Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Joko Kandung, Pahlawan Lokal Blitar yang Terlupakan: Jejak Perjuangan Melawan VOC Bersama Aryo Blitar

Anggi Septiani • Jumat, 1 Agustus 2025 | 03:30 WIB

Joko Kandung, Pahlawan Lokal Blitar yang Terlupakan: Jejak Perjuangan Melawan VOC Bersama Aryo Blitar
Joko Kandung, Pahlawan Lokal Blitar yang Terlupakan: Jejak Perjuangan Melawan VOC Bersama Aryo Blitar

BLITAR – Nama Aryo Blitar, khususnya sosok Joko Kandung, mungkin belum sepopuler pahlawan-pahlawan nasional yang kita kenal lewat buku sejarah. Namun, jejak perjuangan Adipati Arya Blitar III atau yang dikenal sebagai Joko Kandung, tak bisa dipandang sebelah mata.

Ia disebut-sebut sebagai salah satu tokoh lokal yang ikut bertempur melawan penjajahan Belanda VOC di wilayah Jawa Timur, khususnya sekitar Blitar dan Malang. Sayangnya, hingga kini belum ada pengakuan resmi atas jasanya sebagai pahlawan nasional.

Dalam catatan lisan masyarakat dan penuturan tokoh adat Paguyuban Areo Bitar Mataram, Aryo Blitar bukan sekadar nama tokoh, tetapi juga representasi dari identitas Blitar sebagai bekas wilayah kerajaan.

Baca Juga: Harga Beras di Pasar Tradisional Kota Blitar Cenderung Naik, Ini Penyebabnya

Joko Kandung sendiri diyakini merupakan keturunan langsung dari Gusti Sudomo, salah satu trah Pakubuwono Kartosuro, yang kala itu memilih menetap dan mendirikan Kadipaten di wilayah Blitar setelah perpecahan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta.

Bersama para pejuang dari garis keturunan Pangeran Diponegoro dan Untung Suropati, Joko Kandung atau Aryo Blitar bahu-membahu mengangkat senjata untuk melawan Belanda.

Wilayah Blitar menjadi salah satu titik strategis perjuangan, tempat di mana penjajah diburu hingga ke pelosok Malang. Sayangnya, sejarah perjuangan ini jarang terdokumentasi secara resmi dan lebih banyak hidup dari cerita tutur turun-temurun.

Tak Diakui sebagai Pahlawan Nasional

Salah satu tokoh yang terus menyuarakan pentingnya pengakuan sejarah Joko Kandung adalah Mbah Wujud, pemandu wisata sejarah dan pengurus Paguyuban Areo Bitar Mataram.

Dalam berbagai kesempatan, ia menuturkan bahwa makam Aryo Blitar atau Joko Kandung terletak di kawasan yang kini dikenal sebagai Jalan Pamungkur, tepat di belakang bekas keraton Kadipaten Blitar.

“Sudah saya sampaikan ke banyak pihak. Ke wartawan, ke pejabat, bahkan ke media. Tapi sampai sekarang belum ada sambutan berarti. Padahal Joko Kandung itu berjuang sungguh-sungguh, bersama keturunan pahlawan besar lainnya,” ujar Mbah Wujud saat ditemui dalam sebuah acara ritual Jumat Pahing di situs makam Aryo Blitar.

Baca Juga: Alam Semesta Sebagai Acuan Spiritual Kapitayan di Nusantara, Mengupas Warisan Kepercayaan Nenek Moyang

Menurut Mbah Wujud, perjuangan Joko Kandung harusnya mendapatkan tempat dalam sejarah nasional. Ia bukan hanya tokoh lokal, tetapi bagian dari sejarah perlawanan rakyat Jawa terhadap VOC yang luas dan terorganisasi.

Blitar, Bukan Sekadar Nama Daerah

Nama Blitar sendiri berasal dari tokoh Adipati Arya Blitar. Dalam sejarah lokal, Blitar bukanlah nama yang muncul sembarangan, melainkan penamaan berdasarkan figur. Berbeda dengan nama-nama daerah lain seperti Tulungagung, Kediri, atau Ponorogo yang tidak memiliki nama desa dengan nama sama secara lengkap, Blitar memiliki Desa Blitar, Kelurahan Blitar, dan Kabupaten Blitar di satu wilayah yang saling terkait.

“Ini bukti bahwa Blitar dulunya adalah pusat kekuasaan, bekas kadipaten, bahkan kerajaan. Tapi sayangnya sejarahnya seperti dibiarkan begitu saja,” tambah Mbah Wujud.

Ia bersama komunitasnya tak pernah lelah merawat situs makam Aryo Blitar. Setiap Jumat Pahing dan bulan Suro, mereka rutin menggelar doa bersama, nyekar, dan kadang juga menggelar wayang kulit sebagai bentuk penghormatan dan pelestarian budaya.

Warisan Budaya dan Harapan Masa Depan

Paguyuban Areo Bitar Mataram hingga kini masih aktif menjaga warisan budaya yang ditinggalkan Aryo Blitar. Dari menyapu halaman makam setiap hari libur hingga mengadakan kegiatan budaya, komunitas ini berjuang tanpa pamrih.

Tidak ada pungutan, tidak ada komersialisasi. Semua dilakukan atas dasar cinta terhadap sejarah dan penghormatan kepada leluhur.

“Saya tidak kenal libur tanggal merah. Hari besar saya ya saat nyapu makam eyang,” ungkap Mbah Wujud, menegaskan dedikasinya.

Baca Juga: Mengenal Ritual Kapitayan, Tradisi Leluhur untuk Penghormatan Sang Hyang Taya

Mereka berharap suatu saat nanti pemerintah daerah, bahkan pusat, mau membuka mata terhadap sejarah lokal ini. Minimal, memberikan pengakuan bahwa Joko Kandung alias Aryo Blitar adalah bagian penting dari perjuangan bangsa.

Upaya Melawan Lupa

Narasi besar bangsa ini sering kali hanya mencatat nama-nama besar dari pusat kekuasaan. Padahal, di daerah-daerah seperti Blitar, juga banyak pejuang yang nyawanya dikorbankan demi kemerdekaan.

Joko Kandung adalah simbol dari perlawanan yang terlupakan—satu di antara banyak pejuang lokal yang jasanya belum diangkat ke permukaan.

Kini, lewat gerakan akar rumput seperti Paguyuban Areo Bitar, semangat pelestarian sejarah itu kembali menyala. Mereka bukan hanya menjaga makam, tapi menjaga cerita, menjaga jati diri Blitar, dan menjaga ingatan kolektif bangsa.

Baca Juga: Jangan Salah! Ini Kriteria yang Berhak Menerima PIP, Bukan yang Punya NMAX & Toko 14 Cabang

Sudah saatnya Joko Kandung atau Adipati Aryo Blitar tak lagi hanya dikenal oleh warga sekitar makam, melainkan diakui sebagai bagian dari sejarah nasional. Sebab, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawan—baik yang tercatat di buku, maupun yang masih hidup dalam cerita rakyat.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #Aryo Blitar