BLITAR – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram atau yang akrab disebut gas melon kembali dikeluhkan warga Kabupaten Blitar.
Salah satu laporan paling mencolok datang dari Kecamatan Srengat. Bahkan, stok salah satu pangkalan resmi di wilayah itu dilaporkan mengalami kekosongan dalam beberapa hari terakhir.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Blitar, Darmadi mengatakan, pihaknya langsung bergerak setelah menerima laporan dari masyarakat.
Disperindag tidak hanya melakukan pemantauan lapangan, tetapi juga berkoordinasi dengan pihak Hiswana Migas dan Pertamina selaku pihak yang menaungi para agen dan pangkalan elpiji.
“Berdasarkan laporan yang kami terima, memang ada indikasi kelangkaan di beberapa titik. Di Srengat, misalnya, ada salah satu pangkalan yang dilaporkan mengalami kekosongan stok,” ujarnya, Kamis (31/7/2025).
Namun, setelah dilakukan koordinasi dengan Hiswana Migas, Darmadi menyatakan pasokan elpiji 3 kilogram ke Kabupaten Blitar masih sesuai kuota dan tidak terjadi pengurangan.
Dia menduga kelangkaan bersifat lokal dan temporer, disebabkan lonjakan kebutuhan masyarakat pascalibur panjang sekolah dan menjelang momen peringatan Hari Kemerdekaan.
Darmadi menegaskan, jika masyarakat menemukan pangkalan yang kosong atau ada kecurigaan distribusi tidak tepat sasaran, dia siap menindaklanjuti.
Dia juga meminta warga tidak membeli gas bersubsidi dengan harga tidak wajar karena pangkalan resmi menjual elpiji 3 kilogram sesuai HET (harga eceran tertinggi) yakni Rp 18 ribu.
“Secara distribusi tidak ada pengurangan kuota. Tapi memang dari sisi kebutuhan masyarakat, ada lonjakan. Ini yang membuat seolah-olah terjadi kelangkaan di tingkat pengecer,” ungkapnya.
Sementara itu, Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus, Ahad Rahedi menjelaskan, secara sistem ketersediaan gas di pangkalan resmi Kabupaten Blitar masih terpantau aman.
Dia meminta masyarakat membedakan antara kelangkaan di pengecer tidak resmi dengan stok di jalur distribusi resmi. Dia akan melakukan monitoring ketersediaan gas melon secara berkala.
Sebab, pasokan sudah sesuai kuota yang ada. Jika memang terjadi peningkatan permintaan, bukan berarti barang tidak tersedia di lembaga penyalur resmi.
Mungkin saja di agen atau pangkalan resmi masih tersedia.
“Kalau di pengecer tidak tersedia, kami imbau masyarakat membeli langsung di pangkalan. Karena pangkalan adalah jalur terakhir distribusi elpiji bersubsidi yang resmi,” pungkasnya. (jar/c1/ynu) (*)
Baca Juga: Pilar Kelima Demokrasi: Kritik Tanpa Solusi, Sound Horeg dan Logo HUT dalam Satire Abdel Achrian
Editor : M. Subchan Abdullah