BLITAR-Sebuah video dokumenter berwarna hitam putih berdurasi pendek yang merekam suasana Kota Blitar di tahun 1927 menjadi bahan refleksi mendalam atas jejak sejarah Blitar pada masa Hindia Belanda.
Selain merekam visual keberangkatan Bupati Kanjeng Warso Hadiningrat dari pendopo menuju desa, video tersebut menyimpan “narasi sunyi” dalam bentuk suara latar yang unik: frasa-frasa lokal seperti “Jarwi”, “Sowan”, hingga “Eman” yang terus-menerus diulang.
Frasa-frasa itu bukan sekadar latar bunyi. Dalam konteks sejarah Blitar dan warisan budaya Hindia, suara-suara tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami cara masyarakat tempo dulu memaknai kehidupan, kekuasaan, dan spiritualitas.
Baca Juga: Blitar Bukan Cuma Kota Tua, Tapi Kota Wisata Keluarga Paling Komplit di Jatim!
Mereka adalah bahasa batin, yang tak bisa dibaca dengan logika modern semata, tetapi mesti diraba dengan perasaan dan pemahaman terhadap nilai-nilai lokal.
Misalnya kata “Jarwi”, yang dalam bahasa Jawa berarti “maknailah” atau “pahamilah secara mendalam”, diucapkan berulang kali dalam video.
Dalam struktur kebudayaan Jawa, “jarwa dhosok” atau makna tersirat dalam kata menjadi metode pengajaran yang halus namun dalam. Kata “Jarwi” mengajak penonton untuk tidak sekadar menonton, tetapi membaca simbol demi simbol kehidupan masa lampau yang terekam dalam video.
Baca Juga: Polisi Ungkap Pria Sebatang Kara Warga Kanigoro Blitar Membusuk di Kontrakan
Sementara itu, frasa “Sowan”, yang berarti datang menghadap dengan sopan ke orang yang dihormati, menjadi pengingat bahwa masyarakat masa itu menjunjung tinggi adab dan hierarki sosial.
Dalam konteks rekaman perjalanan sang Bupati, “sowan” bukan sekadar kunjungan, tapi juga bentuk relasi kuasa yang penuh etika antara pemimpin dan rakyat. Sowan menggambarkan betapa kuatnya nilai hormat dan tata krama dalam struktur sosial Blitar zaman Hindia.
Kata yang paling emosional dalam video tersebut adalah “Eman”, yang berarti “sayang” atau “disayangkan”. “Eman, eman, eman…” diucapkan berulang dalam nada lirih, seolah menjadi ratapan terhadap sesuatu yang hilang atau terlupakan. Dalam tafsir budaya, “eman” bisa berarti penyesalan kolektif atas lunturnya nilai-nilai lokal yang dulu hidup dalam keseharian rakyat Blitar.
Baca Juga: Blitar Bukan Cuma Kota Tua, Tapi Kota Wisata Keluarga Paling Komplit di Jatim!
Jika diamati lebih dalam, narasi bunyi ini seperti doa, seperti kidung lirih dari masa silam yang ingin menyampaikan pesan kepada masa kini.
Ia adalah jejak spiritual yang terekam dalam lapisan suara—tak kalah penting dibanding citra visual yang ditampilkan. Melalui bunyi-bunyian itu, masyarakat tempo dulu seakan menyuarakan isi hati mereka: tentang keteraturan, kearifan lokal, dan harapan untuk tidak dilupakan.
Dalam konteks sejarah Blitar, nilai-nilai yang tercermin dari frasa-frasa tersebut sejalan dengan watak masyarakat agraris yang hidup berdampingan dengan alam dan sesama dalam harmoni.
Baca Juga: Bukan Anak Kota, Ini Perjalanan Gus Iqdam dari Desa Karanggayam hingga Jadi Figur NU Muda
Budaya tutur yang sarat makna dan kesantunan menjadi warisan yang tak ternilai harganya. Kata-kata sederhana menjadi kendaraan untuk menyampaikan pesan yang kompleks: antara spiritualitas, adat, hingga kritik sosial yang halus.
Sayangnya, dalam perkembangan zaman dan derasnya arus modernisasi, banyak frasa dan nilai-nilai lokal itu kian jarang terdengar.
Generasi muda mungkin tak lagi akrab dengan kata “jarwi” atau “eman”, bahkan tidak memahami makna terdalam dari “sowan”. Padahal, kata-kata ini adalah bagian dari identitas kultural yang membentuk karakter masyarakat Blitar sejak masa Hindia.
Baca Juga: Bukan Anak Kota, Ini Perjalanan Gus Iqdam dari Desa Karanggayam hingga Jadi Figur NU Muda
Video dokumenter 1927 tersebut seolah menjadi cermin bagi kita hari ini—memantulkan kembali siapa kita dulu, dan sejauh apa kita telah menjauh dari akar. Ia tak hanya memperlihatkan peristiwa visual, tapi juga merekam kehadiran emosi, spiritualitas, dan bahasa sebagai penyambung memori antar generasi.
Melestarikan sejarah Blitar berarti bukan hanya menyimpan arsip atau mendirikan tugu peringatan.
Tetapi juga menghidupkan kembali narasi-narasi batin seperti ini—dari “jarwi” hingga “eman”—dalam pendidikan, kesenian, bahkan keseharian kita. Video itu adalah warisan naratif, bukan hanya catatan pasif.
Baca Juga: Dana PIP Sudah Masuk Tapi Gagal Diakses? Ini Penjelasan dan Solusinya
Dalam kebisingan zaman sekarang, suara lirih dari masa lalu ini patut kita dengar kembali. Karena siapa tahu, justru dalam lirih itulah terdapat kebijaksanaan yang kita cari.
Narasi sunyi tahun 1927 itu bukanlah kenangan kosong, melainkan panggilan untuk kembali “jarwi” dan “sowan” pada nilai-nilai luhur yang selama ini mungkin kita anggap telah “eman”.
Editor : Anggi Septian A.P.