BLITAR– Siapa sangka, tokoh legendaris yang dikenal sebagai Aryo Blitar ternyata bukan berasal dari Blitar? Temuan mengejutkan ini diungkap dalam serial dokumenter Lorong Zaman yang ditayangkan oleh Radar Blitar TV. Berdasarkan hasil penelusuran sejarah, sosok Pangeran Blitar yang selama ini dianggap lahir dan besar di Blitar, justru memiliki akar kekuasaan di Madiun.
Nama Aryo Blitar memang melekat kuat dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai tokoh pangeran yang berjuang di era Perang Jawa. Namun, menurut penelusuran para peneliti lokal, gelar "Blitar" yang disandang tokoh ini kemungkinan besar tidak merujuk pada tempat lahirnya, melainkan pada nama ibundanya, Nyi Ageng Mas Blitar—seorang bangsawan yang diyakini berasal dari kawasan Blitar.
"Jadi, istilah Pangeran Blitar ini lebih kepada bentuk atribusi garis keturunan dari sang ibu, bukan tempat kelahiran ataupun wilayah kekuasaan aslinya," ungkap Mas Anggi, narasumber utama dalam tayangan tersebut. Fakta ini tentu mengejutkan, karena selama ini Aryo Blitar dianggap sebagai tokoh asli Blitar yang berpengaruh secara lokal.
Baca Juga: Mengupas Masa Kejayaan Kadipaten Aryo Blitar
Asal-Usul yang Tidak Sesuai Asumsi
Nama Blitar dalam gelar Pangeran Blitar selama ini menimbulkan asumsi bahwa ia merupakan tokoh utama lokal. Namun, bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa pusat kekuasaan Sudomo—nama asli tokoh ini—justru berada di wilayah Madiun. Wilayah ini menjadi penting dalam peta kekuasaan masa Amangkurat IV, ayah dari Sudomo.
Dalam video yang ditayangkan Radar Blitar TV, disebutkan bahwa Nyi Ageng Mas Blitar adalah tokoh perempuan bangsawan dari Blitar yang kemudian menikah dengan Amangkurat IV. Dari pernikahan itulah lahir Sudomo, yang kemudian dikenal dengan gelar Pangeran Aryo Blitar, mengacu pada garis keturunan ibunya. “Pemakaian nama Blitar dalam gelar itu lebih bersifat simbolis dan genealogis,” jelas Anggi.
Hal ini menimbulkan debat menarik di kalangan masyarakat dan sejarawan. Apakah identitas lokal bisa ditentukan dari darah ibu, lokasi lahir, atau wilayah kekuasaan? Bagi masyarakat Blitar, jawaban atas pertanyaan ini bisa mengubah cara pandang terhadap tokoh-tokoh sejarah yang selama ini menjadi bagian dari narasi lokal.
Baca Juga: Tentang Makam Adipati Aryo Blitar: Jejak Sejarah Pendiri Kota Blitar yang Wajib Dikunjungi
Blitar vs Madiun: Pusat Kekuasaan Siapa?
Sudomo, yang dikenal sebagai Aryo Blitar, memiliki wilayah kekuasaan dan aktivitas politik yang lebih aktif di Madiun. Dalam konteks sejarah Jawa, Madiun di masa itu memang menjadi salah satu pusat kekuasaan penting setelah Surakarta dan Yogyakarta. Bahkan, dalam beberapa manuskrip yang dikutip dalam tayangan, disebutkan bahwa Pangeran Blitar lebih banyak menghabiskan waktunya di Madiun dibandingkan Blitar.
“Di wilayah Rejotangan atau Kepanjen, memang muncul nama Blitar dalam beberapa narasi, tapi secara administratif dan militer, pusat aktivitas Aryo Blitar justru mengarah ke barat, ke Madiun,” jelas Mas Anggi. Ia juga menyebut bahwa beberapa sumber Belanda menyebutkan Madiun sebagai wilayah penting dalam jaringan kekuasaan lokal di era kolonial awal.
Dengan demikian, gelar Aryo Blitar menjadi semacam penanda afiliasi genealogis dan simbolik, bukan administratif. Ini menimbulkan implikasi besar, karena selama ini banyak tempat di Blitar—termasuk makam dan situs budaya—yang dikaitkan dengan tokoh ini, padahal secara historis belum tentu akurat.
Dampaknya bagi Identitas Lokal
Penemuan ini menjadi tamparan bagi narasi sejarah lokal yang selama ini diterima begitu saja tanpa verifikasi kritis. Masyarakat Blitar tentu saja memiliki kebanggaan terhadap tokoh Aryo Blitar, yang disebut-sebut sebagai pemantik semangat patriotisme dalam Perang Jawa II. Namun, jika tokoh tersebut ternyata berasal dari luar Blitar, bagaimana seharusnya sikap kita?
“Yang penting bukan hanya asal usulnya, tapi nilai perjuangan dan spirit yang diwariskan,” ujar narasumber lain dalam tayangan tersebut. Namun tetap, dari sisi historis dan akademis, pelurusan data ini penting dilakukan agar tidak terjadi anakronisme sejarah, yakni pencampuradukkan waktu dan konteks yang menyesatkan pemahaman publik.
Penelusuran tentang asal-usul Aryo Blitar ini juga menjadi penting untuk keperluan pelestarian cagar budaya. Jika situs petilasan atau makam yang diklaim milik tokoh ini ternyata tidak memiliki kaitan langsung secara historis, maka perlu ada klarifikasi dan pembaharuan narasi dalam konteks pendidikan maupun wisata sejarah.
Mengapa Blitar Tetap Penting?
Meskipun Sudomo alias Aryo Blitar tidak dilahirkan di Blitar, daerah ini tetap memegang peran penting dalam identitas kulturalnya. Nama "Blitar" yang melekat pada tokoh tersebut membuktikan bahwa wilayah ini memiliki citra yang kuat sejak masa lalu. Bahkan, penggunaan nama Blitar sebagai bagian dari gelar bangsawan sudah ditemukan sejak era setelah Panji, yakni ketika para tokoh elite mulai menggunakan gelar-gelar seperti Arya dan Ronggo.
Dengan kata lain, Blitar mungkin bukan asal-usul biologis Sudomo, tetapi tetap menjadi bagian penting dalam narasi historisnya. Nama itu hidup dan diwariskan, bahkan hingga kini, dalam berbagai bentuk penghormatan dan penziarahan.
Menyikapi Fakta Sejarah dengan Bijak
Penemuan bahwa Aryo Blitar sejatinya berasal dari Madiun bukan untuk mengecilkan peran Blitar dalam sejarah Jawa, melainkan untuk meluruskan narasi yang telah lama tercampur antara fakta dan mitos. Klarifikasi ini penting, agar warisan sejarah yang kita terima benar-benar berpijak pada bukti dan logika zaman.
Baca Juga: Sejarah Makam Aryo Blitar, yang Ramai dan Sering di Kunjungi Peziarah
“Bukan berarti Blitar kehilangan pahlawannya. Justru dengan mengetahui kisah sebenarnya, kita bisa lebih menghargai peran Blitar dalam sejarah yang lebih luas,” pungkas Mas Anggi.
Editor : Anggi Septian A.P.