Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Pangeranan vs Petilasan Arya Blitar: Dua Situs, Dua Narasi, Satu Blitar yang Terpecah Sejarahnya

Ichaa Melinda Putri • Kamis, 31 Juli 2025 | 18:00 WIB
Pangeranan vs Petilasan Arya Blitar: Dua Situs, Dua Narasi, Satu Blitar yang Terpecah Sejarahnya
Pangeranan vs Petilasan Arya Blitar: Dua Situs, Dua Narasi, Satu Blitar yang Terpecah Sejarahnya

BLITAR– Dua situs bersejarah di Blitar, yaitu Pangeranan di wilayah utara dan Petilasan Arya Blitar di selatan, belakangan kembali memantik perdebatan publik. Keduanya mengklaim sebagai bagian dari jejak Aryo Blitar, tokoh legendaris yang namanya kerap disebut dalam narasi sejarah lokal. Namun, di balik klaim itu, terdapat dua versi kisah yang berbeda—baik soal tokoh, kronologi, hingga warisan spiritual yang menyertainya.

Dalam laporan Radar Blitar TV bertajuk “Dua Tapak Aryo Blitar: Sejarah yang Terpecah?”, penelusuran tim jurnalis mendapati bahwa masing-masing situs memiliki versi sendiri tentang siapa Aryo Blitar sebenarnya. Di Pangeranan, nama-nama seperti Joko Kandung dan Ronggo Adinegoro sering disebut sebagai figur sentral. Sementara di petilasan selatan, nama Warso Kusumo dan Sudomo (yang konon bergelar Aryo Blitar) lebih dominan.

Perbedaan narasi ini bukan hanya soal nama dan lokasi, tapi juga menyentuh identitas historis Blitar secara keseluruhan. Apakah Blitar punya satu Aryo Blitar, ataukah ada lebih dari satu tokoh dengan nama dan peran berbeda?

Baca Juga: Mengupas Masa Kejayaan Kadipaten Aryo Blitar

Pangeranan: Antara Joko Kandung dan Ronggo Adinegoro

Situs Pangeranan di Blitar utara diyakini sebagai bekas pusat kekuasaan lokal yang eksis sejak masa Demak hingga Mataram. Warga setempat menyebut lokasi ini sebagai tempat tinggal tokoh Joko Kandung, yang dikaitkan dengan jaringan pemerintahan masa Sultan Agung. Di lokasi yang kini banyak dijadikan tempat ziarah itu, nama Ronggo Adinegoro juga muncul sebagai pemimpin lokal dengan pengaruh besar di masa lampau.

Versi sejarah yang berkembang di Pangeranan menyebut bahwa Aryo Blitar adalah gelar lokal yang diberikan kepada penguasa Blitar masa itu, bukan nama satu orang semata. Aryo Blitar dalam versi ini lebih menyerupai jabatan atau status, mirip dengan “Ronggo” atau “Adipati.”

“Di sini Aryo Blitar bukan satu orang, tapi semacam gelar. Dulu ada banyak Arya yang memimpin daerah,” ujar Mbah Karim, juru kunci situs Pangeranan, dalam wawancara eksklusif dengan Radar Blitar TV.

Baca Juga: Akhirnya Polisi Selesaikan Kasus Perundungan Siswa SMP di Blitar dengan Diversi

Petilasan Aryo Blitar: Jejak Sudomo dan Warso Kusumo

Berbeda dengan versi Pangeranan, di wilayah selatan Blitar, terutama di sekitar petilasan yang dikenal sebagai Makam Aryo Blitar, masyarakat memegang teguh kisah Sudomo, seorang prajurit Mataram yang membelot dari kekuasaan dan memilih tinggal di Blitar demi membela rakyat dari penindasan kolonial.

Kisah ini diperkuat dengan narasi lisan tentang Warso Kusumo, yang disebut-sebut sebagai penerus spiritual atau tokoh pendamping dalam pergerakan Sudomo. Di petilasan ini, Aryo Blitar bukan sekadar gelar, melainkan identitas tunggal dari Sudomo yang bertransformasi menjadi simbol perlawanan dan martabat rakyat Blitar.

