BLITAR — Jika bicara tentang sejarah Blitar, tak lengkap tanpa menyebut Candi Penataran. Terletak di Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, kompleks percandian ini bukan hanya terbesar di Jawa Timur, tapi juga menjadi simbol peradaban tinggi yang tumbuh di wilayah selatan Sungai Brantas sejak abad ke-12.
Berdiri di atas lahan seluas dua hektar, Candi Penataran adalah situs sejarah yang dibangun lintas generasi oleh tiga kerajaan besar Nusantara: Kadiri, Singasari, dan Majapahit. Keberadaannya tak hanya menunjukkan keagungan arsitektur masa lampau, tapi juga menjadi bukti konkret betapa strategisnya Blitar dalam konstelasi politik dan spiritual kerajaan Jawa Kuno. Fakta ini menjadikan Candi Penataran sebagai salah satu ikon utama dalam sejarah Blitar.
Dikutip dari liputan Kompas TV Kediri, kompleks ini dinobatkan sebagai kompleks candi termegah dan terluas di Jawa Timur, melebihi popularitas Candi Jago maupun Candi Jawi di Malang. Tak heran, jika situs ini menjadi destinasi utama wisata sejarah dan edukasi bagi pelajar hingga peneliti, sekaligus menjadi lambang identitas kebanggaan masyarakat Blitar akan warisan luhur nenek moyangnya.
Baca Juga: Bantuan Balita dan SD di PKH Akhirnya Cair: Ini Nominal dan Cara Ceknya
Bukti Kejayaan Peradaban di Kaki Gunung Kelud
Terletak di kaki Gunung Kelud, Candi Penataran dibangun bukan tanpa alasan. Selain sebagai tempat pemujaan Dewa Gunung, posisi geografis ini dianggap sakral dan strategis. Raja-raja dari tiga kerajaan besar memanfaatkan lokasi ini untuk mengukuhkan kekuasaan dan melakukan upacara religius demi menangkal bencana, terutama letusan gunung.
“Bangunan candi ini menjadi bukti konkret bahwa pada masa lalu, Blitar merupakan wilayah penting secara spiritual maupun politis,” terang Iva Yunika, jurnalis Kompas TV Kediri, yang turut meliput kegiatan edukatif pelajar di lokasi tersebut.
Kompleks ini terbagi dalam tiga halaman utama. Masing-masing dipisahkan oleh arca Dwarapala, penjaga gerbang yang melambangkan kekuatan dan perlindungan. Di setiap halaman, terdapat bangunan dengan fungsi dan makna yang berbeda—mulai dari pendopo teras, Candi Naga, Candi Angka Tahun, hingga bangunan utama Candi Inti.
Baca Juga: BPN-Kemenag Kejar Legalisasi Ratusan Bidang Tanah Wakaf di Kota Blitar
Arsitektur Megah yang Sarat Makna
Salah satu keunggulan Candi Penataran adalah ragam relief yang menghiasi bangunannya. Relief Ramayana dan Krisnayana terpahat rapi di dinding candi, memperlihatkan betapa kisah epos Hindu menjadi bagian dari tata nilai masyarakat pada masa itu.
Pada bagian dalam Candi Inti, terdapat Arca Ganesha dan lambang Surya Majapahit yang menggambarkan kekuatan intelektual dan kejayaan kekaisaran Majapahit. Menurut pengelola candi, arsitektur bangunan banyak mengadopsi konsep Candi Gunung, dengan teras bertingkat sebagai simbol naiknya spiritualitas manusia menuju kesempurnaan.
"Setiap relief dan bentuk bangunan punya makna filosofis. Tidak dibangun sembarangan. Ada perhitungan, ada pesan di baliknya," jelas Pak Seno, juru pelihara situs, kepada tim Kompas TV Kediri.
Baca Juga: Akhirnya, Polres Blitar Putuskan Kebijakan Kegiatan Acara Sound Horeg
Destinasi Edukasi Sejarah yang Semakin Populer
Ditetapkan sebagai wisata edukasi sejarah oleh Pemerintah Kabupaten Blitar, Candi Penataran kini tak hanya ramai oleh wisatawan umum, tapi juga siswa sekolah dan mahasiswa yang melakukan kunjungan belajar. Mereka diajak memahami struktur sosial dan religius masyarakat Jawa Kuno melalui bangunan yang masih utuh berdiri hingga kini.
Setiap bulan, terutama saat liburan sekolah, ratusan siswa dari berbagai daerah datang ke Penataran untuk mengikuti tur sejarah yang dipandu langsung oleh petugas cagar budaya. Aktivitas ini sangat membantu pelajar memahami konteks sejarah secara langsung dan mendalam.
"Anak-anak jadi lebih tertarik belajar sejarah setelah melihat langsung. Ini sangat membantu pembelajaran di luar kelas," kata Riza Aquila, videografer Kompas TV Kediri, yang mendokumentasikan aktivitas edukatif ini dalam program “Jelajah Budaya”.
Baca Juga: Vaksinasi Jangan Tunggu Wabah PMK Merebak, Ini Langkah Disnakkan
Menjadi Bagian dari Identitas Blitar
Masyarakat Blitar kini tak lagi hanya mengenal Candi Penataran sebagai situs kuno. Lebih dari itu, mereka mulai menjadikannya sebagai simbol kebanggaan lokal. Acara-acara kebudayaan seperti Purnama Seruling Penataran atau pertunjukan seni rutin diadakan untuk menghidupkan kembali semangat zaman kerajaan.
Candi Penataran tidak sekadar menjadi tempat bersejarah, tapi juga ruang hidup budaya. Bahkan beberapa seniman lokal menjadikan candi ini sebagai inspirasi karya lukisan, musik, hingga fotografi yang kemudian dipamerkan dalam ajang komunitas kreatif.
“Blitar punya peradaban besar. Candi Penataran ini bukan hanya sisa masa lalu, tapi bagian dari siapa kita hari ini,” ujar Dinda, pelajar SMA yang mengikuti program literasi budaya di lokasi tersebut.
Baca Juga: Kabar Gembira! BPNT dan PIP 2021 Mulai Cair, Ini Wilayah dan Jenis Bantuan yang Sudah Masuk
Candi Penataran, Bukti Nyata Kejayaan Leluhur
Dengan kekayaan sejarah, kemegahan arsitektur, dan kesinambungan budaya yang terus dijaga, Candi Penataran layak disebut sebagai simbol peradaban tinggi yang tumbuh dari tanah Blitar. Di tengah gempuran modernitas, situs ini tetap menjadi penanda identitas dan kebanggaan daerah yang tak lekang oleh waktu.
Dalam konteks sejarah Blitar, Candi Penataran bukan sekadar peninggalan—melainkan bukti nyata bahwa tanah ini pernah menjadi pusat spiritual, budaya, dan politik penting di Pulau Jawa. Kini, giliran generasi muda untuk menjaganya, memaknainya, dan meneruskan semangatnya.
Editor : Anggi Septian A.P.