Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kerajaan Blitar: Warisan Leluhur Aryo Blitar yang Terlupakan oleh Sejarah Resmi

Anggi Septiani • Jumat, 1 Agustus 2025 | 03:00 WIB

Di balik gemerlap sejarah nasional, Blitar menyimpan warisan kerajaan lokal yang nyaris terhapus dari ingatan: Kerajaan Aryo Blitar. Dipimpin oleh Joko Kandung alias Adipati Arya Blitar III, kerajaan
Di balik gemerlap sejarah nasional, Blitar menyimpan warisan kerajaan lokal yang nyaris terhapus dari ingatan: Kerajaan Aryo Blitar. Dipimpin oleh Joko Kandung alias Adipati Arya Blitar III, kerajaan

BLITAR – Ketika menyebut sejarah Blitar, ingatan publik umumnya langsung tertuju pada Bung Karno. Namun jauh sebelum era kemerdekaan, Blitar sudah memiliki jejak peradaban dan kekuasaan lokal yang kuat.

Salah satu yang jarang terangkat adalah eksistensi Kerajaan Blitar, dengan tokoh sentral seperti Aryo Blitar, atau dikenal juga sebagai Adipati Arya Blitar III.

Nama Aryo Blitar masih hidup dalam ingatan masyarakat adat Blitar, terutama di kawasan sekitar Jalan Pamungkur dan situs makam tua yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhirnya.

Baca Juga: 11 Organisasi Kepercayaan Hidup di Kabupaten Blitar, Apa Saja?

Ia adalah putra Gusti Sudomo, bangsawan pecahan trah Kartasura, yang menetap di Blitar dan mendirikan kekuasaan baru. Sayangnya, sejarah resmi belum banyak mencatat kiprah kerajaan lokal ini secara mendalam.

Aryo Blitar dikenal sebagai tokoh cerdas dan pemberani. Ia tidak hanya menjadi pemimpin wilayah, tetapi juga terlibat dalam dinamika besar Jawa pasca-pemisahan Mataram menjadi Kasunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Sayangnya, kisahnya banyak tenggelam oleh dominasi narasi sejarah dari pusat kekuasaan besar.

Pecahan Kartasura dan Lahirnya Blitar sebagai Kadipaten

Sejarah lisan menyebut bahwa setelah keruntuhan Kartasura akibat pemberontakan dan kekacauan politik, beberapa bangsawan memilih berpencar dan membangun kekuasaan baru. Gusti Sudomo, yang dikenal sebagai abdi setia Keraton Mataram, memilih mundur ke wilayah selatan dan menetap di kawasan yang kini dikenal sebagai Blitar.

Dari pernikahan Gusti Sudomo dengan tokoh perempuan lokal, lahirlah Joko Kandung yang kelak dikenal sebagai Adipati Arya Blitar III. Ia tumbuh di tengah gejolak politik dan mewarisi semangat ayahnya untuk menjaga nilai-nilai leluhur dan kedaulatan rakyat kecil.

Baca Juga: ⁠Impor Pejabat Sekda Kabupaten Blitar Potensi Timbulkan Konflik

Di sinilah awal mula berdirinya Kadipaten Blitar—sebuah kekuatan lokal dengan struktur kerajaan sederhana, namun berpengaruh secara kultural.

Namun, di internal keluarga juga terjadi konflik. Sengguru, saudara tiri Joko Kandung dari istri pertama Gusti Sudomo, menantang legitimasi kekuasaan Joko Kandung sebagai pewaris tahta Kadipaten. Konflik ini menjadi bagian dari dinamika panjang yang memperkaya narasi sejarah lokal, namun sayangnya jarang dicatat secara tertulis.

Sengguru vs Joko Kandung: Perebutan Kuasa yang Terlupakan

Pertikaian antara Sengguru dan Aryo Blitar (Joko Kandung) menandai babak penting dalam sejarah kekuasaan lokal. Keduanya sama-sama memiliki klaim atas kepemimpinan Kadipaten Blitar. Namun, Joko Kandung mendapatkan dukungan kuat dari masyarakat adat karena dinilai lebih bijaksana dan dekat dengan rakyat.

