Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Makam Arya Blitar Ramai Peziarah Calon Pejabat: Warisan Spiritual atau Gimmick Politik?

Ichaa Melinda Putri • Kamis, 31 Juli 2025 | 18:30 WIB
Makam Arya Blitar Ramai Peziarah Calon Pejabat: Warisan Spiritual atau Gimmick Politik?
Makam Arya Blitar Ramai Peziarah Calon Pejabat: Warisan Spiritual atau Gimmick Politik?

BLITAR– Menjelang tahun politik 2025, fenomena menarik terjadi di situs makam Aryo Blitar yang terletak di wilayah selatan Kabupaten Blitar. Makam tokoh sejarah yang dikenal dengan nama Sudomo itu mendadak ramai dikunjungi sejumlah tokoh, terutama mereka yang disebut-sebut akan maju dalam bursa pencalonan kepala daerah maupun legislatif.

Dalam tayangan investigatif Radar Blitar TV bertajuk “Ziarah Politik: Jejak Kaki di Pusara Arya Blitar”, terungkap bahwa intensitas kunjungan ke makam tersebut meningkat tajam dalam dua bulan terakhir. Dari tokoh muda, mantan pejabat, hingga politisi nasional, semua bergantian menabur bunga dan menundukkan kepala di depan nisan sang pangeran.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan publik: Apakah yang dicari para calon pejabat di makam Aryo Blitar? Apakah ini bentuk penghormatan terhadap warisan spiritual lokal, atau sekadar gimmick politik untuk mencari legitimasi kultural menjelang pemilu?

Baca Juga: Mengupas Masa Kejayaan Kadipaten Aryo Blitar

Aryo Blitar: Tokoh Sejarah atau Juru Restu Politik?

Sudomo alias Aryo Blitar dikenal dalam sejarah lokal sebagai tokoh pejuang anti-kolonial yang hidup pada masa transisi kekuasaan Mataram ke tangan Belanda. Ia dianggap simbol perlawanan, keteguhan, dan semangat patriotik. Namun, belakangan ini, citra spiritual Aryo Blitar tampaknya mengalami “penyesuaian” sesuai kepentingan zaman.

Radar Blitar TV mencatat bahwa ziarah ke makam Aryo Blitar tidak lagi dilakukan hanya oleh peziarah biasa atau pegiat sejarah, tapi sudah menjadi ritual yang nyaris wajib bagi para kandidat yang ingin maju dalam kontestasi politik di Blitar dan sekitarnya.

Menurut sumber lokal yang enggan disebut namanya, ada semacam “pesan berantai” yang berkembang di kalangan elite politik bahwa ziarah ke makam Aryo Blitar dipercaya dapat “membuka jalan kekuasaan.”

Baca Juga: Tentang Makam Adipati Aryo Blitar: Jejak Sejarah Pendiri Kota Blitar yang Wajib Dikunjungi

Antara Tradisi dan Kepentingan Elektoral

Ziarah makam dalam konteks budaya Jawa memang bukan hal asing. Dalam pandangan spiritual masyarakat Jawa, mengunjungi makam leluhur atau tokoh sejarah dianggap sebagai upaya “ngalap berkah” atau mencari restu spiritual. Namun ketika ziarah dilakukan secara seremonial dan berulang menjelang momen politik, batas antara spiritualitas dan kepentingan praktis menjadi kabur.

Sejumlah warganet menyoroti tren ini di media sosial. Ada yang menyebutnya sebagai bentuk pelestarian budaya, namun tak sedikit pula yang menganggapnya sebagai bentuk hipokrisi politik.

“Kalau benar menghormati Aryo Blitar, kenapa hanya datang saat nyalon?” tulis akun @sejarawan_blitar dalam unggahan Instagram yang viral minggu ini.

