BLITAR – Di tengah keluarga santri yang penuh prestasi, Gus Iqdam pernah merasa sebagai anak paling gagal. Kakak-kakaknya hafal Al-Qur’an, kuliah di kampus ternama, bahkan menjadi menantu para kiai. Sementara dia? Dikenal nakal, tak punya prestasi akademik, dan justru membuat malu keluarga.
Dalam sebuah pengajian di Blitar, Gus Iqdam secara terbuka mengenang masa lalunya yang kelam. “Saya ini dulu anak paling nakal, paling bandel. Dari empat saudara, saya yang paling tidak berprestasi. Kakak saya hafizah, satunya mondok di Malang, pinter-pinter semua. Saya? Hobinya montoran, standing, balapan,” ungkapnya jujur, membuat hadirin terdiam.
Kini, Gus Iqdam justru jadi panutan bagi ribuan anak muda. Gaya dakwahnya yang santai, otentik, dan penuh kejujuran membuat ia diterima luas oleh generasi milenial dan Gen Z. Banyak yang tak menyangka, sosok yang dulu dianggap “beban keluarga” kini justru jadi pelita di dunia dakwah modern.
Baca Juga: Siap-siap Suasana Berbeda, Pemkot Blitar Ubah Format Upacara HUT ke-80 RI di Alun-Alun
Dulu Dianggap Aib, Kini Jadi Harapan
Gus Iqdam tak segan mengakui, masa remajanya jauh dari kata baik. Saat kakak-kakaknya sibuk menghafal Al-Qur’an dan mengaji, dia justru lebih sibuk mengurusi motor dan nongkrong. Bahkan, saat lulus dari MTS Kunir, ia mengaku tidak punya gambaran masa depan.
“Saya ini dulu sempat merasa jadi aib keluarga. Cucu kiai, tapi bandel. Apalagi saya terakhir sendiri, anak bungsu. Ya kerasa banget dibanding-bandingkan,” ucapnya mengenang.
Namun, dari rasa malu itu muncul dorongan untuk berubah. Ayahnya, yang dikenal sebagai sosok bijak, menasihatinya dengan lembut tapi tegas. “Le, mondoko. Mosok putune Mbah Kiai ora gelem mondok,” katanya. Nasihat itulah yang akhirnya mengantarkannya ke pesantren, meski awalnya tanpa niat sungguh-sungguh.
Baca Juga: Peluang Cuan Pertanian Hidroponik Makin Dilirik Sebagian Masyarakat di Blitar Terutama Kalangan Muda
Mondok Karena ‘Dipaksa’, Pulang dengan Hidayah
Gus Iqdam mengaku, keputusannya mondok bukan datang dari kesadaran penuh, tapi sekadar “pantes-pantes” agar tidak mempermalukan keluarga. Tapi justru di pesantren itulah, hidupnya perlahan berubah. Ia mulai menemukan makna dalam ibadah, mengerti nilai ilmu, dan belajar menghadapi diri sendiri.
“Allah ngasih hidayah itu kadang lewat jalan yang enggak kita duga. Saya mondok bukan karena semangat belajar, tapi karena tekanan. Tapi dari situ saya jadi tahu, ternyata saya ini salah arah selama ini,” ujarnya.
Kini, pondok menjadi tempatnya berdakwah, bukan hanya tempat menimba ilmu. Di tempat yang dulu hanya ia datangi karena keterpaksaan, sekarang ratusan jamaah muda datang untuk mendengarkan kajian darinya.
Baca Juga: Jejak Sejarah Lahirnya Kepercayaan Sapta Dharma, Makna Sujud Menghadap Timur
Dakwah untuk Mereka yang Pernah Tersesat
Kejujuran Gus Iqdam tentang masa lalunya justru menjadi kekuatan dakwah. Ia tidak tampil sempurna, tidak bicara tinggi-tinggi. Ia lebih suka menyampaikan kisah pribadinya: tentang kenakalan, kesalahan, dan bagaimana semua itu bisa berubah jika mau membuka hati.
“Kadang orang itu malas ngaji karena yang ceramah seolah-olah suci semua. Saya enggak gitu. Saya dulu juga pernah nyusahin orang. Pernah dianggap gagal. Tapi Allah tunjukkan jalan kalau kita mau berubah,” katanya.
Pendekatannya yang membumi membuat banyak anak muda merasa diterima, bukan dihakimi. Ia dikenal dekat dengan komunitas motor, anak-anak racing, hingga remaja jalanan. Bagi mereka, Gus Iqdam adalah bukti hidup bahwa setiap orang punya kesempatan kedua.
Baca Juga: Sujud Menghadap Timur, Ritual Suci Pada Kepercayaan Sapta Dharma
Jadi Cermin Harapan untuk Banyak Keluarga
Kini, banyak orang tua yang membawa anaknya ke pengajian Gus Iqdam bukan hanya untuk mengaji, tapi juga untuk menunjukkan bahwa perubahan itu mungkin. Bahwa anak yang hari ini bandel dan sering membuat masalah, bisa jadi berkah di masa depan.
NU Kota Blitar mengapresiasi dakwah Gus Iqdam sebagai representasi tokoh muda yang mampu menyentuh lapisan masyarakat yang selama ini sulit dijangkau. “Beliau adalah cermin harapan. Dari yang dulu dianggap gagal, sekarang jadi panutan,” ujar salah satu tokoh NU Blitar.