Menurut juru pelihara makam, Eyang Raji, Aryo Blitar (Sudomo) adalah tokoh nyata yang hidup sekitar abad ke-18 dan wafat setelah berjuang dalam berbagai pertempuran melawan VOC. “Kami punya silsilah, dan bukti lisan dari generasi ke generasi. Ini bukan sekadar cerita rakyat,” tegasnya.

Baca Juga: Kegigihan Purwanto Ingin Buktikan Sosok Aryo Blitar, 30 Tahun Lakukan Penelusuruan Berbekal Sejarawan dari UI

Sejarah yang Terbelah, Publik yang Bingung

Dua situs, dua narasi. Namun hanya satu Blitar. Warga yang mencoba menelusuri jejak sejarah pun kerap bingung—mana versi yang lebih valid? Adakah kaitan antara Joko Kandung dan Sudomo? Apakah Warso Kusumo adalah kelanjutan dari Ronggo Adinegoro, atau tokoh yang berdiri sendiri?

Peneliti sejarah lokal, Bagas Raharjo, mengungkapkan bahwa perbedaan ini wajar dalam sejarah yang berkembang melalui tradisi lisan. “Ketika dokumentasi tertulis minim, sejarah diturunkan lewat cerita dan simbol. Tapi itu juga membuka ruang tumpang tindih antara fakta dan mitos,” jelasnya.

Bagas menyarankan agar pemerintah daerah dan komunitas sejarah Blitar mulai membangun basis data sejarah terpadu, agar tidak terus menerus terjebak dalam ‘sejarah yang terpecah’.

Baca Juga: Sejarah Makam Aryo Blitar, yang Ramai dan Sering di Kunjungi Peziarah

Perebutan Narasi: Politik, Identitas, dan Ekonomi Budaya

Tak bisa dipungkiri, narasi sejarah kini tidak lagi sekadar soal masa lalu, tapi juga menyangkut masa kini—terutama dalam konteks legitimasi budaya dan bahkan ekonomi pariwisata. Situs sejarah yang memiliki klaim kuat terhadap tokoh legendaris tentu berpeluang menjadi magnet wisata ziarah, dan itu berarti pemasukan serta pengaruh sosial.

Inilah mengapa, menurut Radar Blitar TV, terdapat dinamika “rebutan” narasi antara Pangeranan dan Petilasan Arya Blitar. Keduanya ingin tampil sebagai sumber sejarah utama. Namun jika tidak ada sinkronisasi, yang terjadi justru disinformasi dan polarisasi sejarah lokal.

Blitar Butuh Rekonsiliasi Sejarah

Agar tak terus terjebak dalam perpecahan narasi, komunitas sejarah dan tokoh adat di Blitar mulai menggagas “rekonsiliasi sejarah.” Gagasan ini mencoba menggabungkan berbagai versi menjadi satu narasi inklusif yang tidak saling meniadakan, melainkan memperkaya perspektif.

Baca Juga: ⁠Impor Pejabat Sekda Kabupaten Blitar Potensi Timbulkan Konflik

Salah satu ide yang muncul adalah menjadikan Aryo Blitar sebagai identitas kultural kolektif, yang mencakup berbagai tokoh penting dari masa lalu Blitar—baik dari Pangeranan, Petilasan, maupun situs lain yang belum tereksplorasi.

“Sejarah itu tidak harus tunggal. Tapi harus jujur dan saling menghormati,” kata Sukatno, tokoh masyarakat yang ikut mendorong dialog sejarah antar wilayah.

Satu Blitar, Banyak Warisan

Fenomena Pangeranan vs Petilasan Arya Blitar menunjukkan betapa kuatnya pengaruh sejarah dalam membentuk identitas lokal. Di tengah euforia pelestarian budaya dan politik ziarah, penting bagi masyarakat Blitar untuk tidak terjebak dalam dikotomi “siapa yang paling benar,” melainkan melihat sejarah sebagai ruang pembelajaran bersama.

Baca Juga: Jejak Relief Kisah Ramayana hingga Krisnayana Ada di Blitar, Bukan Cuma di Prambanan! Ini Bagian dari Sejarah Blitar

Karena pada akhirnya, Aryo Blitar bukan hanya soal makam atau cerita. Tapi tentang semangat yang diwariskan dari masa lalu, untuk masa depan Blitar yang lebih bersatu.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #Aryo Blitar