Baca Juga: Kegigihan Purwanto Ingin Buktikan Sosok Aryo Blitar, 30 Tahun Lakukan Penelusuruan Berbekal Sejarawan dari UI

Narasi Sakral dalam Gempuran Kamera

Dalam tayangan Radar Blitar TV, beberapa ziarah bahkan terekam lengkap dengan dokumentasi kamera profesional, drone, dan narasi doa yang ditulis penuh penghayatan. Adegan seperti ini menimbulkan kesan bahwa ziarah telah menjadi bagian dari “paket kampanye” yang dibungkus dengan label budaya dan spiritual.

Budayawan Blitar, R. Basuki S., menilai fenomena ini sebagai bentuk baru dari apa yang ia sebut sebagai spiritual marketing politik. “Kekuasaan di Jawa tidak pernah benar-benar lepas dari simbol-simbol spiritual. Tapi ketika simbol itu digunakan sebagai alat politik, kita perlu waspada,” ujarnya.

Menurutnya, Aryo Blitar adalah simbol integritas dan keberanian. Mengubahnya menjadi ikon elektoral tanpa pemahaman mendalam justru mereduksi nilai sejarahnya.

Baca Juga: Sejarah Makam Aryo Blitar, yang Ramai dan Sering di Kunjungi Peziarah

Makam Sebagai Ruang Legitimasi Baru

Tidak bisa dipungkiri bahwa makam tokoh sejarah di Blitar kini menjadi ruang baru untuk membangun citra, meraih simpati, dan bahkan membangun narasi koneksi dengan “leluhur Blitar.” Dalam masyarakat yang masih kental dengan nilai-nilai mistis dan budaya Jawa, legitimasi spiritual kadang dinilai lebih kuat dibanding janji politik.

Dalam konteks ini, Aryo Blitar bukan lagi hanya tokoh sejarah, tetapi telah disimbolkan sebagai “penjaga moral politik lokal.” Ziarah ke makamnya bisa dibaca sebagai bentuk komunikasi simbolik: “Saya siap menerima tanggung jawab seperti Arya Blitar dahulu.”

Namun, apakah benar niatnya demikian, atau hanya demi konten kampanye, publik tentu bisa menilai sendiri.

Baca Juga: Jejak Relief Kisah Ramayana hingga Krisnayana Ada di Blitar, Bukan Cuma di Prambanan! Ini Bagian dari Sejarah Blitar

Potensi Wisata Sejarah dan Tantangan Etika

Fenomena ini membawa dampak ganda. Di satu sisi, meningkatnya kunjungan bisa memperkuat posisi makam Aryo Blitar sebagai situs sejarah dan spiritual yang potensial dikembangkan menjadi wisata edukatif. Tapi di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa nilai-nilai luhur yang melekat pada tokoh tersebut akan dikaburkan oleh kepentingan pragmatis.

Sejumlah komunitas sejarah mulai mendorong agar ada edukasi publik yang lebih serius mengenai siapa sebenarnya Aryo Blitar, perannya dalam sejarah, dan pentingnya menjaga kesakralan situs makamnya dari kontaminasi kepentingan elektoral.

“Kami tidak melarang ziarah. Tapi ziarah bukan panggung politik. Itu ruang refleksi,” kata Yuni, koordinator Komunitas Napak Tilas Blitar.

Baca Juga: ⁠Impor Pejabat Sekda Kabupaten Blitar Potensi Timbulkan Konflik

Kesimpulan: Hormat atau Sekadar Formalitas?

Menjelang tahun politik, publik dihadapkan pada pertanyaan klasik yang selalu muncul di tahun-tahun pemilu: Di mana batas antara ketulusan dan kalkulasi? Makam Aryo Blitar, yang dahulu sunyi, kini jadi ruang publik yang gaduh oleh narasi, doa, dan dokumentasi digital.

Pertanyaannya sederhana: apakah para peziarah ini benar-benar ingin menyerap semangat perjuangan Aryo Blitar, atau hanya ingin meminjam auranya untuk mendongkrak elektabilitas?

Publik tentu punya jawabannya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #Aryo Blitar