Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cuma Ada di Blitar! Ritual Seruling Penataran Hadirkan Suasana Kerajaan Saat Purnama

Bherliana Naysila Putri Suwandi • Kamis, 31 Juli 2025 | 00:00 WIB
Suasana magis menyelimuti kompleks Candi Penataran setiap kali bulan purnama datang. Ratusan warga berkumpul, membawa seruling bambu, lalu secara serempak meniupkannya ke langit malam.
Suasana magis menyelimuti kompleks Candi Penataran setiap kali bulan purnama datang. Ratusan warga berkumpul, membawa seruling bambu, lalu secara serempak meniupkannya ke langit malam.

BLITAR – Suasana magis menyelimuti kompleks Candi Penataran setiap kali bulan purnama datang. Ratusan warga berkumpul, membawa seruling bambu, lalu secara serempak meniupkannya ke langit malam. Tradisi ini dikenal dengan nama Purnama Seruling Penataran, sebuah acara budaya yang hanya bisa ditemukan di Blitar dan menjadi bagian unik dalam sejarah Blitar modern.

Kegiatan ini tak hanya menyuguhkan nuansa artistik yang memukau, tetapi juga menghidupkan kembali semangat kejayaan masa lalu. Di bawah cahaya bulan purnama yang menerangi relief dan batu-batu purba, alunan seruling menciptakan suasana seperti berada di era kerajaan. Tradisi ini menjadi cara baru untuk mendekatkan generasi muda pada akar budaya dan sejarah Blitar melalui pendekatan yang kreatif dan menyentuh rasa.

Liputan Kompas TV Kediri menggambarkan bagaimana tradisi yang tergolong baru ini mampu memikat berbagai kalangan. Mulai dari seniman, pelajar, wisatawan, hingga masyarakat umum datang ke kompleks percandian termegah di Jawa Timur untuk mengikuti dan menyaksikan acara ini. Suasana khidmat, mistis, sekaligus artistik menjadikan Purnama Seruling Penataran sebagai bagian dari narasi hidup dalam sejarah Blitar yang terus berkembang.

Baca Juga: Bantuan Balita dan SD di PKH Akhirnya Cair: Ini Nominal dan Cara Ceknya

Meniup Masa Lalu, Menghidupkan Warisan Budaya

Di tengah malam yang syahdu, para peserta berdiri mengelilingi pelataran candi. Saat aba-aba diberikan, suara seruling bambu menggema perlahan, membentuk harmoni yang menyentuh batin. Bukan sembarang tiupan, setiap bunyi membawa harapan, doa, dan penghormatan kepada leluhur.

“Ini bukan sekadar acara seni. Ini bentuk rasa hormat kami pada warisan budaya, pada Candi Penataran yang luar biasa,” ujar Dwi Arisandi, koordinator komunitas Blitar Seruling, kepada tim Kompas TV Kediri.

Menurutnya, gagasan ini muncul dari kerinduan masyarakat akan sebuah kegiatan yang bisa menghadirkan suasana kerajaan tanpa harus berbicara formal atau terlalu akademis. "Lewat seruling, kita bisa merasakan getaran masa lalu yang hidup kembali malam ini," tambahnya.

Baca Juga: ⁠BPN-Kemenag Kejar Legalisasi Ratusan Bidang Tanah Wakaf di Kota Blitar

Kreativitas Lokal yang Mendunia

Meski digelar secara lokal, acara ini sudah mencuri perhatian nasional, bahkan mancanegara. Banyak kreator konten dari luar kota datang untuk mendokumentasikan acara tersebut. Video-video alunan seruling berlatar Candi Penataran kerap viral di TikTok dan Instagram, menjadikan ritual ini sebagai magnet budaya baru dari Blitar.

“Ini sangat Instagrammable. Tapi bukan cuma visual yang indah, maknanya juga dalam,” kata Sinta, content creator dari Yogyakarta yang khusus datang untuk meliput acara ini.

Dinas Pariwisata Kabupaten Blitar bahkan berencana menjadikan Purnama Seruling Penataran sebagai agenda tahunan berskala provinsi. Harapannya, ini bisa menjadi salah satu daya tarik wisata budaya yang tak hanya menghibur, tapi juga mengedukasi dan menghidupkan kreativitas lokal.

Baca Juga: Akhirnya, Polres Blitar Putuskan Kebijakan Kegiatan Acara Sound Horeg

Hadirkan Suasana Kerajaan Tanpa Panggung

Berbeda dengan pertunjukan seni konvensional yang mengandalkan panggung, lighting, dan penonton, acara ini justru menghilangkan batas antara penampil dan pengunjung. Semua yang hadir boleh meniup seruling bersama, membentuk orkestra alam yang mengisi ruang spiritual candi.

“Saat saya meniup seruling, saya merasa seperti bagian dari kerajaan Majapahit,” ujar Andika, seorang pelajar SMA yang baru pertama kali mengikuti acara ini.

Candi Penataran yang selama ini dikenal sebagai situs sejarah dan tempat ritual masa lampau, kini kembali menjadi ruang hidup budaya. Harmoni antara masa lalu dan masa kini inilah yang membuat acara ini begitu istimewa.

Baca Juga: ⁠Vaksinasi Jangan Tunggu Wabah PMK Merebak, Ini Langkah Disnakkan

Merawat Sejarah Lewat Musik

Selain menjadi bentuk ekspresi budaya, Purnama Seruling Penataran juga menjadi sarana edukasi sejarah yang menyenangkan. Banyak peserta yang baru pertama kali mengunjungi Candi Penataran justru merasa lebih terhubung dengan warisan leluhur setelah ikut meniup seruling.

“Kami ingin generasi muda tidak hanya tahu sejarah Blitar lewat buku. Tapi juga merasakannya, memainkannya, menghidupkannya,” kata Riza Aquila, jurnalis Kompas TV Kediri, yang rutin meliput acara ini sejak pertama kali digelar dua tahun lalu.

Acara ini juga kerap disisipi pembacaan puisi, musikalisasi cerita kerajaan, dan penampilan tari tradisional. Semua dilakukan secara sukarela oleh komunitas seni dan warga sekitar yang peduli pada kelestarian budaya.

Baca Juga: Kabar Gembira! BPNT dan PIP 2021 Mulai Cair, Ini Wilayah dan Jenis Bantuan yang Sudah Masuk

Blitar, Rumah Peradaban dan Kreativitas

Purnama Seruling Penataran menjadi bukti bahwa sejarah Blitar bukan sekadar masa lalu yang diam. Ia adalah identitas yang bisa terus diolah dan dihidupkan dalam bentuk baru yang relevan bagi generasi kini. Dengan kreativitas dan semangat kolaborasi, budaya bisa tetap tumbuh di tengah zaman yang serba digital.

Kompleks Candi Penataran yang dulu hanya ramai di siang hari kini punya denyut kehidupan di malam bulan purnama. Dan siapa sangka, denyut itu berasal dari tiupan sederhana seruling bambu.

Editor : Anggi Septian A.P.
#candi penataran #sejarah blitar