Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Mengaku Hanya Orang Biasa, Gus Iqdam Ungkap Alasan Mau Memantaskan Diri

Axsha Zazhika • Jumat, 1 Agustus 2025 | 04:00 WIB

Mengaku Hanya Orang Biasa, Gus Iqdam Ungkap Alasan Mau Memantaskan Diri
Mengaku Hanya Orang Biasa, Gus Iqdam Ungkap Alasan Mau Memantaskan Diri

BLITAR – Tidak semua orang yang mendapat panggilan kehormatan “Gus” merasa pantas dengan sebutan itu. Salah satunya adalah Gus Iqdam, cucu dari ulama karismatik Blitar, Kiai Zubaidi Abdul Ghofur.

Melalui wawancara di channel YouTube NU Kota Blitar, ia blak-blakan mengaku sebagai orang biasa yang kemudian memilih “memantaskan diri” demi tanggung jawab pada panggilan tersebut.

Dalam video itu, Gus Iqdam mengawali ceritanya dengan merendah. “Saya ini sebenarnya orang biasa-biasa saja. Nama asli saya Muhammad Iqdam, hanya karena saya cucu dari Kiai Zubaidi, saya dipanggil ‘Gus’,” ujarnya.

Baca Juga: Harga Beras di Pasar Tradisional Kota Blitar Cenderung Naik, Ini Penyebabnya

Pernyataan jujur ini sontak mencuri perhatian warganet karena jarang ada tokoh muda yang bicara sejujur itu tentang posisinya.

Bagi Gus Iqdam, panggilan itu bukan sekadar titel. Ia mengaku sempat merasa malu dan terbebani. “Mosok diceluk Gus tapi nggak bisa ngaji? Mosok diceluk Gus tapi malah nongkrong merokok di perempatan? Kan isin,” katanya dalam logat Blitar yang kental.

Dari sanalah, kesadaran itu muncul: kalau memang dipanggil Gus, ia harus berproses dan memantaskan diri.

Baca Juga: Mengenal Konsep Ketuhanan Kepercayaan Kapitayan, Sang Hyang Taya

Lahir di desa pelosok Karanggayam, Blitar, Gus Iqdam tidak berasal dari lingkungan kota yang penuh sorotan. Ia menegaskan, statusnya sebagai cucu kiai bukan berarti otomatis ia menguasai ilmu agama atau langsung mendapat posisi terhormat.

“Saya ini juga alumni pondok pesantren, seperti banyak santri lainnya. Tidak ada yang istimewa. Tapi karena darah saya nyambung dengan Mbah Kiai, orang memanggil saya Gus,” jelasnya.

Di balik kesederhanaan itu, ada garis keturunan kuat yang membentuk fondasi spiritualnya. Kakeknya, Kiai Zubaidi Abdul Ghofur, dikenal luas sebagai mursyid tarekat di Blitar Barat.

Baca Juga: Alam Semesta Sebagai Acuan Spiritual Kapitayan di Nusantara, Mengupas Warisan Kepercayaan Nenek Moyang

Bahkan buyutnya, Kiai Ghofur, adalah pendiri Pondok Pesantren Mamba’ul Hikam Mantenan, salah satu pesantren tua di wilayah tersebut. Meski lahir dari keluarga ulama besar, Gus Iqdam justru semakin berhati-hati dengan panggilan Gus.

“Awalnya saya merasa tidak pantas. Tapi kemudian saya berpikir: kalau saya sudah terlanjur dipanggil Gus, maka saya harus memantaskan diri. Itu saja,” ungkapnya.

Langkah memantaskan diri itu dimulai dari hal sederhana: mengaji. Gus Iqdam perlahan membiasakan diri menambah ilmu agama, mengkaji kitab, dan terlibat dalam kegiatan keagamaan.

Baca Juga: Jejak Sejarah Kepercayaan Kapitayan di Berbagai Wilayah Nusantara

Ia juga aktif hadir di acara NU dan ikut membangun jaringan dengan para banom (badan otonom) NU. Baginya, menjadi Gus bukan soal penampilan, melainkan pembuktian.

“Saya mulai mengaji, walau sedikit-sedikit. Saya ikut berjuang di NU, walau awalnya belum tahu harus apa. Tapi setidaknya, saya berusaha. Saya nggak mau hanya jadi Gus di nama, tapi kosong di isi,” katanya dengan tegas.

Sikap itu menyentuh hati banyak warga Blitar. Banyak yang menilai, Gus Iqdam memberi contoh bahwa gelar atau panggilan kehormatan seharusnya menjadi dorongan untuk belajar dan berbuat, bukan sekadar status sosial.

Baca Juga: Jangan Salah! Ini Kriteria yang Berhak Menerima PIP, Bukan yang Punya NMAX & Toko 14 Cabang

Video YouTube NU Kota Blitar yang menampilkan obrolan santai namun dalam dengan Gus Iqdam ini pun ramai dibicarakan.

Banyak warganet meninggalkan komentar positif. “Jarang ada Gus yang ngomong sejujur ini. Salut!” tulis salah satu penonton. Komentar lain menambahkan, “Ini baru anak muda yang tahu diri dan mau belajar.”

Selain bicara tentang panggilan Gus, Gus Iqdam juga menyinggung soal kesadaran spiritual anak muda. Menurutnya, banyak pemuda sekarang yang terjebak pada gengsi, bukan makna.

Baca Juga: Kunci Membangun Generasi Melek Finansial, Warisan Ilmu Berharga Ala Keturunan Tionghoa

“Kalau kita sudah dipanggil Gus, dipanggil kiai, atau apapun, jangan puas. Jangan berhenti belajar. Justru itu harus jadi pemicu untuk makin banyak mengaji,” tegasnya.

Bagi masyarakat Blitar, kisah Gus Iqdam bukan sekadar cerita pribadi. Ia adalah potret bagaimana warisan pesantren dan gelar kehormatan bisa menjadi beban sekaligus berkah.

Dengan kerendahan hati, ia menjadikan panggilan itu sebagai jalan untuk memperbaiki diri dan memberi manfaat bagi sesama. “Dipanggil Gus itu bukan hadiah. Itu tanggung jawab,” pungkasnya.

Editor : Anggi Septian A.P.
#gus iqdam #pengajian #sabilu taubah