Kemenangan Joko Kandung dalam perebutan kekuasaan inilah yang kemudian memperkuat posisinya sebagai Adipati Arya Blitar III. Ia memindahkan pusat pemerintahan ke wilayah yang kini berada di sekitar Jalan Pamungkur, yang diyakini sebagai area belakang keraton kecil atau pesanggrahan istana Kadipaten.

Meskipun demikian, sejarah resmi belum memasukkan kisah ini dalam narasi pendidikan nasional. Padahal, perebutan kekuasaan ini mencerminkan realitas politik Jawa pada masa transisi dari kerajaan besar ke bentuk-bentuk kekuasaan lokal yang lebih kecil namun tetap signifikan secara budaya dan identitas.

Makam dan Situs Sejarah yang Masih Terjaga

Makam Aryo Blitar yang berada di kawasan Jalan Pamungkur hingga kini masih dijaga oleh masyarakat adat dan Paguyuban Areo Bitar Mataram. Paguyuban ini rutin mengadakan kegiatan nyekar, bersih makam, dan ritual budaya seperti wayangan dan doa leluhur pada malam 1 Suro dan Jumat Pahing.

Sayangnya, keberadaan makam ini nyaris luput dari perhatian pemerintah dan masyarakat umum. Tidak banyak penanda sejarah yang menjelaskan pentingnya tokoh ini dalam pembentukan identitas Blitar. Padahal, jika digali dan diakui, kisah Aryo Blitar bisa menjadi narasi alternatif yang memperkaya sejarah lokal.

Mbah Wujud, juru kunci sekaligus tokoh utama di Paguyuban Areo Bitar, menekankan pentingnya pelestarian situs tersebut. “Sejarah itu bukan hanya milik yang menang, tapi juga milik yang bertahan. Aryo Blitar adalah simbol ketahanan budaya Blitar,” ujarnya.

Saatnya Sejarah Lokal Diakui

Blitar hari ini berkembang menjadi kota bersejarah dan religius. Namun sejarah kejayaan lokal seperti Kerajaan Blitar dan tokoh seperti Aryo Blitar dari peta dan administrasi, identitas sejati sebagai warisan sebuah kerajaan perlahan menghilang.

Sudah saatnya pemerintah daerah dan akademisi menggali lebih dalam narasi ini. Dokumentasi sejarah, riset arkeologis, dan penguatan budaya lokal bisa menjadi langkah awal untuk mengangkat kembali peran Aryo Blitar dan Kerajaan Blitar ke permukaan.

Paguyuban Areo Bitar Mataram sendiri telah memulai langkah tersebut, meski dengan dana dan dukungan terbatas. Mereka percaya bahwa identitas lokal harus dijaga dari akar. Mereka menolak membiarkan makam dan warisan Arya Blitar menjadi sekadar batu tua tanpa makna.

Menulis Ulang Sejarah dari Pinggiran

Cerita tentang Aryo Blitar, Gusti Sudomo, dan Sengguru bukan hanya tentang konflik keluarga kerajaan. Ini adalah potret bagaimana daerah-daerah kecil ikut membentuk wajah sejarah Jawa. Meski tidak tercatat dalam buku-buku sejarah besar, mereka tetap hidup dalam ingatan masyarakat adat, tradisi lokal, dan situs-situs yang bertahan hingga hari ini.

Blitar bukan sekadar kota, melainkan warisan panjang dari kerajaan yang pernah berdiri dan memancarkan cahaya kebudayaan sendiri. Jika tak ditulis dan diakui, maka sejarah ini akan terus menjadi bayangan yang berjalan di belakang—padahal ia layak berjalan sejajar dengan sejarah besar lainnya di Nusantara.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah blitar #Aryo Blitar