau legenda. Tapi bagi masyarakat Lodoyo, ini adalah keyakinan yang telah mengakar dalam keseharian mereka. Cerita tentang warga yang kesurupan saat coba memindahkan gong, hingga kisah tragis Pak Wejono — pria kuat yang wafat setelah mencoba mengangkat gong pada tahun 1969 — menjadi bukti bahwa gong ini bukan benda biasa.
“Dulu Pak Wejono ngangkat dewe. Gagal. Geplak mati. Wong sak kuat-kuate ora kuwat ndelok gong niku,” kenang warga dalam logat khas Blitar Selatan.
Harapan agar Diakui Luas
Dengan semua kekayaan budaya dan spiritualitas yang melekat, Lodoyo memiliki potensi besar untuk menjadi destinasi wisata budaya dan spiritual. Ritual siraman Gong Kyai Pradah bisa menjadi daya tarik tersendiri jika dikemas dengan bijak, tetap menjaga kesakralannya, namun terbuka untuk edukasi.
Baca Juga: Kisah Dewi Kilisuci di Gua Selomangleng, Mitos atau Fakta Sejarah?
Pemerintah daerah diharapkan memberi perhatian lebih, termasuk mencatat tradisi ini sebagai warisan budaya tak benda. Komunitas lokal juga berharap adanya dukungan fasilitas dan pelatihan untuk mendokumentasikan tradisi ini secara profesional dan berkelanjutan.
Tradisi siraman Gong Kyai Pradah bukan sekadar warisan budaya, tapi juga wujud kepercayaan masyarakat Lodoyo terhadap keseimbangan antara dunia nyata dan gaib. Di tengah era yang serba cepat dan instan, Lodoyo mengingatkan kita untuk kembali pada akar budaya, menghargai warisan leluhur, dan menjaga harmoni spiritual yang telah diwariskan sejak dulu.
Editor : Anggi Septian A.P.