Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Dulu Gus Montoran, Sekarang Ustaz Idola Anak Racing: Cerita Kenakalan yang Berbuah Dakwah

Findika Pratama • Senin, 4 Agustus 2025 | 21:30 WIB

Dulu Gus Montoran, Sekarang Ustaz Idola Anak Racing: Cerita Kenakalan yang Berbuah Dakwah
Dulu Gus Montoran, Sekarang Ustaz Idola Anak Racing: Cerita Kenakalan yang Berbuah Dakwah

BLITAR – Siapa sangka, sosok pendakwah muda yang kini digandrungi ribuan jamaah milenial, dulunya adalah anak MTS yang dikenal bandel, hobi standing dan jumping motor. Dialah Gus Iqdam, tokoh muda NU yang kini menjadi panutan tak hanya di Blitar, tapi juga banyak komunitas anak racing di Jawa Timur.

Dalam sebuah pengajian terbuka yang digelar di Blitar, Gus Iqdam secara terbuka membagikan kisah masa lalunya yang penuh kenakalan. “Saya ini dulu nakal. Hobiku montoran. Bahkan waktu di MTS Kunir, saya suka banget sama yang namanya standing. Lha ya, belum sadar waktu itu,” tutur Gus Iqdam, disambut tawa dan decak kagum para jamaah.

Kini, nama Gus Iqdam tidak hanya harum di kalangan santri, tapi juga menjadi inspirasi di kalangan anak muda yang sebelumnya jauh dari dunia ngaji. Mayoritas jamaahnya kini berasal dari komunitas motor, anak-anak racing, hingga pecinta modifikasi. Sebuah transformasi luar biasa yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Baca Juga: Fantastis, Perputaran Uang Program ASN Blitar Belanja di Pasar Tradisional Tembus Rp 1 M dalam Sehari

“Dulu Saya Anak Terburuk di Keluarga”

Dalam penuturannya yang jujur dan merendah, Gus Iqdam juga mengakui bahwa dirinya adalah anak yang paling “gagal” dibanding saudara-saudaranya. “Mas dan Mbak saya hafal Qur’an, mondok di Malang, ada yang jadi mantunya Kiai. Saya? Ya saya nakal, nggak berprestasi,” kenangnya.

Namun titik balik terjadi ketika sang ayah, dengan cara halus, mendorongnya untuk mulai mondok. “Le, mondok to. Mosok putune Mbah Kiai ora gelem mondok,” kata sang abah. Saat itu Gus Iqdam tidak berpikir panjang, karena dorongan itu datang dari rasa hormat pada keluarga dan budaya pesantren.

Maka ia pun mondok. Bukan karena niat mulia mencari ilmu, tapi sekadar “pantes-pantes”, agar tidak malu jadi cucu seorang kiai. “Saya mondok bukan karena sadar waktu itu. Tapi ternyata dari situlah semuanya berubah,” jelas Gus Iqdam.

Baca Juga: Siap-siap Suasana Berbeda, Pemkot Blitar Ubah Format Upacara HUT ke-80 RI di Alun-Alun

Kena Hidayah lewat Motor

Yang unik, menurut Gus Iqdam, kecintaannya pada dunia motor justru menjadi pintu dakwah. Jamaah pertamanya sebagian besar adalah anak-anak muda yang sama-sama suka motoran. Bahkan, tidak jarang pondok tempat ia mengajar dijadikan tempat parkir anak-anak yang mau balapan.

“Kalau dulu saya nyusahin masyarakat, sekarang yang datang ke ngaji justru anak-anak seperti saya dulu. Motor diparkir di pondok, niatnya balapan, tapi malah ikut ngaji. Allah memang Maha Membolak-balikkan hati,” ujar Gus Iqdam dengan nada syukur.

Kini, Gus Iqdam menginspirasi ribuan pemuda yang merasa “tidak layak” jadi baik. Ia menunjukkan bahwa hidayah bisa datang lewat hal-hal sederhana, bahkan lewat knalpot motor yang dulunya jadi sumber kegaduhan.

Baca Juga: Melihat Pos Curhat Kenasih di Kelurahan Pakunden Blitar yang Jadi Tempat Aman untuk Curhat

Gus Iqdam dan Dakwah Jalanan

Gaya dakwah Gus Iqdam yang santai, penuh humor, dan dekat dengan kehidupan anak muda membuatnya cepat diterima. Ia tidak menggurui, justru sering membuka pengajian dengan cerita-cerita lucu masa lalunya.

Dalam banyak pengajian, ia tak segan tampil dengan gaya kasual: celana jeans, kaus, dan jaket motor. Di sisi lain, ia tetap menyampaikan pesan-pesan agama yang kuat, diselipkan dengan analogi-analogi khas anak jalanan.

“Yang penting bukan penampilan, tapi isi kepala dan isi hati. Dakwah harus bisa menyentuh semua kalangan,” tegas Gus Iqdam.

Baca Juga: Jejak Sejarah Lahirnya Kepercayaan Sapta Dharma, Makna Sujud Menghadap Timur

Dari Blitar untuk Indonesia

Kini, nama Gus Iqdam menjadi magnet pengajian-pengajian besar. Ribuan orang hadir ke majelisnya, baik secara langsung maupun lewat siaran daring. Bahkan beberapa selebriti motor dan influencer lokal pernah terlihat hadir dan menyebut nama Gus Iqdam dalam konten mereka.

NU Kota Blitar menyebut Gus Iqdam sebagai contoh regenerasi dai muda yang tidak kehilangan akar tradisi, namun mampu menjangkau generasi digital. “Beliau membawa semangat baru dakwah yang membumi, tapi tetap punya kedalaman ilmu dan ketulusan akhlak,” ujar salah satu tokoh NU Blitar.

 

Editor : Anggi Septian A.P.
#gus iqdam #sabilu taubah