BLITAR-Candi Penataran tak hanya megah secara fisik, tetapi juga sarat makna spiritual yang hidup hingga kini. Terletak di kaki Gunung Kelud, Blitar, Candi Penataran menjadi kompleks candi Hindu terbesar di Jawa Timur dan menyimpan kekayaan nilai religius yang tercermin dari relief, arca, serta petirtaan yang mengalir abadi. Lebih dari sekadar destinasi sejarah, situs ini adalah ruang kontemplatif yang menghubungkan manusia dengan alam, dewa-dewa, dan leluhur.
Di dalam kawasan Candi Penataran, pengunjung akan disuguhi relief epik Ramayana dan Krishnayana yang terpahat indah di dinding bangunan utama. Kehadiran kisah-kisah dari kitab suci Hindu ini memperlihatkan bahwa candi bukan sekadar tempat pemujaan, tetapi juga media pendidikan spiritual dan moral pada masa lalu.
Tak hanya itu, arca Ganesha yang berada di salah satu bangunan suci menunjukkan pentingnya pemujaan terhadap dewa pelindung ilmu dan penghalau rintangan. Sementara itu, di sudut lain, terdapat petirtaan—kolam kecil dengan air yang tidak pernah surut—yang dipercaya memiliki daya penyembuhan dan keberkahan bagi siapa saja yang membasuh diri di dalamnya.
Baca Juga: Polisi Ungkap Pria Sebatang Kara Warga Kanigoro Blitar Membusuk di Kontrakan
Relief Ramayana: Cermin Kehidupan dan Spiritualitas
Salah satu kekayaan utama Candi Penataran terletak pada relief Ramayana yang menghiasi dinding-dinding bangunan. Relief ini tidak hanya menggambarkan kisah cinta dan pengabdian antara Rama dan Sinta, tetapi juga nilai-nilai moral seperti kesetiaan, keberanian, dan keadilan. Semua ini tertuang secara runtut dan indah dalam gaya seni pahat Jawa-Hindu klasik.
Relief tersebut dipahat dengan detail luar biasa, menandakan bahwa para seniman masa itu tidak hanya ahli dalam teknis ukiran, tetapi juga memahami secara mendalam narasi spiritual yang mereka gambarkan. Kisah Krishnayana juga ditemukan di beberapa bagian, menambah lapisan simbolik bahwa Candi Penataran merupakan tempat pengajaran nilai-nilai luhur melalui seni visual.
Relief-relief ini diyakini sebagai sarana untuk memperkenalkan nilai-nilai dharma (kebenaran) kepada masyarakat. Selain menjadi alat pendidikan spiritual, ia juga memperkuat posisi candi sebagai pusat kegiatan keagamaan dan legitimasi kekuasaan raja-raja Hindu di masa lalu.
Baca Juga: Silsilah Kiai Legendaris Blitar: Gus Iqdam dan Jejak Pondok Mamba’ul Hikam Mantenan
Arca Ganesha: Simbol Penghalau Rintangan
Di dalam salah satu bangunan penting, pengunjung akan menemukan arca Ganesha yang masih berdiri utuh. Dewa berkepala gajah ini adalah sosok penting dalam kepercayaan Hindu, dikenal sebagai pelindung ilmu pengetahuan, kesuksesan, dan penghalau segala rintangan.
Letak arca yang strategis dan posisinya yang dihormati menunjukkan bahwa Ganesha memainkan peran penting dalam ritus keagamaan di Candi Penataran. Masyarakat dan bangsawan yang datang ke candi ini kemungkinan besar memanjatkan doa kepada Ganesha sebelum memulai ritual besar, sebagai simbol permohonan perlindungan dan kelancaran.
Kehadiran arca Ganesha juga menunjukkan bahwa Candi Penataran bukan tempat pemujaan terhadap satu dewa semata, melainkan bagian dari sistem religi Hindu yang menghormati berbagai aspek kehidupan melalui berbagai manifestasi dewa-dewi.
Baca Juga: Kenapa Dipanggil Gus? Gus Iqdam Beberkan Rahasia Garis Keturunan Kiai Zubaidi
Petirtaan: Air Sakral yang Tak Pernah Kering
Di sisi timur laut kompleks candi, terdapat sebuah petirtaan kecil yang dipercaya mengalirkan air suci sepanjang tahun. Petirtaan ini menjadi salah satu titik penting yang digunakan dalam ritual penyucian, baik oleh pendeta maupun masyarakat umum.
Air yang mengalir dari petirtaan ini disebut-sebut tidak pernah kering, bahkan di musim kemarau panjang. Mitos lokal menyebutkan bahwa air ini memiliki daya spiritual dan bisa membawa keberkahan, kesehatan, serta perlindungan dari gangguan gaib.
Hingga kini, petirtaan di Candi Penataran masih digunakan dalam berbagai upacara adat dan spiritual. Pengunjung yang datang sering membasuh tangan atau wajahnya sebagai bentuk penghormatan sekaligus pengharapan akan berkah.
Baca Juga: Mengaku Hanya Orang Biasa, Gus Iqdam Ungkap Alasan Mau Memantaskan Diri
Candi Penataran sebagai Ruang Spiritualitas Terbuka
Berbeda dengan tempat ibadah yang tertutup, Candi Penataran merupakan ruang spiritual terbuka yang menyatu dengan alam. Tata letaknya yang mengikuti prinsip mandala menunjukkan bahwa desain candi telah mempertimbangkan arah mata angin, aliran energi, dan keterhubungan antara manusia, alam, dan dewa.
Setiap struktur, mulai dari Bale Agung, Pendopo Teras, hingga Candi Induk, menyimpan fungsi ritual yang berbeda, namun terintegrasi dalam satu kesatuan spiritual. Hal ini memperlihatkan betapa dalamnya pemahaman masyarakat Jawa kuno terhadap konsep harmoni kosmik dalam kehidupan.
Warisan Spiritual yang Perlu Dijaga
Candi Penataran kini menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling ramai di Blitar. Namun di balik keramaian itu, ia tetap menyimpan energi spiritual yang bisa dirasakan oleh siapa saja yang mengunjunginya dengan niat baik dan hati terbuka. Di sinilah peran pengunjung dan pemerintah diuji: menjaga bukan hanya bangunannya, tetapi juga nilai dan kesakralan yang hidup di dalamnya.
Melalui Candi Penataran, kita tidak hanya menengok masa lalu, tetapi juga bisa merenungkan nilai-nilai yang relevan dengan kehidupan masa kini—tentang keadilan, pengabdian, perlindungan, serta pentingnya menjaga harmoni dengan alam dan sesama manusia.
Editor : Anggi Septian A.P.