BLITAR – Tak banyak yang tahu bahwa nama “Blitar” sesungguhnya bukan hanya sekadar penamaan geografis, melainkan berasal dari sosok sejarah penting yang dikenal sebagai Aryo Blitar.
Ia adalah seorang Adipati yang memimpin wilayah ini pada masa transisi dari kekuasaan Mataram ke era kadipaten lokal. Kisahnya menjadi bukti bahwa Blitar menyimpan sejarah panjang yang berkaitan erat dengan kerajaan-kerajaan besar di tanah Jawa.
Dalam catatan sejarah lisan yang berkembang di masyarakat, Aryo Blitar merujuk pada Adipati Arya Blitar, seorang bangsawan keturunan trah Mataram yang menetap dan memerintah di wilayah yang kini menjadi Kota dan Kabupaten Blitar. Dari sinilah diyakini nama “Blitar” berasal—dari nama sang Adipati itu sendiri.
Baca Juga: Impor Pejabat Sekda Kabupaten Blitar Potensi Timbulkan Konflik
Pengurus Paguyuban Areo Bitar Mataram, Mbah Wujud, menyebutkan bahwa Blitar dulunya merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Mataram Kuno. Setelah terjadinya perpecahan antara Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta, beberapa tokoh trah Kartasura menyebar ke berbagai daerah, salah satunya ke wilayah Blitar.
“Yang pertama kali memimpin di sini adalah Gusti Sudomo, trah Pakubuwono, dan kemudian dilanjutkan keturunannya, termasuk Joko Kandung yang dikenal sebagai Aryo Blitar III,” jelas Mbah Wujud.
Blitar, Nama Orang Sebelum Jadi Nama Wilayah
Nama Aryo Blitar kemudian melekat bukan hanya sebagai gelar, melainkan juga sebagai penanda identitas wilayah. Inilah yang membedakan Blitar dengan daerah lain.
Bila kita menengok daerah seperti Tulungagung atau Ponorogo, tidak ditemukan desa atau kelurahan dengan nama yang sama persis. Namun di Blitar, kita menjumpai Desa Blitar, Kelurahan Blitar, dan Kabupaten Blitar, yang semuanya mengacu pada satu nama: Blitar.
“Blitar itu dulu adalah nama tokoh. Adipati Arya Blitar. Setelah itu baru dijadikan nama wilayah. Jadi sejarahnya jelas. Ini bukan penamaan berdasarkan letak atau alam, tapi berdasarkan figur yang pernah hidup dan memimpin,” tegas Mbah Wujud.
Baca Juga: Mengenal Konsep Ketuhanan Kepercayaan Kapitayan, Sang Hyang Taya
Ia juga menambahkan bahwa makam Aryo Blitar berada di kawasan Jalan Pamungkur, yang dulunya adalah bagian belakang keraton Kadipaten Blitar. Kompleks makam ini menjadi titik penting dalam upaya pelestarian sejarah lokal oleh komunitas adat dan budaya yang tergabung dalam Paguyuban Areo Bitar Mataram.
Dari Kadipaten ke Kabupaten Modern
Wilayah yang dahulu dipimpin oleh Adipati Arya Blitar kini telah bertransformasi menjadi kabupaten dan kota modern. Namun, warisan sejarahnya masih bisa dilacak dari keberadaan situs-situs penting seperti makam Aryo Blitar, petilasan di Gunung Wegah, dan kawasan Terumpu, yang konon menjadi tempat kediaman mertua Joko Kandung, Demang Terumpu.
Proses transformasi dari kadipaten ke kabupaten ini terjadi secara perlahan, seiring dengan berakhirnya kekuasaan tradisional dan masuknya pemerintahan kolonial Belanda.
Namun hingga kini, jejak-jejak sejarah masa lalu itu masih terlihat, terutama dalam struktur sosial dan budaya masyarakat Blitar yang masih menjaga nilai-nilai adat, tradisi nyekar, serta kegiatan ritual budaya lainnya.
Baca Juga: Jangan Salah! Ini Kriteria yang Berhak Menerima PIP, Bukan yang Punya NMAX & Toko 14 Cabang
“Jumat Pahing selalu kami peringati sebagai hari kelahiran Eyang Aryo Blitar. Kami berdoa bersama, mengenang perjuangannya, dan membersihkan makam tanpa pamrih. Semua ini demi menjaga warisan sejarah agar tidak hilang ditelan zaman,” kata Mbah Wujud.
Pentingnya Pengakuan Sejarah Lokal
Meski menyimpan sejarah yang kuat, belum banyak catatan akademis yang secara resmi mengulas tentang Aryo Blitar sebagai tokoh penting dalam dinamika politik Jawa pasca-Mataram. Ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pegiat sejarah lokal yang selama ini berjuang lewat jalur komunitas budaya.
Paguyuban Areo Bitar Mataram telah berkali-kali mengajukan permohonan kepada pemerintah daerah agar memberikan perhatian lebih terhadap pelestarian situs dan pengakuan sejarah. Mereka berharap agar makam Aryo Blitar bisa dijadikan cagar budaya dan sejarah Blitar bisa dimasukkan dalam kurikulum pendidikan lokal.
“Blitar itu punya cerita sendiri. Punya tokoh sendiri. Jangan sampai kita kehilangan identitas karena tidak peduli pada sejarah lokal,” ujar Mbah Wujud.
Warisan untuk Generasi Mendatang
Upaya pelestarian sejarah Aryo Blitar bukan hanya soal menjaga makam atau mengadakan ritual budaya, tetapi juga sebagai bentuk pendidikan karakter. Generasi muda Blitar perlu mengetahui siapa sebenarnya tokoh yang menjadi asal-usul nama kotanya, dan bagaimana perjuangannya dalam menjaga wilayah dari pengaruh asing dan kolonialisme.
Melalui kegiatan seperti nyadran, kirab budaya, dan diskusi sejarah, Paguyuban Areo Bitar Mataram berusaha menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan kearifan lokal. Harapannya, generasi masa depan Blitar tidak hanya bangga pada kotanya, tetapi juga memahami warisan sejarah yang menyertainya.
“Kalau kita tidak rawat sejarah ini, siapa lagi yang akan peduli? Kita tidak ingin hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Maka, mari bersama-sama menjaga nama besar Blitar—nama yang dulunya adalah nama tokoh, bukan sekadar tempat,” tutup Mbah Wujud dengan nada haru.
Editor : Anggi Septian A.P.