Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Lorong Gelap Panji ke Terang Perang Jawa II: Menelusuri Patriotisme Sudomo di Blitar

Ichaa Melinda Putri • Kamis, 31 Juli 2025 | 19:00 WIB
Dari Lorong Gelap Panji ke Terang Perang Jawa II: Menelusuri Patriotisme Sudomo di Blitar
Dari Lorong Gelap Panji ke Terang Perang Jawa II: Menelusuri Patriotisme Sudomo di Blitar

BLITAR– Sosok Aryo Blitar, atau yang dikenal dengan nama Sudomo, kini kembali diperbincangkan seiring tayangan investigatif Lorong Zaman di Radar Blitar TV yang membedah jejak heroiknya dalam Perang Jawa II. Sudomo digambarkan bukan sekadar bangsawan, tetapi sebagai tokoh yang menyalakan api patriotisme pertama di kawasan Blitar dalam menghadapi penjajahan kolonial Belanda.

Kisah Aryo Blitar menjadi penting karena menunjukkan bahwa perlawanan terhadap penjajahan bukan dimulai dari pusat kekuasaan di Jawa Tengah saja, tetapi juga dari wilayah-wilayah pinggiran seperti Blitar. Di tengah kebangkitan kesadaran nasional hari ini, rekam jejak Sudomo sebagai simbol lokal patriotik semakin relevan untuk diangkat kembali ke permukaan.

Dalam episode terbaru Radar Blitar TV berjudul “Sudomo, Panji, dan Patriotisme Blitar”, diceritakan bagaimana Sudomo tumbuh dari lorong-lorong politik yang gelap di lingkungan Panji, lalu muncul sebagai pemimpin yang gagah berani di medan tempur, melawan pasukan kolonial pada awal abad ke-19.

Baca Juga: Mengupas Masa Kejayaan Kadipaten Aryo Blitar

Dari Intrik Istana ke Medan Perang

Sudomo bukan anak biasa. Ia lahir dari pernikahan antara Amangkurat IV dan Nyi Ageng Mas Blitar—tokoh perempuan berpengaruh dari Blitar. Meski ia dibesarkan di lingkaran kekuasaan Madiun, Blitar memiliki arti penting dalam pembentukan identitas politiknya. Di sinilah ia mulai merasakan ketimpangan sosial dan kebijakan kolonial yang menindas rakyat kecil.

Dalam tayangan dokumenter itu, narasumber Mas Anggi menjelaskan bahwa masa muda Sudomo dipenuhi ketegangan antara kesetiaan pada kerajaan dan rasa keadilan terhadap rakyat yang menderita akibat tanam paksa dan pajak tinggi. Di titik inilah benih perlawanan dalam diri Aryo Blitar tumbuh.

"Sosok Sudomo itu seperti api dalam sekam. Dia diam, tapi mengamati. Dan ketika waktunya tiba, dia meledak menjadi simbol perlawanan," jelas Anggi. Dalam narasi sejarah lokal, ia disebut memimpin sejumlah laskar rakyat dari wilayah Rejotangan, Panataran, hingga ke lereng Kelud untuk melakukan sabotase logistik kolonial.

Baca Juga: Tentang Makam Adipati Aryo Blitar: Jejak Sejarah Pendiri Kota Blitar yang Wajib Dikunjungi

Blitar sebagai Titik Awal Perlawanan

Blitar yang dulu hanya dikenal sebagai wilayah perlintasan, menjadi tempat penting dalam strategi Aryo Blitar. Ia menjadikan daerah ini sebagai basis awal gerakan bawah tanah, sekaligus titik komunikasi dengan para petani dan ulama yang menolak dominasi VOC.

Jejak pergerakan ini bahkan disebut dalam arsip-arsip Belanda sebagai “zona merah” yang menyulitkan suplai logistik pasukan kolonial dari Surabaya ke Kediri. Blitar, yang sebelumnya dianggap tenang, berubah menjadi sarang agitasi politik yang membakar semangat rakyat.

