BLITAR – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern Kota Blitar, ada sekelompok orang yang terus merawat sejarah dan tradisi leluhur tanpa pamrih. Mereka adalah Paguyuban Areo Bitar Mataram, komunitas lokal yang dipimpin oleh sosok sepuh karismatik, Mbah Wujud.
Sejak bertahun-tahun lalu, kelompok ini dengan setia menjaga dan merawat situs makam Aryo Blitar, sekaligus melestarikan budaya spiritual dan ritual tradisi Jawa yang hampir punah.
Makam Aryo Blitar, atau dikenal juga sebagai Adipati Arya Blitar, terletak di kawasan Jalan Pamungkur, Kelurahan Blitar, Kecamatan Sukorejo.
Baca Juga: Impor Pejabat Sekda Kabupaten Blitar Potensi Timbulkan Konflik
Di sinilah dimakamkan sosok Joko Kandung, yang diyakini merupakan Adipati Arya Blitar III dan salah satu tokoh penting dalam sejarah Blitar. Meski kurang dikenal luas secara nasional, jejak perjuangan dan pengaruhnya sangat besar bagi wilayah Blitar.
Paguyuban Areo Bitar tak hanya menjaga kebersihan makam, tetapi juga rutin menggelar kegiatan budaya seperti nyekar pada Jumat Pahing, ritual 1 Suro, hingga pagelaran wayang kulit jika ada dana. Semua itu dilakukan atas dasar panggilan hati untuk melestarikan sejarah dan menghormati leluhur.
Tak Kenal Lelah Merawat Warisan Leluhur
Mbah Wujud, sang penggerak utama paguyuban, mengaku tak pernah mengenal hari libur. Setiap akhir pekan atau tanggal merah, ia justru menyapu dan membersihkan kompleks makam agar tetap rapi dan nyaman bagi peziarah. “Saya tidak mengenal libur. Tanggal merah bagi saya adalah waktu untuk membersihkan makam eyang,” tuturnya.
Semangat yang ditunjukkan Mbah Wujud bukan sekadar kebiasaan, melainkan bentuk pengabdian kepada sejarah dan budaya lokal.
Bersama anggota paguyuban lainnya, ia berupaya memastikan bahwa makam Aryo Blitar tetap menjadi ruang spiritual dan sejarah yang hidup. Bukan hanya sekadar tempat ziarah, tetapi juga pusat pembelajaran nilai-nilai luhur budaya Jawa.
Baca Juga: Bagaimana Konsep Kapitayan dengan Anismisme, dan Dinamisme di Nusantara?
“Orang boleh datang dari mana saja, kami sambut dengan tangan terbuka. Yang penting jangan mengotori atau merusak. Kami hanya ingin tempat ini dihormati sebagaimana mestinya,” tambahnya.
Menghidupkan Tradisi: Jumat Pahing dan Suroan
Salah satu kegiatan rutin yang digelar Paguyuban Areo Bitar adalah ritual Jumat Pahing, yang dipercaya sebagai hari kelahiran Eyang Aryo Blitar. Di hari itu, masyarakat berkumpul untuk nyekar, berdoa bersama, dan mengenang jasa sang Adipati.
Tak hanya itu, pada malam 1 Suro, komunitas ini juga mengadakan acara Suroan dengan adat Jawa yang kental.
Jika memiliki dana, mereka menyelenggarakan pagelaran wayang kulit sebagai bentuk penghormatan terhadap budaya dan spiritualitas leluhur. Jika dana tidak mencukupi, acara tetap digelar secara sederhana, namun khidmat.
Baca Juga: Dari SD Hingga Kuliah Bisa Dapat Bantuan! Ini Jalur Lanjutan PIP ke KIP Kuliah
“Kegiatan wayangan bukan soal hiburan, tapi bentuk doa budaya. Lewat lakon pewayangan, kami menyampaikan pesan-pesan moral dan perjuangan,” jelas salah satu anggota paguyuban.
Menjaga Identitas Blitar Lewat Aryo Blitar
Nama Aryo Blitar tidak hanya merujuk pada tokoh sejarah, tetapi juga merupakan akar dari penamaan daerah ini. Blitar, menurut penuturan para sepuh, berasal dari nama Adipati Arya Blitar. Tak heran jika wilayah ini memiliki Desa Blitar, Kelurahan Blitar, hingga Kabupaten Blitar—semuanya menunjuk pada nama tokoh, bukan sekadar istilah wilayah.
Kesadaran akan pentingnya menjaga nama besar Aryo Blitar menjadi alasan utama mengapa Paguyuban Areo Bitar Mataram terus berjuang. Mereka tidak hanya merawat fisik situs, tapi juga menjaga nilai-nilai historis agar tidak hilang ditelan zaman.
“Blitar ini punya sejarah sendiri. Jangan sampai anak-anak kita tidak tahu siapa yang dulu membangun, siapa yang dulu berjuang. Kalau bukan kita yang jaga, siapa lagi?” ungkap Mbah Wujud penuh haru.
Harapan Akan Pengakuan dan Dukungan
Meski bergerak secara swadaya, paguyuban ini tetap berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. Salah satu harapan terbesar adalah agar situs makam Aryo Blitar diakui sebagai cagar budaya resmi dan dijadikan pusat pendidikan sejarah lokal.
Upaya ini sebenarnya sudah berkali-kali disuarakan, baik ke media, akademisi, maupun instansi terkait. Namun, pengakuan resmi masih belum kunjung datang. “Kami tak berharap apa-apa. Hanya ingin agar sejarah Blitar tidak diabaikan. Ini bukan milik kami, tapi milik semua warga Blitar,” ujar Mbah Wujud.
Perjuangan Senyap Para Penjaga Sejarah
Kisah Paguyuban Areo Bitar Mataram adalah potret kecil dari perjuangan senyap yang terjadi di banyak daerah Indonesia. Di tengah arus modernisasi dan perubahan zaman, masih ada sekelompok orang yang bertahan menjaga warisan budaya. Mereka bukan pejabat, bukan tokoh terkenal, tetapi warga biasa yang sadar akan pentingnya sejarah.
Apa yang dilakukan Mbah Wujud dan rekan-rekannya adalah bentuk nyata cinta tanah air. Tanpa pamrih, tanpa berharap sorotan, mereka terus berjalan dalam senyap demi satu tujuan: agar nama besar Aryo Blitar tidak menghilang dari ingatan generasi mendatang.
Editor : Anggi Septian A.P.