BLITAR – Di balik hiruk-pikuk kota Blitar, terdapat sebuah situs sejarah yang menyimpan jejak penting masa lalu. Terletak di Jalan Pamungkur, Kelurahan Blitar, terdapat makam Aryo Blitar atau Adipati Arya Blitar III yang dikenal pula sebagai Joko Kandung.
Sayangnya, keberadaan makam ini belum banyak diketahui publik, meski nilai historisnya sangat tinggi bagi perjalanan sejarah Blitar dan kerajaan-kerajaan lokal di Jawa Timur.
Aryo Blitar bukan sekadar tokoh adat biasa. Ia dipercaya sebagai keturunan dari trah Kartasura, tepatnya putra Gusti Sudomo, bangsawan yang dahulu berperan penting dalam perpecahan Mataram menjadi Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
Baca Juga: 11 Organisasi Kepercayaan Hidup di Kabupaten Blitar, Apa Saja?
Joko Kandung, sebagai Adipati Arya Blitar III, merupakan simbol perlawanan lokal terhadap penjajahan Belanda, dan dikenal bersekutu dengan para keturunan Pangeran Diponegoro dan Untung Suropati.
Jalan Pamungkur sendiri memiliki arti penting. Dalam bahasa Jawa, “Pamungkur” berarti “belakang” atau “punggung.” Lokasi ini dipercaya dulunya adalah bagian belakang keraton Kadipaten Blitar.
Maka tidak heran jika makam Aryo Blitar berada di tempat ini, sesuai tradisi Jawa yang memakamkan bangsawan dekat dengan pusat pemerintahan atau keraton.
Dari Kerajaan Mataram ke Kadipaten Blitar
Blitar, menurut catatan lisan masyarakat adat, dulunya adalah bagian dari wilayah kekuasaan Mataram Kuno. Setelah kekuasaan Mataram pecah, beberapa bangsawan memilih mendirikan kekuasaan baru di wilayah selatan Jawa Timur. Salah satunya adalah Kadipaten Aryo Blitar yang didirikan oleh Gusti Sudomo dan dilanjutkan oleh putranya, Joko Kandung.
Adipati Arya Blitar III atau Joko Kandung dikenal tidak hanya sebagai penguasa, tetapi juga sebagai pejuang yang aktif melawan VOC Belanda.
Bersama beberapa tokoh keturunan kerajaan lain, ia terlibat dalam berbagai gerakan perlawanan di kawasan Blitar dan Malang. Sayangnya, sejarah perjuangannya tidak banyak tercatat dalam dokumen resmi.
Baca Juga: Impor Pejabat Sekda Kabupaten Blitar Potensi Timbulkan Konflik
Saat ini, makam Aryo Blitar yang terletak di belakang keraton lama itu masih terjaga dengan baik, berkat dedikasi masyarakat yang tergabung dalam Paguyuban Areo Bitar Mataram. Komunitas ini berperan besar dalam pelestarian situs serta menghidupkan tradisi-tradisi lokal yang mengakar kuat.
Situs Sejarah yang Terlupakan
Meski menyimpan nilai sejarah tinggi, keberadaan makam Aryo Blitar belum mendapat perhatian yang layak dari pemerintah maupun masyarakat luas. Situs ini nyaris tidak dijadikan destinasi wisata sejarah, padahal letaknya sangat strategis—di tengah kota dan mudah dijangkau.
Mbah Wujud, pengurus Paguyuban Areo Bitar Mataram, menyayangkan minimnya perhatian terhadap situs penting ini. “Padahal ini bukan makam biasa. Di sini dimakamkan tokoh besar Blitar yang ikut berjuang melawan penjajahan. Tapi masyarakat lebih mengenal tempat-tempat wisata modern daripada situs bersejarah ini,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa selama bertahun-tahun bersama warga lainnya, mereka rutin merawat area makam tanpa bantuan pemerintah. Pembersihan dilakukan setiap akhir pekan, dan saat hari-hari khusus seperti Jumat Pahing dan malam 1 Suro, mereka mengadakan ritual budaya dan doa bersama.
Nilai Budaya dan Spiritual
Makam Aryo Blitar bukan sekadar peninggalan sejarah, tetapi juga pusat spiritual bagi masyarakat sekitar. Banyak warga yang datang untuk berziarah, memanjatkan doa, atau sekadar mencari ketenangan batin. “Tempat ini tenang, sejuk, dan penuh makna. Siapa saja boleh datang, asalkan menjaga adab dan kebersihan,” tutur Mbah Wujud.
Setiap Jumat Pahing, masyarakat setempat mengenang hari kelahiran Eyang Aryo Blitar dengan nyekar bersama, berpakaian adat, dan membaca doa-doa leluhur. Ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga cara menjaga warisan budaya agar tidak hilang oleh zaman.
Harapan Akan Pengakuan
Paguyuban Areo Bitar Mataram berharap agar situs makam Aryo Blitar bisa mendapat pengakuan resmi sebagai cagar budaya. Mereka juga berharap agar sejarah Joko Kandung sebagai Adipati Arya Blitar III bisa dimasukkan dalam narasi pendidikan lokal, sehingga generasi muda tahu siapa tokoh di balik nama "Blitar."
“Banyak anak muda yang tidak tahu asal usul nama daerahnya. Padahal Blitar itu bukan sekadar nama wilayah, tapi nama seorang tokoh sejarah. Kalau kita tidak melestarikan, siapa lagi?” kata Mbah Wujud.
Selain pengakuan, mereka juga menginginkan adanya pembenahan fasilitas di sekitar makam agar bisa menjadi situs edukasi sejarah yang layak. Tidak perlu mewah, cukup rapi dan informatif, sehingga masyarakat luas dapat memahami arti penting situs ini.
Merawat Sejarah, Menjaga Identitas
Makam Aryo Blitar di Jalan Pamungkur adalah bukti nyata bahwa sejarah besar bisa tersembunyi di tengah kota. Di balik kesederhanaannya, situs ini menyimpan nilai luar biasa tentang perjuangan, identitas, dan warisan budaya yang patut dijaga.
Blitar bukan hanya tentang Soekarno dan wisata modern. Ada Joko Kandung, ada Aryo Blitar, yang kisahnya masih hidup dalam ingatan masyarakat adat. Melalui upaya pelestarian oleh komunitas kecil seperti Paguyuban Areo Bitar, kita diingatkan kembali pentingnya menghormati sejarah—bukan hanya lewat tugu dan prasasti, tetapi juga dengan menjaga ruang-ruang warisan leluhur yang masih tersisa.