Hal ini pula yang mengukuhkan Aryo Blitar sebagai simbol awal patriotisme lokal, jauh sebelum munculnya nama-nama seperti Diponegoro atau Sentot Alibasya di kancah nasional. Keberaniannya memanfaatkan medan geografis dan dukungan sosial masyarakat membuat Blitar tak lagi dipandang sebelah mata oleh pemerintah kolonial.

Baca Juga: Kegigihan Purwanto Ingin Buktikan Sosok Aryo Blitar, 30 Tahun Lakukan Penelusuruan Berbekal Sejarawan dari UI

Simbol Perlawanan yang Terlupakan

Sayangnya, dalam narasi besar sejarah nasional, nama Sudomo atau Aryo Blitar tidak muncul secara signifikan. Tayangan Lorong Zaman berusaha mengangkat kembali kontribusi besar tokoh ini agar generasi muda tidak hanya mengenal tokoh-tokoh perlawanan dari pusat kekuasaan, tapi juga dari daerah.

Dalam pertempuran yang meletus sekitar tahun 1827—puncak dari Perang Jawa II—pasukan yang dipimpin Aryo Blitar disebut melakukan perlawanan habis-habisan. Bahkan dalam beberapa catatan, ia disebut memilih bertapa di wilayah Gunung Pegat dan menyerahkan hidupnya pada jalur spiritual setelah kehilangan sebagian besar pengikutnya.

"Ini adalah narasi yang mengandung nilai besar. Tentang pengorbanan, keteguhan, dan keyakinan bahwa kemerdekaan itu layak diperjuangkan, bahkan ketika kekuatan kita kalah jumlah," kata Anggi, yang juga merupakan penulis buku "Patriotisme dari Blitar: Sudomo dan Perang yang Dilupakan.”

Baca Juga: Sejarah Makam Aryo Blitar, yang Ramai dan Sering di Kunjungi Peziarah

Inspirasi Sejarah Lokal untuk Nasional

Kisah Sudomo sebagai Aryo Blitar menjadi relevan kembali di tengah krisis identitas sejarah yang kerap melanda generasi muda. Melalui tayangan seperti Lorong Zaman, sejarah lokal bukan hanya menjadi pelengkap pelajaran di sekolah, tapi juga menjadi sumber inspirasi untuk membangun semangat kebangsaan.

Narasi perlawanan Aryo Blitar juga dapat diangkat sebagai bagian dari kurikulum lokal berbasis budaya (local wisdom), sekaligus menjadi bahan konten digital yang edukatif dan viral. Dalam era media sosial saat ini, konten berbasis sejarah yang dikemas menarik memiliki potensi untuk menjangkau jutaan penonton dan membentuk kesadaran kolektif baru.

Tak hanya itu, situs-situs yang berkaitan dengan pergerakan Sudomo di Blitar kini mulai ditelusuri kembali oleh komunitas sejarah. Mereka berharap pemerintah daerah dapat melakukan konservasi dan penandaan agar generasi muda bisa memahami bahwa Blitar bukan hanya kota kelahiran Bung Karno, tetapi juga tempat benih patriotisme telah tumbuh jauh sebelumnya.

Baca Juga: ⁠Impor Pejabat Sekda Kabupaten Blitar Potensi Timbulkan Konflik

Kesimpulan: Blitar dan Api yang Tak Pernah Padam

Melalui tokoh Aryo Blitar, kita diajak kembali ke masa ketika patriotisme bukan sekadar kata, tapi laku nyata. Dari lorong gelap politik Panji, Sudomo muncul sebagai tokoh yang menerangi jalan rakyat melawan ketidakadilan kolonial. Dan Blitar—yang selama ini dianggap periferal dalam sejarah nasional—ternyata menyimpan bara perjuangan yang tak pernah padam.

“Patriotisme tidak selalu berasal dari pusat. Kadang, ia lahir di tempat sunyi, dari suara yang tak terdengar, tapi mengguncang sejarah,” pungkas Anggi.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #Aryo Blitar