Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dari Kediri ke Majapahit: Jejak Kekuasaan dalam Kompleks Candi Penataran Terluas di Jawa Timur

Anggi Septiani • Sabtu, 2 Agustus 2025 | 20:00 WIB

Dari Kediri ke Majapahit: Jejak Kekuasaan dalam Kompleks Candi Penataran Terluas di Jawa Timur
Dari Kediri ke Majapahit: Jejak Kekuasaan dalam Kompleks Candi Penataran Terluas di Jawa Timur

BLITAR-Penataran merupakan bukti megah warisan budaya dan spiritual yang menandai kesinambungan kekuasaan dari masa ke masa. Terletak di kaki Gunung Kelud, tepatnya di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Candi Penataran telah digunakan selama lebih dari tiga abad—dari era Kerajaan Kediri, Singhasari, hingga puncak kejayaan Majapahit.

Dengan luas mencapai 13.000 meter persegi, Candi Penataran menjadi kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur. Tak hanya sekadar tempat ibadah, candi ini juga mencerminkan legitimasi politik, kekuasaan, serta kesinambungan spiritual para raja Hindu Jawa. Dari raja Srengga Kediri hingga Suhita dari Majapahit, semua memiliki andil dalam memperkuat status sakral tempat ini.

Jejak para penguasa Nusantara terekam dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di kawasan Candi Penataran. Di antaranya tertulis nama Raja Jayanegara, Tribhuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk, hingga Ratu Suhita, sebagai sosok yang tidak hanya menjaga eksistensi candi ini, tetapi juga memperluasnya sesuai dengan kepentingan politik dan keagamaan masing-masing era.

Baca Juga: Polisi Ungkap Pria Sebatang Kara Warga Kanigoro Blitar Membusuk di Kontrakan

Simbol Keagungan Kekuasaan Lintas Dinasti

Awalnya dibangun pada tahun 1197 M oleh Raja Srengga dari Kerajaan Kediri, Candi Penataran difungsikan sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa dan perlindungan spiritual terhadap Gunung Kelud yang aktif.

Keberadaan candi ini memperlihatkan bagaimana kekuasaan tidak hanya mengandalkan militer, tetapi juga kekuatan simbolik dan spiritual untuk mempertahankan legitimasi.

Pada masa pemerintahan Jayanegara (1309–1328 M), tercatat adanya pemugaran dan penguatan struktur bangunan. Setelah itu, pada era Tribhuwana Tunggadewi, peran Candi Penataran semakin menguat sebagai bagian dari sentralisasi kekuasaan Majapahit terhadap wilayah timur Jawa.

Baca Juga: Silsilah Kiai Legendaris Blitar: Gus Iqdam dan Jejak Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan

Raja Hayam Wuruk, raja terbesar dalam sejarah Majapahit, bahkan tercatat pernah mengunjungi dan memberi penghormatan di candi ini dalam perjalanannya ke daerah timur, sebagaimana tertulis dalam Kakawin Nagarakretagama. Hal ini mengindikasikan bahwa Penataran bukanlah candi lokal biasa, melainkan bagian dari sistem simbolik kekuasaan Majapahit.

Perluasan Fisik dan Arsitektur Megah

Candi Penataran berkembang seiring bertambahnya dukungan dari para raja Majapahit. Luas lahannya yang kini mencapai lebih dari satu hektare merupakan hasil dari proses pemugaran dan pembangunan bertahap yang dilakukan lintas generasi.

Kompleks ini terdiri atas berbagai struktur penting seperti Bale Agung, Pendopo Teras, Candi Naga, dan tentu saja Candi Induk. Bale Agung diduga digunakan sebagai tempat musyawarah para pendeta, sementara Pendopo Teras menjadi tempat sesaji dan peribadatan. Candi Naga sendiri menjadi pusat perhatian karena dililit oleh relief naga serta tokoh-tokoh berbusana raja.

Candi Induk—struktur utama dari kompleks ini—dibangun bertingkat dan menghadap barat. Dinding-dindingnya dipenuhi dengan relief kisah Ramayana dan Krishnayana yang mencerminkan kedalaman ajaran moral dan spiritual Hindu yang dianut kala itu.

Baca Juga: Kenapa Dipanggil Gus? Gus Iqdam Beberkan Rahasia Garis Keturunan Kiai Zubaidi

Prasasti dan Relief: Catatan Kekuasaan

Penemuan berbagai prasasti di sekitar Candi Penataran semakin memperkuat dugaan bahwa tempat ini adalah representasi kekuasaan. Salah satunya adalah Prasasti Palah yang menjadi bukti awal pendirian candi oleh Raja Srengga. Selain itu, terdapat Prasasti Gajah Mada yang menunjukkan peran tokoh Mahapatih legendaris itu dalam urusan religius dan budaya kerajaan.

Relief kisah Ramayana dan tokoh-tokoh raja berpakaian agung di sepanjang dinding candi juga bukan sekadar hiasan. Mereka adalah narasi visual tentang kekuasaan, moralitas, dan panduan hidup bagi rakyat dan bangsawan. Seni pahat yang begitu halus dan monumental menunjukkan bahwa seniman Jawa kuno memiliki keterampilan tinggi serta pemahaman mendalam terhadap budaya istana.

Situs Cagar Budaya Nasional yang Terjaga

Kini, Candi Penataran telah ditetapkan sebagai cagar budaya nasional dan menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling populer di Blitar. Pengunjung tidak hanya dapat menyusuri jejak raja-raja besar Nusantara, tetapi juga merasakan suasana sakral yang masih terasa kuat di kawasan ini.

Setiap sudut candi dijaga dan dibersihkan secara berkala oleh petugas dari Dinas Pariwisata dan Balai Pelestarian Kebudayaan. Akses masuk pun terbuka untuk umum tanpa dipungut biaya alias gratis. Namun, pengunjung diimbau untuk menjaga ketertiban dan tidak menyentuh artefak yang sensitif.

Warisan Kekuasaan yang Relevan hingga Kini

Lebih dari sekadar tumpukan batu kuno, Candi Penataran adalah warisan peradaban Jawa yang menampilkan kesinambungan kekuasaan dan budaya selama ratusan tahun. Ia menjadi bukti nyata bahwa kekuasaan tidak hanya ditandai oleh penaklukan, tetapi juga oleh kemampuan menjaga harmoni spiritual dan identitas budaya.

Dengan segala peninggalan fisiknya, Candi Penataran tidak hanya menyimpan sejarah, tetapi juga menawarkan pelajaran berharga tentang kepemimpinan, spiritualitas, dan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan zaman. Maka dari itu, mengenal dan menjaga Candi Penataran bukan hanya kewajiban warga Blitar, melainkan juga bagian dari kesadaran nasional akan pentingnya melestarikan jejak leluhur.

Editor : Anggi Septian A.P.
#candi penataran #sejarah blitar