BLITAR – Jika selama ini kisah epik Ramayana dan Krisnayana hanya dikenal dari relief Candi Prambanan di Yogyakarta, maka Kabupaten Blitar juga menyimpan narasi serupa—terpahat dengan detail pada dinding bangunan Candi Inti Penataran. Keberadaan relief kisah-kisah ini menjadi bagian menarik dalam sejarah Blitar, yang kerap luput dari perhatian publik nasional.
Relief yang menggambarkan petualangan Rama dan Sinta, serta perjalanan cinta Krishna dan Rukmini, tertata rapi di teras pertama dan kedua bangunan utama Candi Penataran. Hal ini menandakan bahwa ajaran dan nilai-nilai dalam epos Hindu tidak hanya berkembang di pusat kerajaan Mataram Kuno, namun juga menjadi bagian penting dari budaya spiritual masyarakat Blitar di masa lampau. Penemuan ini memperkaya khazanah sejarah Blitar yang selama ini lebih dikenal lewat Prasasti Pala dan warisan Majapahit.
Liputan Kompas TV Kediri menyebut, detail relief di Candi Penataran bahkan masih terpelihara dengan baik. Para pengunjung bisa membaca alur cerita seperti membuka komik batu—dari penculikan Dewi Sinta oleh Rahwana, pertempuran Hanoman, hingga kisah cinta suci Krisnayana. Keberadaan relief ini menjadi bukti bahwa sejarah Blitar memiliki kedalaman spiritual dan budaya yang tak kalah dengan situs-situs sejarah besar lainnya di Indonesia.
Baca Juga: PIP Cair Jelang Tahun Ajaran Baru: Kelas 8 dan 9 Terima Hingga Rp375.000
Komik Batu di Tengah Jawa Timur
Candi Inti Penataran dibangun sebagai bagian dari pengembangan kompleks percandian yang dilakukan oleh Kerajaan Majapahit. Terletak di halaman paling belakang dari kompleks candi seluas dua hektar, bangunan ini menjadi pusat spiritual pada zamannya. Teras demi teras candi menyimpan cerita berbeda, dan justru di sinilah letak keunikannya.
"Relief Ramayana ada di teras pertama, kisah Krisnayana di teras kedua. Ini seperti museum terbuka yang bisa dibaca dari kanan ke kiri," jelas Iva Yunika, reporter Kompas TV Kediri, saat menyusuri jalur relief bersama juru pelihara candi.
Tak hanya menjadi representasi seni tinggi, relief ini juga berfungsi sebagai media edukasi pada masa lalu. Raja, pendeta, dan masyarakat menggunakan cerita dalam relief untuk menyampaikan ajaran moral, nilai kepahlawanan, dan pentingnya kesetiaan dalam kehidupan. Melalui pahatan ini, peradaban kala itu mengajarkan nilai hidup secara visual dan menyentuh.
Baca Juga: Jelang HUT RI ke-80, Persiapan Paskibra Kabupaten Blitar Masih 30 Persen
Menghidupkan Budaya Pop Hindu di Blitar
Dalam dunia modern, kisah Ramayana dan Krisnayana tak asing lagi bagi generasi muda. Tokoh-tokohnya sering muncul dalam pertunjukan wayang, tari, hingga adaptasi film dan serial animasi. Hal inilah yang membuat keberadaan relief di Candi Penataran menjadi jembatan antara sejarah dan budaya pop.
“Waktu saya lihat langsung, seperti nonton scene di film epik Hindu tapi dalam bentuk batu. Detail banget!” ungkap Dinda, seorang mahasiswa seni dari Malang yang datang khusus untuk meneliti ikonografi Ramayana di situs ini.
Pihak pengelola candi pun tak tinggal diam. Mereka mulai merancang tur edukasi yang fokus menjelaskan narasi dalam relief, khususnya untuk pelajar dan mahasiswa yang tertarik pada budaya visual dan sastra kuno. Beberapa komunitas juga sudah mulai membuat konten digital berupa video penelusuran relief untuk TikTok dan YouTube, memperkenalkan warisan sejarah Blitar ke audiens yang lebih luas.
Baca Juga: Bantuan Balita dan SD di PKH Akhirnya Cair: Ini Nominal dan Cara Ceknya
Situs yang Layak Disejajarkan dengan Prambanan
Meskipun belum seterkenal Prambanan, Candi Penataran memiliki keunikan tersendiri. Selain menjadi kompleks percandian termegah di Jawa Timur, narasi relief yang dipahat di bangunan utamanya menunjukkan tingginya estetika dan spiritualitas pada zaman Majapahit.
Menurut Riza Aquila, videografer Kompas TV Kediri, Candi Penataran seharusnya mendapatkan perhatian lebih sebagai alternatif wisata budaya yang edukatif. "Orang luar kota banyak yang nggak tahu bahwa Blitar punya relief Ramayana juga. Padahal suasananya lebih tenang, bisa lebih mendalami cerita yang terukir," ujarnya.
Upaya pelestarian yang dilakukan Balai Pelestarian Cagar Budaya dan komunitas lokal pun terus digalakkan. Selain perawatan fisik situs, edukasi publik menjadi fokus utama agar generasi muda tidak hanya mengagumi keindahan candi, tapi juga memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Baca Juga: BPN-Kemenag Kejar Legalisasi Ratusan Bidang Tanah Wakaf di Kota Blitar
Ramayana & Krisnayana: Warisan yang Hidup Kembali
Relief di Candi Inti bukan sekadar ukiran batu. Ia adalah narasi hidup yang mencerminkan kecerdasan sastra, kesenian, dan ajaran spiritual pada masa kejayaan Nusantara. Dalam satu sudut situs di Blitar ini, pengunjung bisa menyelami cinta sejati, pengorbanan, dan perjuangan dalam wujud pahatan yang telah bertahan ratusan tahun.
“Melihat langsung pahatan Ramayana di Blitar membuat saya sadar, budaya kita sangat kaya. Dan itu ada tepat di halaman rumah sendiri,” ujar Rizki, pelajar asal Nglegok.
Melalui relief-relief ini, sejarah Blitar tidak hanya diceritakan ulang melalui teks atau museum, tetapi dihidupkan secara nyata di Candi Penataran—tempat di mana kisah-kisah besar itu pertama kali dipahat, dan kini kembali menginspirasi generasi baru.
Editor : Anggi Septian A.P.