Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Candi Penataran: Warisan 3 Kerajaan dalam Sejarah Blitar, Kolam Mistisnya Tak Pernah Kering

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Kamis, 31 Juli 2025 | 01:00 WIB
Di balik gemuruh aktivitas Blitar modern, terdapat satu warisan yang masih berdiri kokoh menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu: Candi Penataran. Kompleks percandian ini tak hanya menjadi situs budaya
Di balik gemuruh aktivitas Blitar modern, terdapat satu warisan yang masih berdiri kokoh menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu: Candi Penataran. Kompleks percandian ini tak hanya menjadi situs budaya

BLITAR – Di balik gemuruh aktivitas Blitar modern, terdapat satu warisan yang masih berdiri kokoh menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu: Candi Penataran. Kompleks percandian ini tak hanya menjadi situs budaya terbesar di Jawa Timur, namun juga menyimpan cerita menarik yang berkaitan erat dengan sejarah Blitar. Salah satu bagian yang hingga kini menyita perhatian adalah kolam suci di halaman belakang candi inti yang dipercaya tak pernah kering meski musim kemarau melanda.

Keberadaan kolam ini menjadi daya tarik tersendiri, terutama bagi para peziarah dan pengunjung yang datang tak hanya untuk menikmati arsitektur peninggalan kerajaan, tapi juga ingin merasakan suasana spiritual di tempat yang dahulu digunakan sebagai pusat pemujaan Dewa Gunung. Cerita tentang kolam yang tak pernah kering itu seolah menambah lapisan magis dalam catatan panjang sejarah Blitar.

Dilansir Kompas TV Kediri, kolam suci ini dahulu digunakan untuk ritual keagamaan oleh para raja dan pemuka spiritual dari tiga kerajaan besar: Kadiri, Singasari, dan Majapahit. Tidak heran, jika keberadaan air yang terus mengalir tanpa henti meskipun di tengah musim kemarau dianggap sebagai simbol kekuatan spiritual dan berkah yang masih terjaga hingga kini. Kolam ini tidak hanya menjadi peninggalan fisik, namun juga menyatu dalam memori kolektif masyarakat Blitar sebagai bagian penting dari sejarah Blitar.

Baca Juga: Bantuan Balita dan SD di PKH Akhirnya Cair: Ini Nominal dan Cara Ceknya

Kolam Suci, Air Abadi

Terletak di halaman paling belakang dari kompleks Candi Penataran, kolam ini sekilas tampak sederhana. Namun siapa sangka, di balik kejernihannya, tersimpan cerita turun-temurun dari warga sekitar. Banyak pengunjung yang meyakini bahwa air kolam ini memiliki energi spiritual dan sering digunakan untuk "suwuk" atau penyembuhan batin.

"Iki wes sak ketoke ora tau entek banyune. Wong panas nganti telung minggu, tetep wae ana banyune. Kuwi jenenge berkah leluhur," ujar Pak Seno, juru pelihara kompleks candi, kepada tim Kompas TV Kediri.

Menurutnya, selain tidak pernah kering, air kolam juga tetap bersih dan jernih, meski tanpa sistem sirkulasi modern. "Biasanya ada yang ambil air buat dibawa pulang. Niatnya untuk doa, sebagai penguat batin," tambahnya.

Baca Juga: ⁠BPN-Kemenag Kejar Legalisasi Ratusan Bidang Tanah Wakaf di Kota Blitar

Jejak Peradaban 3 Kerajaan

Candi Penataran adalah satu-satunya kompleks candi di Indonesia yang dibangun dan dikembangkan oleh tiga kerajaan besar. Dimulai dari Kerajaan Kadiri pada abad ke-12, kemudian diteruskan oleh Singasari, dan terakhir diperluas oleh Majapahit.

Kompleks seluas hampir dua hektar ini terdiri dari tiga halaman utama. Setiap halaman memiliki struktur bangunan yang berbeda dan sarat makna filosofis. Di antaranya terdapat Candi Angkasa Hun, Candi Naga, dan Candi Inti Penataran—di mana kolam suci tersebut berada tak jauh dari lokasi candi utama.

"Kalau kita perhatikan relief-relief yang ada, semuanya bukan hanya artistik tapi juga mengandung pesan moral dan spiritual," jelas Iva Yunika, reporter Kompas TV Kediri, yang turut meliput suasana Candi Penataran saat malam purnama.

Baca Juga: Akhirnya, Polres Blitar Putuskan Kebijakan Kegiatan Acara Sound Horeg

Magis dalam Balutan Budaya

Keistimewaan Candi Penataran bukan hanya pada struktur bangunannya atau relief kisah Ramayana dan Krisnayana yang menghiasi dindingnya. Namun juga pada suasana yang dibangun oleh masyarakat sekitar, terutama saat digelarnya acara budaya Purnama Seruling Penataran.

Pada malam bulan purnama, warga berkumpul untuk meniup seruling bambu bersama, menciptakan harmoni nada yang membawa pengunjung seolah kembali ke suasana kerajaan ratusan tahun silam. Acara ini tak hanya menjadi pertunjukan budaya, tapi juga ritual spiritual yang memperkuat koneksi antara masyarakat Blitar masa kini dengan warisan leluhurnya.

"Nuansa magisnya kerasa banget. Apalagi kalau seruling dibunyikan bareng-bareng di bawah sinar bulan," kata Riza Aquila, jurnalis Kompas TV Kediri yang juga merekam momen tersebut untuk tayangan akhir pekan lalu.

Baca Juga: ⁠Vaksinasi Jangan Tunggu Wabah PMK Merebak, Ini Langkah Disnakkan

Wisata Edukasi Sejarah

Saat ini, Pemerintah Kabupaten Blitar telah menetapkan Candi Penataran sebagai salah satu destinasi wisata edukasi sejarah. Selain sebagai bangunan cagar budaya, kompleks ini juga menjadi lokasi pembelajaran bagi pelajar, peneliti, hingga wisatawan mancanegara.

Pengunjung bisa menyusuri setiap sudut candi, belajar dari relief yang terpahat, hingga meresapi nilai spiritual yang melekat pada situs ini. Di akhir perjalanan, banyak yang menyempatkan diri untuk mampir ke kolam suci, sekadar membasuh muka, atau sekadar duduk menenangkan pikiran.

Mencintai Blitar Lewat Warisan Leluhur

Candi Penataran adalah representasi nyata dari tingginya peradaban nenek moyang bangsa Indonesia. Lewat sejarah Blitar yang melekat kuat di setiap batunya, kompleks ini mengajarkan bahwa kearifan lokal dan spiritualitas telah lama menjadi bagian dari jati diri masyarakat.

Kini, tugas menjaga dan merawatnya tidak hanya di tangan pemerintah atau juru pelihara. Tapi juga kita semua—yang mencintai Blitar, dan menghargai warisan leluhur.

Editor : Anggi Septian A.P.
#candi penataran #sejarah blitar