BLITAR – Sebuah video dokumenter tahun 1927 menghadirkan potret langka suasana Kota Blitar tempo dulu, yang kini menjadi bagian tak ternilai dari sejarah Blitar di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
Rekaman hitam putih itu menyajikan visual tata kota yang rapi, bangunan-bangunan bergaya Eropa, alun-alun yang luas, serta suasana pasar dan jalanan yang hidup namun teratur.
Era 1920-an menjadi babak penting dalam perkembangan urbanisasi Blitar. Kota ini bukan sekadar pusat administratif, tetapi juga menjadi simpul ekonomi dan sosial masyarakat. Tata ruangnya mencerminkan perencanaan ala kolonial: alun-alun sebagai pusat, dikelilingi bangunan pemerintahan, sekolah, gereja, dan pemukiman elit.
Baca Juga: Jelang Hari Jadi ke-701 Blitar, Sejumlah Agenda Event Digeber
Semua tersusun dalam pola radial yang mencerminkan dominasi dan kontrol kekuasaan. Jejak-jejak ini menjadi saksi bisu transformasi Blitar dalam perjalanan panjang sejarah Hindia.
Dalam video tersebut, tampak jalan-jalan yang bersih dan lebar, sebagian besar masih berupa tanah berbatu, namun tertata. Lalu lintas belum dipadati kendaraan bermotor, tetapi didominasi oleh pejalan kaki, pengayuh sepeda, hingga kereta kuda.
Tata kota Blitar saat itu memperlihatkan bagaimana pemerintah kolonial merancang kota dengan pendekatan fungsional sekaligus estetis. Dari sinilah kita memahami bahwa kota bukan hanya ruang hidup, tapi juga representasi kekuasaan.
Arsitektur Kolonial: Perpaduan Gaya Eropa dan Lokal
Salah satu hal paling menonjol dari dokumentasi visual 1927 adalah ragam bangunan bergaya kolonial. Balai kota, pendopo kabupaten, sekolah-sekolah Belanda (ELS dan MULO), hingga rumah-rumah pegawai tinggi dibangun dengan ciri khas arsitektur Indis—gabungan gaya Eropa dengan adaptasi tropis. Atap limas, jendela besar, langit-langit tinggi, dan teras luas menjadi ciri dominan.
Bangunan-bangunan ini tidak hanya fungsional, tapi juga menjadi simbol kekuasaan dan peradaban kolonial di tengah masyarakat lokal.
Dalam sejarah Blitar, arsitektur kolonial tidak bisa dilepaskan dari proses pembentukan identitas kota. Beberapa bangunan masih berdiri hingga kini, meski beberapa telah mengalami modifikasi atau pergantian fungsi.
Baca Juga: Gas Melon Mulai Langka di Blitar, Disperindag-Pertamina Turun Lakukan Penelusuran
Contohnya, Stasiun Blitar yang sudah berdiri sejak 1882 masih mempertahankan bentuk asli bangunannya. Bangunan itu menjadi titik mobilitas penting bagi warga dan pejabat Hindia Belanda.
Ada pula gedung eks Karesidenan Blitar yang pernah digunakan untuk berbagai keperluan administratif. Gedung-gedung semacam ini menjadi bagian dari lanskap visual Blitar yang membentuk karakter urban masa lalu.
Tata Kota dan Pola Pemukiman: Terstruktur dan Tersegregasi
Tata kota Blitar di era Hindia menunjukkan pemisahan ruang berdasarkan kelas sosial dan etnis. Kawasan elit Eropa dan priyayi lokal berada di pusat kota, dekat dengan kantor pemerintahan dan fasilitas umum. Sementara kawasan pribumi ditempatkan agak menjauh, dengan infrastruktur yang lebih sederhana.
Pola ini menggambarkan segregasi sosial khas kolonial. Namun, ia juga menjadi dasar struktur kota Blitar hingga hari ini.
Jalan-jalan utama yang menghubungkan alun-alun dengan pasar dan permukiman telah dirintis sejak masa itu. Alun-alun Blitar, misalnya, menjadi titik sentral berbagai aktivitas: mulai dari upacara, hiburan rakyat, hingga tempat interaksi sosial lintas kelas.
Baca Juga: Pensiunan Guru di Blitar Ditangkap Pedagang usai Diduga Edarkan Upal di Pasar Tugu Rante
Pasar tradisional juga memiliki peran sentral. Dalam video dokumenter, terlihat aktivitas jual beli yang hidup, dengan para pedagang menjajakan barang di lapak-lapak sederhana. Pasar bukan hanya ruang ekonomi, tapi juga jantung budaya lokal. Semua ini terekam sebagai bagian penting dari sejarah Blitar dalam bayang-bayang Hindia.
Jejak yang Masih Tersisa Hari Ini
Meski telah mengalami banyak perubahan, beberapa elemen tata kota Blitar tahun 1927 masih bisa dikenali hingga kini. Struktur radial dari pusat kota ke pinggiran masih bertahan.
Alun-alun Blitar masih menjadi pusat keramaian, dikelilingi Masjid Agung, Pendopo, dan gedung perkantoran. Beberapa bangunan kolonial telah difungsikan ulang, seperti menjadi museum, kantor pemerintahan, atau tempat wisata sejarah.
Sayangnya, sebagian warisan arsitektur kolonial telah hilang atau rusak karena alih fungsi, pembangunan modern yang agresif, atau kurangnya perhatian terhadap konservasi. Padahal, jejak-jejak ini merupakan aset sejarah yang penting dalam membangun identitas kota.
Baca Juga: Gagal Cek Dana PIP Online? Ini Cara Alternatif yang Bisa Kamu Lakukan
Kini, dengan meningkatnya kesadaran akan pelestarian budaya, muncul berbagai inisiatif untuk mendokumentasikan ulang wajah lama Blitar.
Video tahun 1927 menjadi referensi penting bagi para sejarawan, arsitek, dan komunitas pecinta sejarah untuk menelusuri kembali bagaimana kota ini dibentuk. Tak hanya dari sisi fisik, tetapi juga dari narasi sosial yang membentuk denyut nadi kehidupan masyarakat.
Editor : Anggi Septian A.P.