Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Candi Penataran: Penangkal Maut Gunung Kelud yang Disucikan Sejak Zaman Kediri

Anggi Septiani • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 19:30 WIB

Candi Penataran: Penangkal Maut Gunung Kelud yang Disucikan Sejak Zaman Kediri
Candi Penataran: Penangkal Maut Gunung Kelud yang Disucikan Sejak Zaman Kediri

BLITAR – Candi Penataran bukan sekadar kompleks batu tua bersejarah, melainkan simbol spiritual masyarakat Jawa kuno dalam menghadapi ancaman bencana alam. Terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, candi Penataran dibangun pada masa Kerajaan Kediri sebagai bentuk perlindungan magis terhadap kedahsyatan erupsi Gunung Kelud.

Sejarah mencatat bahwa letusan Gunung Kelud telah menjadi momok menakutkan bagi masyarakat sejak abad ke-12.

Dalam menghadapi kenyataan itu, Kerajaan Kediri di bawah pemerintahan Raja Srengga (1190–1200 M) membangun Candi Penataran sebagai sarana pemujaan kepada dewa-dewa, dengan harapan dapat meredam amarah alam yang bersemayam di gunung tersebut.

Baca Juga: Polisi Ungkap Pria Sebatang Kara Warga Kanigoro Blitar Membusuk di Kontrakan

Lokasi candi yang strategis di lereng selatan Gunung Kelud memperkuat keyakinan bahwa candi Penataran memiliki fungsi spiritual sebagai penangkal bencana.

Tidak hanya sebagai tempat ibadah, Candi Penataran dibangun dengan filosofi mendalam yang melibatkan unsur keagamaan Hindu serta kebijakan politik lokal.

Raja Srengga memanfaatkan pembangunan candi sebagai bentuk legitimasi kekuasaan sekaligus penguatan ikatan spiritual antara rakyat, alam, dan penguasa. Keberadaan candi ini menjadi bukti bahwa kearifan lokal dan spiritualitas Jawa kuno tidak bisa dipisahkan dari dinamika sosial-politik kerajaan.

Warisan Kediri yang Dilanjutkan Majapahit

Uniknya, keberadaan Candi Penataran tidak berakhir pada masa Kediri. Candi ini terus digunakan dan diperluas pada masa Kerajaan Majapahit, mencerminkan pentingnya tempat ini secara lintas generasi. Raja Jayanegara, Tribhuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk, hingga Ratu Suhita disebut-sebut turut memperkuat peran candi ini dalam struktur religius dan kekuasaan Majapahit.

Kawasan ini menjadi kompleks candi terluas di Jawa Timur, mencakup area lebih dari 13.000 meter persegi. Perluasan area dan penambahan struktur bangunan seperti Candi Naga, Bale Agung, hingga area Petirtaan menunjukkan adanya kesinambungan pemikiran dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Fungsi Religius dan Struktur Sakral

Sebagai tempat pemujaan, Candi Penataran dilengkapi berbagai struktur simbolik yang mencerminkan keyakinan masyarakat Hindu. Relief kisah Ramayana dan Krishnayana menghiasi dinding candi, menggambarkan nilai-nilai dharma, kesetiaan, dan perjuangan spiritual.

Salah satu bagian yang menonjol adalah arca Ganesha di dalam bangunan yang dikenal sebagai Candi Ganesha. Dewa Ganesha dipercaya sebagai penyingkir rintangan, sangat relevan dengan tujuan awal pendirian candi ini untuk menangkal bahaya Gunung Kelud.

Tak kalah penting adalah area Petirtaan, tempat pemandian suci yang airnya konon tidak pernah kering meski musim kemarau. Air di petirtaan ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual, bahkan masih digunakan oleh beberapa pengunjung untuk cuci muka atau dibawa pulang sebagai berkah.

Baca Juga: Silsilah Kiai Legendaris Blitar: Gus Iqdam dan Jejak Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan

Dwarapala: Penjaga Gerbang Spiritual

Ciri khas utama dari kompleks Candi Penataran adalah kehadiran sepasang arca Dwarapala di gerbang masuk. Dalam tradisi Hindu-Buddha, Dwarapala adalah makhluk penjaga yang melindungi kawasan suci dari kekuatan jahat.

Di Penataran, kedua arca ini dipahat dengan gaya khas Jawa Timur abad ke-14, dengan wajah garang dan tubuh kekar, menjadi simbol pelindung dari mara bahaya yang mengancam dari luar, termasuk erupsi Gunung Kelud.

Struktur Dwarapala yang mengapit gerbang utama mencerminkan pentingnya konsep perlindungan tidak hanya secara fisik tetapi juga secara spiritual.

Situs Gratis yang Penuh Edukasi

Saat ini, Candi Penataran menjadi destinasi wisata sejarah yang terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya masuk. Pemerintah Kabupaten Blitar terus merawat kebersihan dan keaslian situs ini.

Pengunjung diimbau untuk tidak merusak, memindahkan, atau mencoret-coret bagian candi, mengingat situs ini termasuk dalam kategori Cagar Budaya yang dilindungi undang-undang.

Sanksi pidana pun mengancam bagi siapa saja yang merusak situs, dengan ancaman hukuman penjara hingga 15 tahun serta denda hingga Rp2,5 miliar.

Baca Juga: Kenapa Dipanggil Gus? Gus Iqdam Beberkan Rahasia Garis Keturunan Kiai Zubaidi

Akses Mudah dan Waktu Terbaik Berkunjung

Berada sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Blitar, akses menuju Candi Penataran sangat mudah dijangkau baik menggunakan kendaraan pribadi maupun umum. Jam kunjungan dibuka setiap hari pukul 07.00 hingga 17.00 WIB.

Waktu terbaik untuk berkunjung adalah sore hari saat cahaya matahari tidak terlalu menyengat, sekaligus memberikan pencahayaan yang indah bagi penggemar fotografi.

Pemandangan dari atas struktur candi sangat memanjakan mata. Hamparan ladang hijau di sekitar candi serta suasana sejuk di kaki Gunung Kelud menjadikan Candi Penataran bukan hanya situs sejarah, tetapi juga tempat refleksi diri.

Menjaga Warisan, Merawat Ingatan

Candi Penataran menjadi bukti nyata bahwa peradaban Jawa kuno telah lama mengenal konsep mitigasi bencana dalam bentuk spiritual. Bangunan ini bukan sekadar saksi bisu zaman, tetapi juga pesan leluhur tentang pentingnya keseimbangan antara manusia, alam, dan kekuatan ilahi.

Sebagai warisan dari Kediri hingga Majapahit, candi Penataran tetap berdiri tegak di tengah zaman, mengajak kita semua untuk tidak melupakan akar budaya dan sejarah yang telah dibangun dengan pengorbanan, keyakinan, dan kearifan tinggi.

Editor : Anggi Septian A.P.
#candi penataran #sejarah blitar